Beberapa peristiwa berulang dan kita terpaksa menjalankannya, seperti penerimaan rapor; upacara hari Senin; dan tentu saja salat Jumat. Begitu pun dengan buku, ada berbagai jenis buku yang sepanjang hidup menghampiri dan kita kadang terpaksa membacanya. Karena dibaca secara terpaksa, sebagian besarnya menjengkelkan, tetapi ada juga yang kadang menghibur. Saya memiliki daftar untuk beberapa jenis buku seperti itu:

[1] Buku Saku Pramuka

Untuk memahami sandi bekerja dan bendera kuning-merah menyampaikan makna, buku ini adalah buku wajib. Saya menamatkannya di setiap jenjang sekolah: SD sampai SMA. Waktu SMP, ketika saya mewakili sekolah saya pada lomba sandi morse, pendengaran saya terlalu bagus bekerja, peluit yang dibunyikan dengan dua nada: pendek dan panjang, sebagian besar berhasil saya baca. Saya menang, tetapi nasib buruk tiba-tiba datang. Teman satu sekolah saya berencana mengungkapkan cinta ke pujaan hatinya, menulis dengan menggunakan sandi morse. Dia meminta pertolongan saya untuk membuatkannya, hampir dua baris kertas sidu hanya memuat kata “aku mencintaimu” tentu dalam bentuk sandi morse.

Baca juga: Mengapa Kita Enggan Membaca?

Saya membuatkannya karena dia sahabat sekaligus orang yang sering saya tumpangi rumahnya menginap sewaktu masih SMP. Saya baru dibuat kaget pas dia menjawab pertanyaan saya, “kau mau tembak perempuan yang mana”. Sambil merebut kertas dari tangan saya yang sudah terisi sandi morse, “Tentu saja Adilla,” katanya.

Sialan, itu perempuan pertama yang saya taksir sejak pindah dari madrasah ke SMP. Malam harinya, kawan saya membawa gitar sambil membisiki telinga saya: “diterima bro”. Sialan, suaranya lebih menyakitkan dari malaikat Izrail.

[2] Buku Yasinan

Sepupu kecil saya baru saja meninggal. Dia tenggelam di permandian Lejja Soppeng, ketika pergantian tahun baru memasuki hari kedua. Buku sakti itu, setelah sekian lama baru kembali saya buka. Betapa lekuk hurufnya tidak berubah. Di belakang sampulnya masih saja muka perempuan itu. Buku yang hanya berjumlah enam puluh halaman lebih itu sepanjang ingatan saya adalah buku yang laris dibuka setiap malam Jumat.

Baca juga: Mereka yang Mengendap dan Membaca Bertumpuk-tumpuk Buku

Semua tetangga saya hampir semua memilikinya, ia boleh tidak pernah membaca buku Penjaskes dan Kewarganegaraan selama ia pernah membaca buku Yasinan. Buku jenis ini juga yang setiap ada orang meninggal, waktu saya masih sekolah di madrasah, memaksa saya memakai baju yang memiliki dua kantong. Sambil mendengar orang-orang menangis dan membaca semua huruf yang tidak pernah berubah itu, seseorang yang baik hati berjalan berkeliling mengisi salah satu kantong kami dengan selembar amplop.

[3] Buku Tabungan Bank

Saya akhirnya memiliki buku tabungan bank sendiri, baru ketika menjadi mahasiswa. Itu adalah buku tabungan pemberian dari pihak pemberi beasiswa (berarti rakyat Indonesia, bukan pemerintah atau pihak kampus). Setiap tiga bulan saya mencetaknya dan sepanjang sejarah saya membaca, inilah buku dengan hanya puluhan halaman yang bisa saya tamatkan dengan satu kali tarikan napas. Saya menyukai angka-angka di dalamnya, kecuali saat ia tertulis “Rp 0”.

Baca juga: Ingatan Cuaron Tentang Meksiko, Dua Wanita Tabah yang Beda Kelas

Saya baru berhenti menamatkan buku itu setiap tiga bulannya, saat memasuki semester sembilan. Rakyat Indonesia dan saya memiliki kesepakatan hanya membebankan mereka pembayaran selama delapan semester. Sejak berpisah dengan buku ini, lima semester berikutnya yang saya lalui adalah masa-masa paling getir, sampai tali toga sialan itu dipindahkan dua detik dari seseorang gemuk yang entah siapa namanya.

[4] Buku Kamasutra

Bukunya berwarna hitam. Saya temukan di bawah tumpukan baju Paman ketika saya masih menumpang di rumahnya, tiga bulan lebih setelah saya juga menemukan kaset CD porno di tempat yang sama yang saya kira kaset nasihat pernikahan. Saya baru membuka buku itu ketika keluarga Paman saya tidak ada di rumah. Dari buku itu, saya pernah menggurui teman saya yang akan menikah.

Baca juga: Humor sebagai Hiburan untuk Menertawai sekaligus Menghinakan Orang Lain

Saya masih ingat dalam buku itu, jika kau berhubungan badan dan terus memompa ke arah kanan, anakmu akan berjenis kelamin laki-laki, jika sebaliknya berarti perempuan. Saat istri teman saya melahirkan anak perempuan mereka, saya membisiki teman saya: “Sebelah kiri yah?”. “Wah saya sudah lupa,” katanya sambil menanyakan, apakah saya percaya dengan buku itu. Tentu saja belum waktunya dicoba. Tak lama, saya terbangun di pagi hari.

[5] Buku Absensi Siswa

Saking ajaibnya buku ini, halaman pertama sampai halaman penutup semuanya memuat isi yang sama: nama dan nis. Buku yang memaksa orang-orang yang setiap kali saya sebut namanya dulu ketika magang mengajar, harus menjawab: “hadir Pak”; “Izin olimpiade”; “sakit bede Pak, barusan dia WA”. Buku ini juga yang satu-satunya membuat orang-orang takut ketika namanya bersanding dengan huruf-huruf “a”.

Tetapi di antara kelima buku di atas, saya akan menamatkan buku berikutnya (kalau perlu setiap bulan) dan sekaligus menjadi daftar penutup dalam tulisan ini. Semoga kau sama dengan saya untuk yang satu ini:

[6] Buku Nikah kita.

Amin.

BACA JUGA artikel Muhammad Arifin lainnya di sini

Facebook Comments
No more articles