Kami sedang bersedih, pimpinan kami di sekolah telah memasuki masa bakti yang membuatnya tak lama lagi harus segera berpindah kerja. Aturan membatasi lama masa bakti seorang kepala sekolah di suatu sekolah. Hal inilah yang membuat kepala sekolah saya sedang berkemas-kemas dengan sedikit cemas untuk mencari tantangan baru.

Di penghujung masa bakti yang tak lagi genap setahun di sekolah kami, sambil berseloroh ia sering membagikan banyak pengetahuan tentang arti sebuah kepemimpinan. Mulai dari kompetensi, manajemen, hingga persoalan keuangan.

Hingga suatu hari ia menyebutkan tantangan berat menjadi seorang kepala sekolah. “Hal tersulit dari menjadi seorang kepala sekolah adalah men-supervisi guru”, katanya di depan beberapa rekan guru yang sedang mendaftarkan diri untuk menjadi seorang calon kepala sekolah.

Sebelum ia melanjutkan wejangannya, kepala saya lebih cepat sepersekian detik mempertanyakannya di dalam hati. “Apa yang sulit dengan kegiatan mengevaluasi guru atau yaang lebih dikenal dengan istilah teknis supervisi”.

“Tidak semua guru mau dikritik”, kata kepala sekolah saya melanjutkan wejangannya.

Baca juga: Kisah Penderitaan, Teks, dan Kejahatan yang Ditulis

Dalam penjelasannya, poin penting yang kemudian mampu saya maknai adalah setiap guru merasa memiliki kemampuan untuk mengajar, sebab itulah alasan mereka diangkat menjadi guru. Selain itu, tidak semua orang senang dengan kritik, tidak semua orang mampu membuka diri untuk menerima saran dan kritik dalam rangka memperbaiki kompetensi. Hal inilah yang kadang membuat kegiatan supervisi guru itu sangat sulit.

Padahal, katanya melanjutkan penjelasan: saran dan kritik merupakan keniscayaan di dalam sebuah proses–apapun itu. Di dalam proses pembelajaran, tidak ada metode yang benar-benar tepat, tetapi juga tidak ada metode yang benar-benar salah. Sebab, siswa itu beragam dan mereka mampu memahami suatu pembelajaran dengan cara yang berbeda.

Sampai di tahap itu, saya berhasil menemukan makna baru di dalam sebuah kritik. Pada dasarnya, tidak ada yang benar-benar benar, dan juga tidak yang benar-benar salah. Kritik justru merupakan cara untuk melihat apa kekurangan dan kelebihan kita dalam suatu hal yang kita kerjakan.

Kritik yang baik akan memperlihatkan diri  kita apa adanya. Ibarat sebuah cermin, kritik adalah sebuah spion motor, saat kita bercermin, ia akan menampakkan wajah kita apa adanya, sejelas-jelasnya, hingga lubang pori-pori kita. Baik buruknya wajah kita pada akhirnya akan bisa kita terima dengan kewarasan dengan mengesampingkan narsisme diri.

Baca juga: Seno Gumira Ajidarma : Tiga Mitos Sastra yang Harus Dihancurkan, dan Pertanyaan lainnya.

Beberapa bulan yang lalu, saya menyaksikan contoh yang baik perihal bagaimana kewarasan itu bekerja. Penulis Indonesia, Eka Kurniawan, melancarkan kritik terhadap keputusan Jokowi dalam memilih staf khusus Presiden. Dan uraian tulisannya, Eka dengan jelas mengatakan bahwa sepertinya untuk menjadi seorang staf khusus salah satu syarat utamanya adalah kaya dan punya start up. Tidak ada ruang bagi pegiat sastra, seni, aktivis, yang hidupnya belangsat.

Tulisan itu kemudian ditanggapi oleh salah satu sutradara terbaik di Indonesia, Angga Sasongko. Dan saya menyaksikan sendiri bagaimana kewarasan itu bekerja. Dengan senang hati, Eka memuat ulang tulisan Angga di laman media sosialnya dengan diksi yang sangat saya suka “sebagaimana harusnya dialog yang sehat”. Yah, Eka menyebut itu sebagai “dialog yang sehat”, tidak ada caci maki, sentimentil, hingga ancaman di sana. Eka seolah mengajarkan semua orang bahwa kritik itu perlu sebagai bagian dari keterbukaan terhadap pikiran yang berbeda namun waras.

Contoh lain yang juga tak kalah menariknya adalah perdebatan tentang sastra anak. Selepas pengumuman Sayembara Kepenulisan yang dilakukan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), satu hal yang kemudian banyak mendapatkan kritik adalah pertanggungjawaban A.S. Laksana sebagai salah seorang juri dalam pemilihan naskah-naskah terbaik untuk cerita anak.

Baca juga: Seekor Lalat dan Sang Raja

Setidaknya ada dua hal yang banyak menjadi sorotan, pertama adalah cara dan standar dalam menilai cerita anak, dan yang kedua, argumen A.S. Laksana yang menyebutkan bahwa tidak banyak penulis cerita anak di Indonesia.

Hal ini yang kemudian membuat beberapa penulis seperti Clara NG naik pitam dan menyebutkan berbagai macam kelemahan tulisan pertanggungjawaban A.S. Laksana sebagai seorang juri. Perdebatan ini kemudian terus menggelinding seperti bola liar, kemana-mana, dan tak karuan. Terakhir, saya membaca ulang tulisan Anindita S Thayf di salah satu media nasional yang sudah lama membicarakan hal tersebut dengan perspektif yang wajar dam waras.

A.S. Laksana sendiri dengan terbuka meladeni kritik dan membiarkan wacana tentang sastra anak ini berkembang. Terakhir, ia menulis narasi panjang untuk menanggapi cuitan Clara NG. A.S. Laksana sebagai seorang juri DKJ menyadari betul bahwa perbedaan pandangan terhadap suatu persoalan sangatlah mungkin, dan ia menjelaskan kembali mengenai gagasan tulisan yang kemudian menjadi polemik.

Hal ini menurut saya sangat baik dan sangat mencerahkan. Di sana ada pertarungan gagasan, ada keterbukaan pikiran, dan yang paling penting adalah tidak ada sikap anti kritik yang menyeruak.

Baca juga: Kalau Memang Harus Mati, Mengapa Tidak Dengan Memainkan Gim Online

DKJ memilih A.S. Laksana menjadi seorang juri tentu telah mempertimbangkan kapasitas dan kompetensinya. Akan tetapi, hal ini tidak kemudian membuatnya A.S. Laksana jumawa dan berdiri sebagai seorang master yang merasa tahu segalanya dan meremehkan pandangan lain yang berbeda. Ia membuka perdebatan itu, perdebatan pikiran dan akal sehat.

Dari Eka Kurniawan dan A.S Laksana, saya semakin menyadari bahwa seharusnya kita terbuka terhadap kritik. Terbuka terhadap kritik membuat kita bisa lebih berdialog dengan sehat dan bisa menemukan pikiran-pikiran baru yang mungkin selama ini alpa dari kepala kita.

Dan tepat beberapa hari yang lalu, di sekolah, saya disupervisi oleh seorang guru senior. Supervisi tersebut terkait dengan perangkat pembelajaran dan proses belajar mengajar saya di kelas. Saya senang karena dengan supervisi tersebut saya mendapatkan banyak kritik dan masukan.

Padahal, jika dipikir-pikir, saya semestinya bisa tersinggung dan menutup diri. Coba bayangkan untuk meraih gelar sarjana sebagai seorang pendidik (S.Pd.), saya kuliah lima tahun, saya mengajar Program Pembelajaran Lapangan (PPL 1 dan 2) selama enam bulan, dan saya lulus murni melalui tes CAT untuk menjadi seorang CPNS dengan lolos passing grade.

Akan tetapi, jujur saja, di awal pengabdian saya, tiga pekan awal saya mengajar, saya menyadari satu hal yang berarti, bahwa “banyak tahu bukanlah jaminan untuk bisa mengajar dengan baik”, maka dari itu, saya sangat senang jika ada orang yang memberikan saya saran dan kritik, sebab saran dan kritik membuat saya belajar sekaligus berusaha menjadi lebih baik. Seperti kata bapak saya, “pengetahuan itu seperti bambu silallo te sirapi”.

BACA JUGA Joker Bukan Film Tentang Mantan atau artikel Arlin R lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles