Pada mulanya adalah penderitaan, sisanya bukan lagi milik siapa-siapa. Bertahun-tahun dirinya ia gambarkan berada tepat di tengah-tengah jarak antara matahari dan kesengsaraan, tulisnya di dinding tembok kamar. Dia dilahirkan setelah kedua orang tuanya resmi dinikahkan. Terlahir di tanggal tua, dibesarkan dengan ketidakinginan, dan dirawat tanpa kehendak. Di masa kanak-kanak, ia mengalami kesengsaraan hidup yang jauh lebih deras ketimbang hujan di awal tahun. Salah seorang mantan guru sekolah dasarnya, perlahan menyadari talenta yang ada di dalam dirinya.

Menjadi juru tulis paruh waktu bukan pekerjaan yang membebaskan. Namun keputusan tetap keputusan, meskipun kadangkala tercetus dari keputusasaan, ia tetap menjalani waktu-waktu jahanam, selain mengejar ketertinggalan akademik yang sering berbuah omelan orang tua. Sembari mengisap vape yang dibeli dari upah pertamanya, nampak kepalanya terlihat menyusun kerangka artikel yang rencana ia tulis dengan 2000 sampai 2500 kata. Dibantu dengan buku catatan, matanya bermain-main dan melirik sesekali, lurus ke depan berhadapan layar komputer, dan tunduk ke bawah mengintip tulisan tangannya.

Ia  tertatih dengan padatnya jadwal perkuliahan, dituntut berbagai tugas rumah, dan bacaan yang pernah dikatakannya tak pernah sedikitpun ia inginkan. Di waktu yang sama, ia juga terlatih mesti bekerja paruh waktu, mencari uang untuk memenuhi kebutuhan bulanannya. Pilihan itu jatuh menjadi penulis artikel berbahasa Inggris-Indonesia, dan sesekali menerjemahkan jurnal pesanan kaum tak percaya terjemahan literal di internet. Mulai dari jam 3 sore hingga 10 malam, mata dan kepalanya akan berhadap-hadapan dengan layar komputer, meski pikirannya masih berhadapan dengan ketakutan yang teramat absurd.

Baca juga: Kawan Dekat yang Tinggal di Tempat Jauh

Absurd tidak menunjukkan apapun kepada kita selain kontradiksi dalam hal yang menyangkut diri sendiri. Ia, bila pada mulanya kita ingin melakukan suatu tindakan, membuat hal itu menjadi tidak berarti sehingga justru hal tersebut menjadi mungkin. Kontradiksi yang hakiki tidak mungkin absen menyertai kebanyakan manusia, semenjak manusia ingin bertahan di dalam absurditas dan mengabaikan karakter aslinya, yang kini menjadi suatu perubahan nyata.  

Manusia bisa berdoa kepada Tuhan, tapi tidak kepada kehendak, sebab ia tak kenal ampun dan belas kasih. Kehendak di sini bukan yang berasal dari bahasa sehari-hari, tetapi semacam daya adikuasa yang menggerakkan segala sesuatu di alam semesta. Ia punya kecintaan mendalam pada teks, karenanya, keinginan menjadi penulis adalah kemauan dari seluruh keinginan-keinginan itu. Penulis yang menulis keinginannya, lebih tepatnya.

Tanpa menyalahkan apa-apa, ia justru terjebak dan menyalakan seluruh penderitaan bagi yang ingin hidup sebagai penulis tercipta dari motif serta alasan Knut Hamsun menulis Hunger (atau dalam bahasa Indonesia: lapar) yang terbit pada 1890. Ia ingin menginterupsi novel itu andai Hamsun masih duduk santai menikmati sejuknya kota Oslo. Ia tahu, novel tersebut cenderung terinspirasi oleh pemikiran eksistensialisme yang kala itu baru hadir. Sialnya, ia merasa ‘aku’ di dalamnya kalah oleh kehendak, seperti yang saat ini tengah membelitnya, di sebuah kota aneh yang tak meluputkan seorangpun tanpa bekas mendalam pada dirinya.

Baca juga: Kami yang Keras Kepala atau Dia yang Tidak Mudah Menyesal

Kita patut curiga dengan nasib, tapi jangan menyalahkannya. Kalau ternyata justru kita yang kalah dari persoalan kepelikan hidup. Peristiwa hidup seperti yang dialami gadis di atas, mungkin sering dijumpai di negara atau kota manapun meski tak sesering jarang. Menjadikan menulis sebagai pekerjaan utama barangkali mengandung segunung tantangan, sekaligus mengundang penderitaan dan kesengsaraan yang lebih ril, setidaknya untuk konteks Indonesia, atau di Sulawesi Selatan, terkhusus di Makassar.

Sebagian orang menganggap menulis hanya menjadi kata kerja yang bisa dilakukan oleh hampir seluruh pekerjaan. Karyawan swasta, pegawai negeri, kontraktor, pengacara, pengusaha, pedagang, dan lainnya bisa dengan gampang melakukannya. Bagian lainnya, termasuk ia—menjadi penulis, hanyalah salah satu alasan diantara selangit alasan untuk bertahan hidup lebih lama. Bukankah itu paradoks?

Akan tetapi, terdapat pertanyaan menarik selain dari perdebatan menjadikan menulis sebagai pekerjaan utama, atau penulis sebagai musuh yang populer. Bagaimana penderitaan berbaur dengan teks dan dapat dibaca oleh berjuta rupa-rupa kebahagiaan diluar sana. Ia berpikir, penderitaan begitu gampang datang namun sukar menjauh. Sebaliknya, kebahagiaan begitu sulit terjaga, dan terlalu mudah menghilang.

Baca juga: Sulli, Sudahkah Kita Bahagia?

Kita mengerti, mengapa pekerjaan sebagai penulis, tak bakal menjamin kedudukan periuk tetap terisi, dompet menjadi tebal, ataupun investasi masa tua yang terjaga, persis seperti yang ditulis pengarang Norwegia di atas. Praktis sang tokoh utama, memilih mengakhiri kesengsaraan sebagai penderitaan baru dengan pergi berlayar dan melupakan cita-citanya jadi penulis. Barangkali tak lama, ia juga memilih merobek pikirannya, imajinasinya, ataupun standar estetiknya untuk pergi meninggalkan diri dan keinginannya.

Untuk menjadi kaya, seorang penulis di Indonesia perlu menghasilkan hingga 75 buku dalam setahun. Artinya, ia mesti menulis 14 kata tiap menit selama sepuluh jam saban hari. Kerja ala mitraliur itu dapat menghasilka kekayaan, tapi, tentu tidak ada jaminan penyakit senewen takkan turut serta, seperti dikutip dari Tirto.id Menjadi Kaya Berkat Kata-kata. Angka tersebut sontak menjadi sangat absurd dan sia-sia, tak ada manusia yang rela menyiksa dirinya secara sadar, apalagi hanya untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah hingga berarti sudah itu mati.

Ia pernah mengatakan, “pekerjaan yang saat ini kujalani sepertinya akan menuntunku untuk mati muda”. Saya tak kaget mendengarnya.

Kejahatan dalam Teks

Heathcliff, dalam Les Hauts de Hurlevents, ingin membunuh Bumi seisinya demi mendapatkan Cathie. Namun, ia tidak punya ide untuk menyatakan bahwa pembunuhan itu bijaksana atau disahkan oleh sistem. Lalu ia melakukannya, dan pudarlah keyakinannya terhadap sistem. Hal itu menunjukkan kekuatan cinta dan kekuatan karakter. Ketika kekuatan cinta itu langka, tindakan pembunuhan masih merupakan hal yang luar biasa.

Begitu kejahatan dipahami dengan nalar, ia berkembang biak sebagaimana nalar itu sendiri. Kejahatan itu menggunakan segala figur silogisme, dan kesengsaraan, atau penderitaan menghapusnya sebagai kebaikan yang normal. Dahulu, kejatahan terpencil seperti jeritan, kini universal seperti sains. Kemarin diadili, hari ini ia membuat hukum.

Baca juga: Mereka yang Mengendap dan Membaca Bertumpuk-tumpuk Buku

Pernah suatu ketika, ada jeritan dari kepedihan, begitu terasa, setelah membaca Etgar Keret. Pengarang Israel yang pernah berkunjung ke Indonesia di perhelatan Ubud Writers and Reader Festival (UWRF) pada 2010. Ia dikenal piawai meramu kenyataan yang brutal, kebaikan lain dari kejahatan, serta penyimpangan-penyimpangan yang gelap namun penuh humor. Sebagaimana Kurt Vonnegut yang menginspirasinya, ia mampu meringkus unsur-unsur fantasi ataupun surealis, dan membungkus hal-hal tersebut dalam kapsul bahasa sehari-sehari.

Setelah membaca The Seven Years (2015), kita tahu tak ada waktu dan tempat yang aman di Israel ataupun Palestina. Kegembiraan Bar Mitzvah atau perjamuan buka puasa bersama dapat seketika berubah jadi neraka alias penderitaan koletif, dikarenakan kedatangan tukang bom bunuh diri atau tentara Israel Defense Force (IDF) yang terkenal cacat rasionalitas dan humanisme. Dentuman roket menjadi latar salat jumat berjamaah, anak laki-laki diseret keluar rumah dan disiksa dihadapan orang tua mereka, serta kejahatan-kejahatan yang sulit diterima.

Pada 2012, wawancara Paris Review dengan Keret lewat Rebbeca Sacks, mengatakan “pengalaman subjektif kita bisa saja surealis sekaligus jujur sebagaimana ia seringkali terkesan realistik, namun palsu. Aku menulis cerita-cerita yang subjektif, dan saat menuliskannya, yang penting bagiku adalah apakah mereka mewakili hal-hal yang kurasakan dan kupikirkan, bukan apakah mereka benar-benar ilmiah.”

Dalam pengantar buku nonfiksi Albert Camus, The Rebel (1951), ada dua jenis kejahatan di dunia: kejahatan hawa nafsu dan kejahatan logika. Code Penal (Kitab Undang-undang Hukum Pidana) membedakan keduanya secara cukup praktis, yakni dengan cara menilik premeditation atau perencanaannya. Kita sekarang hidup di era perencanaan dan kejahatan yang sempurna.

Baca juga: Memahami Sebuah Kekalahan

Para penjahat bukan lagi kanak-kanak tak berdaya yang mempergunakan dalih cinta. Bahkan, sebaliknya, mereka dewasa seperti kita dan tokoh pembuka tulisan ini. Dalih mereka tidak dapat disangkal, itulah filsafat yang dapat berguna untuk segalanya, termasuk untuk mengubah pembunuh menjadi hakim.

Lewat serangkaian pengamatan dan kesadaran akan hidup serta kemanusiaan, melalui karyanya, Etgar Keret berupaya meresolusikan gambaran global tentang kejahatan Israel dan orang-orangnya. Ia tak melulu mengajak pembacanya untuk berhenti membenci apapun atau siapapun, termasuk negaranya. Akan tetapi, kita patut melihat ke arah yang lain.

Di luar kaum jahat, beringas, dan gila perang yang saat ini menguasai pemerintahan, di negeri itu terdapat juga kelompok-kelompok progresif yang berpihak pada kemanusiaan. Keret ialah bagian dari golongan kedua itu. Selain berbagai karya fiksi, ia juga menulis bejibun esai khusus untuk mengkritik pemerintahan Benjamin Netanyahu.

BACA JUGA artikel Wahyu Gandi G lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles