Aku menulis esai ini bukan untuk membenarkan kesantuyanku yang dasariah. Sebab bagiku santuy merupakan hak asasi manusia. Sudah terhitung enam jam aku memainkan gim Mobile Legend. Sejam pertama aku habiskan di tier epic II sambil mengucapkan segala bentuk sumpah serapah yang tak pernah dibayangkan oleh siapapun, bahkan diriku sendiri, sejak season 14 baru saja diperbaharui.

Setiap pemain yang telah mencapai tier mythic akan turun ke tier epic II. Dan dari sana setiap pemain akan kembali berlomba untuk naik kembali ke tier mythic sampai mendapatkan poin yang bisa disombongkannya. Ini jenis kesombongan yang wajar, sebab siapa saja yang memang mampu naik ke tier mythic, sombong telah menjadi kewajiban untuk segera ditampakkan. Bahkan jika hanya tampil cool dan tak mengatakan apa- apa pun sudah terhitung sebagai kesombongan.

Dua, tiga, empat, lima, lalu enam jam, saya masih bertahan di tier epic. Selalu tidak mudah bagiku untuk bisa lepas dari tier neraka ini. Enam jam kulewati hanya untuk naik turun atau ngetroll antara epic II dan epic I. Jika kau tahu cara bermain Mobile Legend dan membaca tulisan ini, kau akan tidak tahan untuk mengatakan kepadaku dan menjelaskan segala tips bermain yang tepat. Tapi aku tahu sebelum kau memulai menyampaikan tips itu, kata pertama yang bakal kau ucapkan kepadaku adalah noob, istilah yang berasal dari kata newbie. Jika kau memang ingin mengatakan hal yang sama kau akan menjadi orang yang kesepuluh.

Baca juga: Gamer PUBG yang Diambang Kesepian

Tapi syukur bagiku karena hari ini adalah hari yang cukup lowong untuk menjadi kaum rebahan, yang kelasnya adalah penganut insomnia garis keras. Sepuluh jam bisa sangat minimal dihabiskan hanya untuk memainkan gim Mobile Legend. Leomord sebagai fighter biasanya menjadi hero yang paling sering kuandalkan untuk menaikkan rank alias ngepush.

Di profil dalam gim yang menampilkan data permainanku mencatat bahwa saya telah memainkan Leomord sebanyak 345 kali permainan dengan rata-rata menang sebanyak 57 persen. Tapi untuk season ini entah karena alasan main solo sehingga kerjasama tim begitu berpengaruh untuk menaikkan presentasi kemenangan dan selama enam jam bermain selalu saja lebih sering mendapat tim bocah plus tim toxic yang bahkan untuk ngedraft pick hero saja selalu tidak becus.

Sepandai apapun kumainkan, Leomord hanya jadi hero lacur yang memberi kemenangan bagi tim lawan hanya dalam waktu main 10 menit. Terkutuklah kalian para bocah!

Lalu terhitung masuk jam ke tujuh. Sirine dari pabrik pangan yang tak jauh dari rumahku meribut. Itu tanda tengah malam dan pergantian jam kerja para karyawannya. Dan tanda bagiku bahwa hari baru saja berganti sedangkan tier mythic rasanya masih butuh waktu sebulan untuk bisa menggapainya. Tapi aku tidak ingin berhenti sebelum adzan subuh berkumandang di masjid yang jauh lebih dekat dari rumahku.

Baca juga: The Banality of Thinking

Maka aku memilih untuk bekerja lebih keras dari enam jam sebelumnya. Kali ini aku memilih memakai Diggie, jenis hero support untuk ngepush. Pilihan yang agak riskan. Namun  dari lima kali main, presentasi kemenanganku menjadi 100 persen dan kelima-limanya dapat MPV. Otomatis hormon dopamin yang dihasilkan tubuhku melimpah. Kebahagiaanku menjadi begitu menggairahkan.

Sialnya pertandingan ke enam di Land of Dawn bersama Diggie harus hilang dengan tragis. Di timku, dua pemain tiba-tiba meninggalkan permainan saat tower lawan tersisa tiga buah. Lord pertama sudah kudapatkan dan kemenangan sudah mencapai presentasi 90 persen. Kemenangan yang sudah ada di depan jempol.

Tapi berita di sisi kiri layar yang bertuliskan “pemain meninggalkan permainan” merubah skenario kemenangan itu. Hanya butuh tiga menit bagi tim lawan untuk menghancurkan base kami. Selesai sudah. Kekalahan itu membuatku mengucapkan segala sumpah serapah. Pagi itu, aku memutuskan untuk berhenti bermain. Tapi di luar sana ada lebih banyak pemain Mobile Legend yang meneruskan permainannya.

Gim sebagai Budaya Baru?

Media kenamaan Tempo.co mencatat, di Indonesia saja ada 49 juta pengguna aktif yang bermain Mobile Legend tiap bulan. Dari angka itu, ada beberapa pemain yang mendedikasikan ke-santuy-annya untuk menjadi pemain profesional. Jenis kaum rebahan yang naik setingkat atau jenis pemain Mobile Legend yang mengikuti berbagai perlombaan yang beberapa penghasilannya sudah cukup membeli skin permanen sebanyak tiga buah tiap bulannya.

Itu juga sudah cukup menghidupi satu orang di luar dirinya, atau dengan cara itu ia sudah bisa menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. Tapi untuk mengantar orang tua naik haji mereka harus seperti Evos Jess No Limit yang menjadi bintang dunia maya lewat konten Mobile Legend di channel YouTube-nya. Faktanya produksi budaya baru ini memang menciptakan lingkaran kapital yang jauh lebih lebar.

Baca juga: Mengapa Kita Butuh Situasi Kesepian?

Beberapa orang dengan kasus yang unik muncul dari berbagai belahan dunia. Dari berbagai jenis gim online, mereka lalu menemui ajalnya secara terhormat setelah bermain gim online selama berjam-jam. Seperti kasus Chris, Gamer asal Inggris yang meninggal sebab mengalami pembekuan darah setelah bermain gim berjam-jam tanpa henti. Ada beberapa berita sejenis lainnya yang memaparkan alasan kematian yang hampir sama. Tapi jika memang semua manusia mati mengapa tidak dengan gim online?

Bermain gim selalu diangap sebagai alasan kematian yang tragis. Sebab korbannya lebih banyak menyasar para pemuda. Namun tampilan berita menutup narasi beritanya dengan selalu menghimbau para orang tua untuk mengawasi anak-anaknya. Sebuah himbauan yang justru akan membuat orang tua lebih merusak anak-anaknya.

Apakah memang begitu susah menyadari bahwa banyak lapisan mental dan sebab akibat dari mengapa orang-orang memilih bermain gim berjam-jam sampai tidak memikirkan tubuh sendiri. Apa tidak ada yang menyadari mental mereka tumbuh dengan tumpukan masalah yang tidak sempat mereka atasi sendiri. Alih-alih fokus menampakkan satu hal, yaitu kesalahpahaman yang hanya merusak lebih banyak hal.

Posisi Gim sebagai Dunia Alternatif

Gim online adalah perkembangan paling mutakhir dari video gim. Orang-orang di zaman Modern ini memainkannya sama seperti orang-orang di zaman Renaissance membaca sastra. Hanya saja kontrasnya yang terlihat adalah dari posisi pembacanya. Jika dalam sastra pembaca ditempatkan sebagai penafsir atau interpretator.

Pada gim, pembaca atau pemainnya bisa secara bebas menentukan alur ceritanya sendiri. Pada sisi itulah gim mengambil posisi sebagai sebuah dunia baru atau dunia alternatif yang akan sangat ramah bagi setiap orang yang gagal menghadapi segala pilihan di dunia nyata. Pilihan yang seringkali tidak eksistensial.

Baca juga: Of Mice and Men: False Consciousness dan Penggambaran Isu Sosial

Gim akhirnya menjadi ruang alternatif yang apabila sesuai dan memberi kepuasan eksistensial, justru akan menjadi ruang yang lebih nyata dari dunia nyata itu sendiri. Meski Jean Baudrilllard akan menyebut itu sebagai dunia hiperrealitas yang isinya adalah kesemuan belaka, tapi bagi para pemain yang rata-rata adalah pemain usia muda yang susah eksis di dunia nyata akan menemukan kebebasan di dalam dunia alternatif ini. kebebasan yang sesederhana menuntaskan setiap tantangan yang ada di dalam gim.

Bagiku sangat menyebalkan jika para orang tua merasa hanya dengan menyita smartphone anak-anaknya segala sesuatu akan menjadi baik-baik saja. Sama seperti para orang tua yang selalu merasa lebih banyak mengetahui apa yang sedang terjadi dalam diri anak-anaknya hanya dengan menyamakan dunia anaknya dengan dunia yang telah dilewatinya.

Gim dan Mendium Teks

Teks yang dihasilkan budaya selalu berkembang dan jauh lebih metaforis dari teks-teks yang dihasilkan dari budaya sebelumnya. Sialnya tidak mungkin mengatakan itu kepada para orang tua bukan? Apa hanya aku saja yang merasa bahwa setiap orang tua menyusun keluarganya dari hanya satu bahan, yaitu kekolotan.

Gim juga tidak sembarangan dibuat hanya untuk dimainkan pada waktu luang. Setiap perusahaan gim online benar-benar bersaing untuk membuat grafik gim yang menyamai tampilan matematis di dunia nyata. Pada kasus Mobile Legend, proses pembuatan setiap hero baru selalu mengandalkan teks-teks budaya dari berbagai medium seperti novel, komik, kitab epos, film dan mitos.

Setiap orang yang telah membaca atau menonton Lord of The Ring akan merasa begitu dekat dengan hero Miya atau Eudora yang keduanya adalah hero yang karakter fisiknya diambil dari bangsa Elf, karangan J.R.R Tolkien. Atau begitu mudah mengenali Chou yang suara karakternya diambil dari suara khasnya Bruce Lee. Atau jika kau tidak pernah menikmati medium budaya-budaya itu, kau juga akan merasa betah memainkan gim online ini karena gairah kompetisi yang ditawarkannya.

Baca juga: Humor sebagai Hiburan untuk Menertawai sekaligus Menghinakan Orang Lain

Kualitas-kualitas estetis itu yang jarang sekali disadari oleh para pengupas budaya. Bahwa setiap perusahaan gim online sedapat mungkin menampilkan apa yang selama ini dimimpikan oleh para pemainnya. Namun sebelum para pengupas budaya seperti para Marxis dan metodologi Cultural Studies mengabstraksikan realitas apa yang sedang lewat, para agamawan telah bergerak dengan mengharamkan gim online. Sialnya, orang tua membaca keputusan MUI dari media online seperti yang terjadi pada kasus gim PUBG. Anak-anak lalu menjadi korban dari kesederhanan berpikir sesat itu.

Sebelum dunia alternatif ini menguasai segala keputusasaan yang sedang terjadi di dalam mental para pemuda, setiap orang yang bergerak dalam lingkaran budaya ini agaknya harus segera bijak memanfaatkan gim online sebagai medium teks untuk menyampaikan perkara kemanusiaan yang sedang terjadi di dunia nyata.

Begitu mudahnya mengkomunikasikan efek buruk dari terorisme dengan mempropagandakannya di dalam gim online. Soal ketimpangan sosial bisa menjadi tema yang ujung ceritanya akan membuat pemain merasa sebagai pahlawan sosial yang heroik jika berhasil mengalahkan monster yang apabila dibuat mirip karakter-karakter Orde Baru. Di Indonesia yang entah nyata atau semu belaka, Monster itu sulit sekali diruntuhkan.

BACA JUGA Artikel Ma’ruf Nurhalis lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles