Sejak Komandan Pasukan Quds Garda Revolusi Iran, Qasem Soleimani wafat melalui serangan pesawat tanpa awak milik AS yang dilancarakan di Bandara Internasional Baghdad, Irak, pada 03 Januari 2020, kondisi antara AS-Iran semakin memanas.

Ya, meskipun sebelumnya pertikaian ini memanas sejak Trump membawa AS keluar dari kesepakatan The Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Alasannya, kesepakatan tak serta merta menghentikan program nuklir Iran. Aduhh, lagi-lagi Trump bertingkah seperti Thanos yang ingin menguasai bumi. Ataukah memang iya dia adalah Thanos?

Selain itu, Trump beranggapan bahwa Iran juga sedang mengembangkan rudal balistik yang dipasok untuk pemberontak Houthi di Yaman dan milisi Syiah di Irak. Trump menilai Iran menjadi sponsor utama aksi terorisme karena melatih pasukan hingga menyediakan dana untuk kelompok-kelompok militan yang tersebar dari Afghanistan, Gaza, Lebanon, hingga Pakistan. Saya yakin wacana ini untuk menaikkan elektabilitasnya pada kampanye Pemilu AS 2020. Adakah #2020gantipresiden di AS.

Baca juga: Panduan Pemilu untuk 2024

Trump menawarkan kesepakatan baru, salah dua poinnya ialah meminta Iran agar menghentikan program nuklir serta menarik pasukan dari Suriah, sehingga program tersebut hanya dimiliki oleh AS. Nah, tawaran AS ditolak Iran. hasilnya, AS makin beringas dalam menjatuhkan sanksi ekonomi yang menyasar penerbangan, perbankan, hingga sektor minyak.

AS – Iran adalah rival yang saling mengejek, setelah Revolusi Republik Islam Iran 1979. Negara Ayatollah ini memang sangat kecil, tetapi memiliki pikiran cerdas, mental yang kuat untuk mempertahankan Revolusi Iran agar tetap mandiri dan merdeka. Bukan Revolusi mental seperti ala-ala Jokowi.

Namun, kali ini berbeda, cuyyy, sampai-sampai para netizen sibuk menagari di twitter dengan cuitan #WWIII atau #worldwar3. Apakah perang dunia ketiga akan dimulai?

Baca juga: Bagaimana Thomas Hardy Melihat Perang?

Saya yakin Trump adalah presiden yang konsisten, tangguh, berani. Ya, saya rasa yang mulia ini cocok memimpin dunia, saya yakin dengan itu! Kita mampu melihat bagaimana track record Trump dalam menuntaskan terorisme. Sampai ia membunuh Solemaini dalam rangka mendamaikan Timur Tengah dan dunia ini.

Tak tanggung-tanggung, Donald J. Trump via twitter, mengatakan “ …. menargetkan 52 situs Iran (mewakili 52 sandera Amerika yang diambil oleh Iran bertahun-tahun yang lalu), beberapa di tingkat yang sangat tinggi & penting bagi Iran dan budaya Iran, dan target itu, dan Iran sendiri, akan tetap sangat cepat dan sangat keras. AS tidak menginginkan ancaman lagi!”

Di hari yang sama, ia mengatakan “Amerika Serikat baru saja menghabiskan dua trilun dolar untuk peralatan militer. Kami adalah yang terbesar dan sejauh ini yang terbaik di Dunia! Jika Iran menyerang pangkalan Amerika, atau Amerika, kami akan mengirimkan beberapa peralatan baru yang indah itu ke arah mereka … dan tanpa ragu-ragu!”

Sangat luar biasa pernyataan itu, sampai saya berpikir film Avengers: Endgame bakal terjadi di dunia nyata,. Wooooowww!!!

Baca juga: Aquaman: Dari Cinta Terlarang Sampai Hasrat Berkuasa

Beberapa lama setalah cuitan tersebut, ternyata Iran tak tanggung-tanggung. Dengan mengerak bendera merah sebagai simbol balas dendam serta menawarkan $80 Juta Dolar AS kepada siapa saja yang membawa kepala Trump, yang sebenarnya tak sepadan dengan syahidnya Soleimani. Ngeri, kan?

Tapi, mampukah Iran mengalahkan AS dengan kekuatan militer? Wallahualambisawab! Tetapi AS memiliki kekuatan militer yang jauh lebih besar dari Iran. Eitss, namun, apakah AS mampu secerdas Iran? Itu belum tentu!

Menurut pengamat Timur Tengah, Dina Sulaiman, Iran memliki kekuatan softpower yang tumbuh berkat kukuhnya mereka membangun peradaban. Bahkan capaian spektakuler itu, termasuk pembangunan teknologi berbasis nuklir, diperoleh justru di saat mereka diisolir dan didiamkan dunia. Mereka kini tumbuh sebagai negara-bangsa yang mandiri, kuat secara ideologi, dan solid sebagai sebuah bangsa.

Artinya, mereka juga memiliki kekuatan internal dan strategi yang matang untuk menghancurkan AS. Wong mereka Rausyanfikr–berpikir menggunakan landasan filosofis, tak seperti Trump yang membarah mengancam Iran. Wah, bakalan menarik nih, apalagi ditayangkan di bioskop-bioskop terdekat kalian.

Baca juga: Belajar Bagai Sufi dari Umpatan dan Transgender Panaikang

Terbukti, 90 rudal dan roket dilesakkan Iran, tanpa satu pun meleset dari sasaran. Ada 8 titik vital aset militer Amerika di Irak hancur, disapu oleh jet-jet tempur Iran. Praktis dalam tempo 4 jam, Irak dalam kendali Iran.

Menariknya, 85 personel militer AS, tewas seketika. Presiden Ikatan Pelajar Indonesia Iran, Ismail Amin via facebook, membenarkan peristiwa tersebut. Ia mengatakan: pertama, ancaman Iran akan membalas AS, bukan ancaman kosong. Keduabahwa Iran memiliki teknologi persenjataan yang bisa menjangkau pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah. Ketigaserangan udara Iran ini telah mempertimbangkan dan telah dikalkulasi termasuk kemungkinan serangan balasan dari AS.

Jika serangan AS terjadi, tentu itu tidak lagi berasal dari pangkalan terbesarnya yang ada di Irak, karena keberadaan militer mereka di Irak saat ini, menyusul izin menetapnya telah dicabut. Keputusan mengusir militer AS itu juga sudah ditetapkan oleh parlemen Irak. KeempatIran tidak hanya mengultimatum AS, tapi meperingatkan negara-negara yang wilayahnya dijadikan pangkalan militer AS.

Baca juga: Relasi Bahasa dan Identitas

Cerdas, kan? Ya, dari dulu Iran memang cerdas. Di sana ada Ali Syari’ati sebagai sosiolog Islam, ada Murthada Muttahahari, ada Muhammad Baqir al Shadr penulis buku Fasafatuna dan pencetus Revolusi Iran yang getol, Imam Khomaini. Mereka semua adalah sosok yang memberikan napas perjuangan bagi rakyat Iran hingga hari ini.

Namun, serangan itu dianggap biasa oleh si Trump ini. Ohh ya, satu lagi, guys. Trump adalah sosok yang humoris. Tak percaya? Setelah serangan Iran itu, Trump malah memberikan tambahan sanksi ekonomi terhadap Iran. Nah, disini saya menganggap bahwa dia sedang bercanda dengan cuitan awalnya di Twitter, atau ini sikap bijaksanyanya seorang Trump.

Hasilnya, peristiwa Perang Dunia ketiga ini memiliki alur terbuka dan pastinya akan ada lanjutan cerita dari Avengers: Endgame versi Trump. Penonton jangan kecewa.  Bersambung…

Penulis: Dwi Rezki Hardianto, alumni sastra Inggris Universitas Negeri Makassar dan Presiden BEM UNM.

Facebook Comments
No more articles