“Barang yang paling laku menjelang tahun baru adalah kondom, sedangkan buah yang paling laku setelah tahun baru adalah nanas muda”, seloroh seorang teman yang menghadirkan gelak tawa di antara kami. Bagai sebuah mitos, tahun baru dari tahun ke tahun menjelma pesta lendir yang dibalut kembang api. Pengambilan kesimpulan itu sangat mungkin untuk keliru, tetapi pada akhirnya di sekeliling kita, seloroh tentang kondom dan nanas muda menjadi lelucon yang tiada tara.

Setiap mejelang tahun baru, selain mitos perihal kondom dan nanas muda, mitos tentang Icarus merupakan mitos yang tak pernah lekang dari ingatan saya. Dikisahkan di sebuah negeri yang bernama Kreta, hidup seseorang yang sangat mencintai pengetahuan. Ia adalah Dedalus.

Kecintaannya terhadap pengetahuan menghantarkannya hidup di Kreta di bawah pemerintahan Raja Minos yang kejam. Dedalus, bersama anaknya, Icarus mendapatkan tanah dan segenap peralatan yang memungkinkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Akan tetapi, kekuasaan tetaplah kekuasaan, pada akhirnya kekuasaan selalu menanggalkan topengnya. Raja Minos ternyata memanfaatkan kecerdasan Dedalus untuk membuat sebuah labirin di Knosos untuk memenjarakan Minotaur, anak perselingkuhan istri Raja Minos dengan banteng.

Baca juga: Mitologi dan Peradaban yang Tersungkur di Kaki Perempuan

Tetapi kehidupan selalu tak terduga. Kebaikan demi kebaikan berpencar dari hati terdalam. Di kisah yang lain, Dedalus memberikan sebuah gulungan benang kepada Ariadne yang membuatnya lolos dari labirin yang berbahaya itu.

Atas kemurahan hati Dedalus, Minos menghukum Dedalus dan Icarus dalam penjara di sebuah tempat yang tinggi di Kreta. Hal inilah yang menjadi awal mula kebebasan itu terenggut. Dedalus, seorang yang terkenal dengan berbagai penemuannya harus menjalani sisa hidupnya di dalam penjara bersama anaknya.

Hingga suatu hari, Dedalus dengan sepenuh hati mengambil lagkah besar demi kebebasan anaknya, Icarus. Ia mengumpulkan bulu burung sebanyak mungkin. Kemudian, dengan keahlian dan kasih sayangnya kepada kepada Icarus, direkatkannya bulu-bulu itu dengan lilin sehingga menjadi sebuah sayap yang dapat digunakan Icarus untuk terbang.

Baca juga: Mengapa Kita Mesti Melawan?

“Jangan terbang terlalu rendah, nantinya kamu akan ditembaki Raja Minos, dan jangan terbang terlalu tinggi, sebab lilin perekat itu sangat mungkin untuk meleleh”. Kira-kira seperti itulah petuah Dedalus kepada anaknya Icarus.

Icarus pun terbang dengan sayap buatan ayahnya. Ini kali pertama Icarus merasakan kebebasan setelah sekian lama mendekam di dalam penjara. Kebebasan itu kemudian menjelma menjadi sebuah kemalangan. Ibarat pesta, Icarus mungkin berpikir bahwa ini seperti awal dari sebuah kebebasan. Semua orang termasuk dirinya masih memiliki kekuatan maksimal untuk berdansa.

Icarus terus terbang, semakin tinggi dan terus meninggi. Di puncak kebebasan itulah, kemalangan mengintai. Lilin yang merekatkan bulu-bulu sayap ke lengannya kemudian meleleh. Satu per satu bulu-bulu terhampar di udara. Tinggallah kepakan tangan Icarus yang sudah tidak lagi mampu menahan tubuhnya. Pada akhirnya, ia harus terhempas ke dalam lautan dan itulah akhir dari petualangannya.

Saya membayangkan bahwa di malam tahun baru, ada banyak orang yang kemudian menjelma menjadi Icarus. Seolah kebebasan adalah barang mahal baginya dan satu-satunya kebebasan itu hadir di saat malam tahun baru. Orang tua di rumah atau mungkin di kampung halaman berpesan sebagaimana layaknya Dedalus berpesan kepada Icarus.

Baca juga: Before We Go: Hidup Selalu Persoalan Pilihan

“Nak, jaga diri baik-baik, jangan pulang larut malam”. Tetapi, pesta tetaplah pesta, di antara alur pesta itu, ada banyak orang yang mencari klimaks. Setelah puas menyaksikan kembang api, guyuran hujan, kendaraan melesat ke tujuan tertentu. Ada yang berakhir di rumah, di kosan, di wisma, ataupun di hotel-hotel.

Di antara jutaan pasang manusia, tak ada yang benar-benar bisa kita tebak seperti apa akhir kisah malam tahun barunya. Mereka memaknai kebebasan dengan cara kebablasan. Minum, narkoba, dan juga seks bebas. Sebagaimana layaknya Icarus, kebebasan kemudian menjelma menjadi kemalangan. Sebab, kebebasan itu berbahaya, jika kita salah menafsirkan dan menjalaninya.

Icarus mungkin lebih beruntung, bahwa setelah kemalangan itu, orang-orang bersedih, mereka mengingat peristiwa itu dengan manamai laut tempat Icarus telungkup dengan sebutan Laut Icaria.

Sedangkan mereka yang malam tahun baru lupa memasangkan sarung pengaman yang mereka beli di apotek, sangat mungkin tidak akan dikenang sebagai siapapun, kecuali pedagang nanas muda di pasar teradisional. Dan sungguh sial, bahwa nanas muda bukanlah simbol kejatanan, tetapi justru menjadi simbol kepencundangan.

Facebook Comments
No more articles