Sepulangnya dari residensi penulis di Paris, Perancis, beberapa dari kami (barangkali juga pembaca) penasaran dengan rencana karya terbaru dari Alfian Dippahatang, terkait dengan riset dan pemilihan lokasi residensi yang ia pilih. Sebenarnya, Fian (sapan akrabnya) sudah lebih dahulu memberikan sedikit penjelasannya secara umum terkait pertanyaan di atas, dilansir dari portal resmi fakultas ilmu budaya Universitas Hasanuddin.

Namun, atas dasar ingin meretas sekat antar pembaca dan penulis ditengah rawannya popularitas, memupuk pertemanan yang subur ditengah maraknya fenomena intoleran, serta persebaran informasi terkait sastra dan biografi, kami merasa penting untuk menanyakan beberapa hal, meskipun itu tak berhubungan langsung dengan persepsi dan rasa ingin tahu khalayak. Ya, meski kami sebenarnya tidak terlalu memahami sejauh mana berpengaruhnya wawancara untuk mengupas banyak hal yang hendak kita duga dan inginkan.

Selamat malam Fian, sebelumnya selamat atas pencapaian terbaikmu tahun ini. Beberapa dari kawan redaksi mengikuti bahkan membicarakanmu diam-diam,  bagaimana perasaanmu?

Tentu saja saya senang jika kebaikan yang telah saya lakukan bisa jadi perbincangan. Namun, saya selalu berharap yang dibincangkan bukan menjurus lebih dalam ke sisi pribadi saya, melainkan kritik atau saran terbaik dan mendalam bagi karya sastra yang telah saya hasilkan.

Apa yang sebenarnya mendorong Fian untuk mulai memikirkan menjadi penulis? Menulis karya sastra tentu saja.

Kelas tiga SMA, saya mulai mengakrabkan diri dan berbincang dengan almarhum kepala sekolah saya yang alumnus Pendidikan Bahasa Indonesia IKIP Ujung Pandang (sekarang, UNM). Waktu itu, di ruangannya, ia menyodorkan buku puisi berjudul Pandora karya Oka Rusmini, kemudian ia menyuruh saya membaca buku puisi tersebut, setelah saya baca, saya semakin tertarik dan ingin banyak membaca buku dari nama-nama penulis yang tidak saya ketahui dan juga keinginan untuk mengasah hasrat menjadi penulis yang mulai terbangun di tahun tersebut.

Baca juga: Puisi dan Politisi

Kemudian saya bertanya kepadanya, kuliah di jurusan apa yang tepat mendalami hal seperti ini. Almarhum kepala sekolah saya menjawab, kuliah saja di jurusan Bahasa Indonesia. Waktu itu seingat saya, ia tidak memberi saya penjelasan, bahwa ada jurusan Sastra Indonesia dan ada Pendidikan Bahasa Indonesia. Baru setelah saya memulai kuliah pada tahun 2012, saya baru tahu perbedaan dari kedua jurusan tersebut.

Masuk kuliah di Sastra Indonesia, saya semakin teguh ingin menjadi penulis. Penulis yang tentu saja sungguh-sungguh jadi penulis. Walau dalam kenyataannya—kuliah di Sastra Indonesia bukan jaminan bisa menjadi penulis, tapi setidaknya menjadi gerbang bagi saya untuk melihat banyak kemungkinan, terutama menjangkau bacaan dan pertemanan.

Seperti rumput yang tumbuh subur di musim hujan, sejauh mana Fian melihat kompetisi menulis karya sastra yang saat ini bertebaran di mana-mana. Bagaimana Fian melihat itu?

Bagus. Asal bisa memilih kompetisi yang bisa membentuk kompetensi menulis. Namun, memang perlu disadari, ada banyak cara/langkah bagi seseorang yang punya minat tinggi memperkenalkan karyanya pada publik atau setidaknya mengukur kemampuan pribadi dalam hal kepenulisan, salah satunya adalah ikut kompetisi menulis. Jika cara ini menjadi tolak ukur untuk menaikkan level atau kualitas diri, menurut saya sah-sah saja untuk dilakoni. Jika ada pertimbangan lain selain ikut kompetisi menulis juga sah-sah saja. Intinya, temukan jalan yang pas bagi karya-karya yang telah dituliskan.

Baca juga: Mas Marco Kartodikromo: Penyair Politik Era Kolonial

Kami mengenal Fian sebagai penulis puisi, beberapa dari kami pernah membaca karya-karya kamu. Bahkan ada yang pernah mengatakan, Fian terburu-terburu berpindah ke bentuk lain. Apa yang melatarbelakangi Fian memutuskan menulis prosa?

Sebelum redaksi epigram mengenal atau mengetahui saya sebagai penulis puisi—pada dasarnya, saya mulai aktivitas menulis berupa catatan harian dan cerpen. Sebelum tamat SMA, saya sempat ikut dan sangat bersyukur waktu itu menjadi Pemenang Pertama Lomba Penulisan Cerpen Islami se-Kabupaten Bulukumba yang diadakan oleh Pesantren Babul Khaer Kalumeme, Bulukumba. Namun, sayang pihak penyelenggara tidak pernah mengonfirmasi hadiah berupa uang saku dan piala yang dijanjikan. Saya jadikan pengalaman berharga saja dan percaya, jalan kepenulisan memang sungguh terjal. Hehe. Jadi kalimat, terburu-buru berpindah ke bentuk lain di balik pertanyaan ini kurang tepat menurut saya.  

Mungkin ini sedikit serius. Bagaimana Fian melihat kesusastraan di Sulawesi Selatan, khususnya di Makassar? Optimis kah dengan yang ada saat ini?

Optimis. Keyakinan saya ini akan terjawab, tiga sampai lima tahun ke depan akan banyak penulis muda yang terbentuk, baik dari aspek kepribadian dan kualitas karya yang akan jadi perbincangan positif.

Baca juga: Aslan Abidin: Belum Ada Perguruan Tinggi untuk Penulisan di Indonesia

Karya sastra tidak akan pernah lahir dari kekosongan budaya. Jika Fian sepakat dengan pernyataan itu, selain menjadi setting/latar suasana dan instrumen-instrumen lain secara intrinsik, pengaruh macam apa yang Fian rasakan saat menggarap novel Kematian Anda yang Tak Sia-sia dan Bertarung dalam Sarung?

Saya sebenarnya lebih senang mengatakan, bahwa karya sastra yang saya hasilkan dari dua judul yang redaksi epigram sebutkan di atas, tidak lepas dari masyarakat dan lingkungan. Hal-hal ini yang serius saya amati, catat, dan tuliskan lebih dalam.

Fian pernah menjadi salah satu emerging writer pada perhelatan Makassar International Writers Festival, kalau tak salah pada 2018. Nah, sebagai penulis yang lahir dari suatu festival sastra, bagaimana Fian melihat itu? Apakah sudah bisa merepresentasikan gejolak sastra yang ada di Makassar, khususnya?

Saya senang jika saya dianggap muncul sebagai penulis dari festival sastra. MIWF memang membuka gerbang bagi karya saya dipertimbangkan dan diterbitkan penerbit. Saya lolos kurasi setelah mengirim kelima kalinya di MIWF, tetapi sebelumnya saya juga telah berusaha keras memperkenalkan karya saya kepada para pembaca. Menurut saya, kehadiran Festival Sastra salah satunya MIWF membantu para penulis untuk mengembangkan diri, karya, dan memperluas pertemanan/jaringan.

Tahun ini, Fian menjadi salah satu peserta Residensi, tepatnya di Perancis. Ngomong-ngomong, karena beberapa pembaca dan awak redaksi epigram penasaran, kamu sedang meriset apa di negara itu dan apa rencanamu setelahnya?

Saya menelusuri jejak Arthur Rimbaud, penyair abad ke-19 Perancis selama residensi atas bantuan Komite Buku Nasional dan saat ini saya menulis novel dengan meminjam fragmen kehidupan penyair tersebut. Saya berharap, semoga bisa menuliskannya dengan baik.

Sebagai penulis yang pernah menerbitkan buku di dua jalur, indie dan mayor. Seperti apa Fian melihat industri penerbitan lokal, di Makassar misalnya. Pentingkah penerbit macam itu hadir?

Saya sebenarnya terganggu dengan kata lokal di pertanyaan ini. Saya bahkan melihat Makassar juga adalah pusat. Menerbitkan buku di penerbit Makassar juga pilihan, saya melakukannya di buku puisi Semangkuk Lidah.

Janganmi serius-serius deh, yang ringan-ringan mo lagi. Nah, bagaimana Fian selaku sastrawan melihat fenomena nikah muda?

Menikah muda adalah pilihan yang menyenangkan dan jika memang dianggap kewajiban, penting tidaknya menikah muda berpulang pada masing-masing anak muda. Hehe

Jadi kapan rencana menikah ini bos?

Belum direncanakan. Namun, kalau bisa secepatnya agar ada yang membantu memperhatikan, khususnya pola makan.

Baca juga: Persepsi Intertekstual dalam Kumpulan Puisi Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi

Oh iya, hampir lupa, ini banyak yang tanyakan. Kenapa Fian tidak merokok?

Karena merokok dapat menyebabkan banyak penyakit. Terutama penyakit kantong kering.

Terakhir mi, sebagai seorang yang digadang-gadang akan mengalahkan popularitas Faisal Oddang dan Ibe S. Palogai hahaha, bagaimana Fian melihat perkembangan penulis lokal di era sekarang?

Baik Faisal dan Ibe, mereka berdua kawan saya yang masing-masing memiliki keunggulan dalam berkarya. Dua penulis ini punya visi. Setiap langkah dan keputusan, telah mereka pertimbangkan dengan baik-baik. Karena itu saya senang bergaul dengan mereka. Oh ya, lagi-lagi kata lokal yang kini disandingkan dengan kata penulis membuat saya terganggu. Hehe. Pada dasarnya, para penulis berusia muda bermunculan, karena mereka sudah tahu pada siapa atau pembaca model seperti apa karya mereka dibaca/dibincangkan.

Facebook Comments
No more articles