Lanjutan dari artikel terjemahan sebelumnya, 20 Karya Nonfiksi Terbaik Sepanjang Satu Dekade.

Isabel Wilkerson, The Warmth of Other Suns: Epic Story of America’s Great Migration (2010)

Sejarah tentang migrasi besar-besaran adalah sebuah wahyu, setidaknya bagi Wilkerson—ketika kita berbicara tentang migrasi dalam konteks sejarah Amerika, kita akan cenderung berfokus pada kisah-kisah kemenangan para imigran yang datang ke Amerika, namun bagaimana dengan migrasi besar-besaran yang telah terjadi secara internal? Antara tahun 1920 dan 1970, ada jutaan orang Afrika-Amerika bergerak ke utara dari selatan yang penuh prasangka, diiming-imingi oleh pekerjaan yang dengan gaji tinggi serta rasisme yang relatif lebih sedikit.

Diperlukan banyak hal untuk membuat seseorang meninggalkan rumah mereka, Wilkerson melakukan pekerjaan yang sangat baik untuk mengingatkan kepada kita betapa buruknya kehidupan di bagian Selatan bagi orang-orang berkulit hitam.

Baca juga: Kawan Dekat yang Tinggal di Tempat Jauh

The Warmth of Other Suns tidak hanya memukau—karya itu menggetarkan, membawa kita ke dalam kehidupan orang-orang yang sulit diraih oleh sama-sama pengungsi dan petualang, dan benar-benar hebat menceritakan kisah hebat dalam skala besar. Jangan berpikir itu berarti tidak ada momen kecil kemanusiaan yang diunggulkan isi buku ini—untuk setiap kalimat tentang perilaku jutaan orang, tersiar peristiwa yang mengingatkan kita bahwa kita tengah membaca tentang individu, dengan harapan, harapan mereka, impian, impian mereka sendiri, dan perjuangan. –Molly Odintz, Editor Associate CrimeReads

Robert A. Caro, The Passage of Power: The Years of Lyndon Johnson (2012)

Robert Caro pertama kali dikenal lewat karyanya The Powerbroker, biografi kota yang memecah belah Robert Moses pada tahun 1974. Sulit untuk memilih satu untuk direkomendasikan, namun The Passage of Power: The Years of Lyndon Johnson yang bersetting tahun 1958-1964 berhasil menangkap periode paling kacau dalam kehidupan presiden Amerika Serikat ke-36, Lyndon Baines Johnson (LBJ) dalam politik, saat ia beralih dari senator yang ditakuti ke Vice Presiden (VP) yang dilindungi, dan tiba-tiba menjadi tokoh yang sangat berpengaruh di dunia.

Ada sesuatu yang sangat menyentuh terkait kompleksnya karya ini—saat ini Caro berusia 83 tahun dan telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk riset tunggal ini. Istrinya merupakan satu-satunya asisten peneliti yang disetujui, bersama-sama. Mereka sudah ‘mengalah’ di setengah abad mengkritik LBJ untuk mengungkap inti jiwa yang sensitif, kompleks, dan selalu berjuang.

Baca juga: Panduan Pemilu untuk 2024

Saya mempunyai guru di sekolah menengah, dulu, yang menghabiskan 20 tahun waktunya mengerjakan disertasinya tentang LBJ. Dia bahkan menghabiskan akhir pekannya di perpustakaan LJB di Texas University, Austin sembari bekerja penuh waktu sebagai guru sekolah umum. Terdapat sesuatu mengenai LBJ yang menginspirasi orang-orang untuk mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mencari tahu tentangnya, dan dalam prosesnya, mencoba memahami dunia yang membentuknya, dan yang ia bentuk. Akan tetapi, berkat Caro, kita semua bisa memahami LBJ dengan sedikit lebih baik. –Molly Odintz, Editor Associate CrimeReads

Tom Reiss, The Black Count: Glory, Revolution, Betrayal, and the Real Count of Monte Cristo (2012)

Dengan cukup ciamik, Tom Reiss membuka biografi tentang Thomas Alexander-Dumas, ayah dari penulis Alexander Dumas, dengan sebuah adegan yang nampaknya seperti di film-film ‘perampokan’ intelektualitas. Pada sebuah perpustakaan di pedesaan Prancis, Reiss meyakinkan seorang pejabat kota untuk membuka brankas yang kunci kombinasi angkanya hanya diketahui oleh pustakawan yang sudah mati. Apa yang ditemukan Reiss merupakan dasar dari sebuah kisah yang besar dan, sampai saat itu, sebagian besar kisah yang belum diketahui dari orang yang menginspirasi berbagai kisah yang paling dicintai putranya.

The Black Count: Glory, Revolution, Betrayal, and the Real Count of Monte Cristo juga merupakan studi kasus politik rasial kompleks yang pernah terjadi selama revolusi Prancis. Dumas lahir pada tahun 1762 di Saint-Domingue, bekas koloni Karibia-Prancis yang kelak menjadi Haiti. Sebagai putra seorang marquis (gelar kebangsawanan) Prancis dan seorang budak kulit hitam yang dibebaskan, Dumas mendapat dua hal dari kedua subjek tersebut, hak istimewa dari yang pertama dan penghinaan yang diderita oleh yang kedua. Ayahnya, semisal—pernah menjualnya sebagai budak dalam industri perbudakan saat usianya masih 12 tahun hanya untuk membeli kebebasannya, lalu kemudian membawanya ke Prancis, tempat pemuda itu mendapatkan pendidikan aristokrasi.

Baca juga: Puisi dan Kota

Pertikaian terakhir dari ayahnya mendorong Dumas bergabung dengan militer. Reiss menciptakan sosok Dumas yang dinamis dan spekulatif berdasarkan catatan surat, laporan dari medan perang, catatan Dumas sendiri, dan banyak lagi. Pada waktu berusia 30 tahun, ia memimpin sebuah divisi dengan lebih dari 50.000 tentara. Hal tersebut tentu bukanlah kebetulan, bahwa prestasi di dunia militer yang mengguncang Reiss cukup menggambarkan suara seperti peristiwa di luar The Count of Monte Cristo atau The Three Musteekers.

Meskipun sang jenderal menjadi komandan kavaleri di bawah pimpinan Napoleon Bonaparte, Reiss menyarankan bahwa Napoleon sendiri yang menghancurkan Dumas tidak hanya dari segi individu atau pribadi, namun juga sejarah dan kenangannya. Lagipula Napoleon memperkenalkan kembali konsep perbudakan di Haiti, yang berseberangan dengan impian republik kontemporer pro Dumas pemimpin revolusi Haiti, Toussaint Louverture, seorang komandan militer keturuna Afrika abad 18 yang sangat diagung-agungkan.

Reiss menggali dan mengeksplorasi kisah yang berakhir tragis dari seorang laki-laki yang terkenal di masanya karena menikmati kenikmatan sosial politik yang tidak pernah terdengar terlebih dirasakan bagi laki-laki ras campuran di Amerika, sebuah negara yang tentu saja pernah mengalami revolusinya sendiri pada generasi sebelumnya. –Aaron Robertson, Asisten Editor

Elizabeth Kolbert, The Sixth Extinction (2014)

Premis utama buku pemenang hadiah Pulitzer ini merupakan fakta ilmiah sederhana: ada lima kepunahan massal dalam sejarah planet ini, dan segera akan menemui kepunahan yang keenam. Perbedaannya, Kolbert menjelaskan, bahwa hal tersebut disebabkan oleh manusia, yang telah mengubah bumi secara drastis dalam waktu singkat. Dia memperlihatkan pada halaman pertama bahwa manusia (yang merujuk, homo sapiens, manusia seperti kita) baru ada sekitar dua ratus ribu tahun—jumlah waktu yang sangat singkat untuk melakukan kerusakan yang cukup untuk menghancurkan sebagian besar kehidupan dunia.

Baca juga: Manusia oleh Yuval Noah Harari

Karya Klobert menjadi unik, karena mampu menggabungkan hasil riset berbagai disiplin ilmu (sains teknologi dan sosial humaniora) dalam mendukung argumentasinya yang sangat komprehensif dan luas tentang bagaimana lautan, udara, populasi hewan, ekosistem bakteri, dan elemen alam lainnya menjadi rawan, menghadapi kondisi yang berbahaya dari perbuatan manusia, sementara ia juga menelusuri sejarah dengan pendekatan-pendekatan seperti teoru evolusi, kepunahan, dan prinsip-prinsip lainnya.

Itu adalah argumen yang menyedihkan sekaligus mengerikan di hadapan wajah bumi kita, tapi itu dibuat begitu berhati-hati, bahkan sangat puitis—narasi yang ditulis Kolbert sangat memprihatinkan, sesekali dengan sudut pandang orang pertama, serta beberapa yang merupakan hasil wawancara dengan ahli atau pakar terkait, yang mampu memberikan pandangan yang objektif, menjadikan buku ini lebih dari sekadar risalah. Kolbert seolah berbicara ke kita lewat bahasa sains yang paling rumit, namun mampu menghancurkan persepsi bencana massal tersebut.

The Sixth Extinction barangkali menjadi pencapaian terbesar dari kepunahan massal sebagaimana yang ia sebut di atas. Dan itu pas dengan argumennya, “kepunahan massal kita saat ini tidak terasa seperti asteroid yang menghantam planet bumi”. Namun terhimpun oleh cara-cara kecil di mana kita menjalani hidup. Kita merangkak, Kolbert menerangi, menuju akhir dunia. –Olivia Rutigliano, Anggota Editorial CrimeReads

(Bersambung)

Diterjemahkan secara langsung oleh Wahyu Gandi G editor epigram.or.id dari artikel The 20 Best Works of Nonfiction of the Decade oleh Emily Temple dimuat di lithub.com

Facebook Comments
No more articles