”Gambaran desa merupakan wajah asli kehidupan kota dan sebaliknya”, sekilas sebuah pemaparan dari dua pakar ekologi ternama, Fred Magdoff dan John Bellamy Foster dalam bukunya “Lingkungan Hidup dan Kapitalisme”. Kota adalah pusat peradaban manusia, di sana manusia akan hidup dengan polemiknya masing-masing, terbentuk dan terpolarisasi hingga melahirkan sebuah karakter yang menjadi ciri khasnya. Sekalipun karakter yang berbeda-beda namun itu merupakan sebuah keniscayaan.

Setiap masa, kita bisa menyaksikan peralihan tempat dari desa ke kota begitupun sebaliknya. Namun mayoritas terjadi adalah manusia dari desa ke kota dengan misi dan alasan yang beranekaragam. Manusia dari kota ke desa hanya akan nampak padat saat perayaan-perayaan hari besar.

Kota adalah nasib yang menyimpan segudang mimpi bagi manusia. Bukan hanya kemewahan bangunan dan kecanggihannya yang membuat manusia menemuinya, di kota ada hidup yang mereka pertaruhkan. Mengubah nasib, mencari peruntungan hingga melanjutkan cita-cita. Semuanya punya tujuan yang berbeda-beda pula.

Namun di balik keindahan kota yang membuat manusia memantaskan diri untuk hidup di sana, tersimpan sekelumit problematika. Kota tak melulu menawarkan keindahan dan keramahan, itu semua tergantung bagaimana manusia memperlakukannya. Sejatinya, kota adalah kata benda sedangkan manusia adalah kata kerja. Kota akan hidup, jahat dan baik karena manusianya begitupun sebaliknya.

Sejatinya, kota menawarkan kesejahteraan bagi manusia yang bernaung di bawahnya. Kiranya begitulah pandangan awam terhadap kota. Namun apakah kota betul-betul menawarkan kesejahteraan atau tidak? Tentu jawaban pertanyaan tersebut adalah iya atau tidak. Secara denotatif, maka kita akan menjawab iya namun secara konotatif butuh analisa objektif.

Baca juga: Alusi Pendidikan dan Bagaimana Kebetulan Bekerja

Barzak dalam sebuah esainya, Makassar (mungkin) Perlu Belajar dari Khayelitsha, yang dimuat di revi.us mengulas sebuah kota kecil di Afrika Selatan yang bernama Khayelitsha. Kota yang dibangun pada era Apartheid dan memiliki tujuan untuk meminggirkan warga kulit hitam dari pusat kegiatan ekonomi dan politik.

Permasalahan ekonomi acapkali menjadi ledakan bom kriminalitas di sebuah kota. Pada dasarnya, bukan hanya Khayelitsa di Afrika Selatan yang mengalami hal demikian namun setiap kota yang ada di Indonesia hampir dipastikan menghadapi tingkat kriminalitas yang tinggi pula meskipun jenis persoalannya berbeda-beda tapi dengan akar masalah yang sama, yakni perihal ekonomi.

Seperti halnya yang terjadi di Kota Makassar, sebuah kota dimana tulisan ini dirangkai. Siapa yang tak kenal Makassar? Selain daripada makanan tradisionalnya yang dikenal di berbagai wilayah yang ada di Indonesia, Coto Makassar. Makassar juga dikenal sebagai kota dimana saat para mahasiswanya turun ke jalan, puluhan ban bekas di bengkel terdekat harus dialih-tempatkan di tengah jalan dan tak jarang ritual saling lempar batu dengan pihak keamanan menjadi penutup aksi demonstrasi.

Baca juga: Ada Apa Dengan Makassar?

Cerita tersebut bukanlah hasil rekayasa semata melainkan hasil diskusi dengan beberapa mahasiswa yang berada di luar kota Makassar yang hampir mengatakan hal yang serupa hanya redaksi katanya yang berbeda-beda.

Hal senada pun turut diiyakan oleh Asri Abdullah dan Ostaf Al-Mustafa melalui buku garapannya yang berjudul, Kota Para Demonstran, terbit perdana 2019. Buku tersebut menceritakan sejarah perjuangan mahasiswa Makassar dari masa ke masa dengan tujuan tak lain hanya menyediakan medium merawat ingatan.

Dalam perkara lain, Makassar pun tak jauh berbeda dengan Khayelitsa di Afrika Selatan ataupun kota-kota lain yang ada di Indonesia yang juga ramai akan tingkat kriminalitasnya. Melalui sebuah hastag yang pernah beredar #MakassarTakAman di beberapa media, menandakan bahwa Makassar pun tak jauh berbeda dengan derita kota-kota besar lain. Hastag tersebut bermunculan ditandai dengan berjatuhannya beberapa korban yang harus dilarikan ke rumah sakit.

Mayoritas dari mereka adalah para korban dari tukang begal, sebuah penamaan bagi kelompok pelaku kriminal di Makassar yang acap menggunakan sepeda motor dan bersenjatakan ‘busur’ beserta senjata tajam lainnya. Mereka tak sungkan-sungkan melukai para korbannya.

Antara Khayelitsa dan Makassar terdapat perbedaan penyelesaian masalah. Khayelitsa segera mengakhiri masa pemerintahan yang berkuasa dan melakukan pembenahan total. Pemerintahan yang baru fokus pada penciptaan rasa aman terhadap masyarakatnya melalui program pemerintahan yang terbilang kreatif yakni pengadaan Active Box sesuai yang dikutip dalam esai Barzak.

Baca juga: Kota dan Kenangan

Active Box adalah sebuah bangunan yang dibangun oleh pemerintah setiap 500 meter yang dijaga oleh pengawas terlatih untuk melindungi para pejalan kaki dari tindakan kriminalitas di jalanan sekaligus sebagai tempat pelarian bagi masyarakat yang tengah berada dalam bahaya.

Kota dan tindakan kriminalitas merupakan dua perkara berbeda namun tak saling terpisahkan, akan tetapi bukan berarti sebuah kemustahilan tindakan kriminalitas dapat diminimalisir atau bahkan dihilangkan. Misalnya, Makassar dan tukang begal ibaratkan tubuh dan penyakit maka untuk menyembuhkan tubuh dari penyakit dibutuhkanlah obat.

Imam Al-Gazali dalam bukunya The Canon of Medicine menjelaskan bahwa pada hakikatnya, tak ada penyakit yang tak bisa disembuhkan. Semua penyakit memiliki penawar yakni obat. Dan obat dapat diperoleh di dalam dan luar tubuh.

Makassar adalah tubuh dan tukang begal adalah penyakit. Jika konsep filsuf muslim Gazali digunakan, maka obat dari penyakit yang diderita oleh Makassar dapat diperoleh dalam diri maupun luar dirinya. Dengan kata lain, tubuh manusia ketika mengalami ketidakstabilan seperti menurunnya sistem imun dan lain sebagainya maka rawan akan terserang penyakit.

Begitupun Makassar, jika dalam pengelolaan kota terdapat sesuatu yang tidak stabil maka akan berdampak pada meningkatnya tindakan kriminalitas. Segala bentuk tindakan kriminalitas yang merujuk pada perampasan hak orang lain, seperti maling, tukang begal dan lain-lain semata-mata disebabkan oleh ketimpangan struktur pada segi perekonomian.

Baca juga: Kamu Ditipu, Radikal hanya Korban, terus Siapa Pelakunya?

Kendati demikian, Gazali menyimpulkan pula bahwa obat dari segala penyakit terdapat dalam diri sendiri meskipun ia dalam bukunya memberikan dua pilihan. Namun di akhir cerita, ia memberikan sebuah ilustrasi bahwa mencari penawar di luar diri dapat membahayakan diri sendiri dan penuh dengan konsekuensi seperti kehilangan diri sendiri. Sementara Makassar tentu tak ingin kehilangan dirinya.

Ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial terbilang masih agak parah di Makassar sehingga tingkat kriminalitas meningkat tiap tahunnya. Contoh paling signifikan mengenai ketimpangan ekonomi yakni masih banyaknya ‘Manusia Gerobak’ yang menggantungkan hidupnya di tong sampah.

Dikatakan ‘Manusia Gerobak’ bukan karena hanya menggunakan gerobak menyusuri setiap tong-tong sampah di pusat kota di subuh hari, ada juga yang menggunakan becak, penamaan tersebut bukan merujuk kepada proses menjatuhkan harkat dan martabat manusia namun nama yang dinilai manusiawi selain daripada payabo-yabo’ (pemulung).

Makassar di subuh hari akan nampak asing tanpa lalu-lalang para Manusia Gerobak. Mereka akan sangat mudah dijumpai. Saat sebahagian manusia tengah terlelap di subuh hari yang dingin, mereka ada di tong-tong sampah di sepanjang jalan kota. Mengumpulkan dan memilah barang-barang yang masih bisa ditukar menjadi rupiah untuk melanjutkan hidupnya beserta keluarganya.

Tesis mengenai penyebab kemiskinan karena kemalasan bekerja mampu dibantah oleh para Manusia Gerobak. Pada dasarnya, bukan kemalasanlah yang membuat mereka merasakan kemiskinan. Jika seandainya mereka malas maka mereka tak mungkin memutuskan menyusuri subuh yang dingin demi mengumpulkan barang-barang yang masih dapat disulap menjadi uang.

Baca juga: Mengapa Mahasiswa Tidak Lagi Menyukai Aksi Demonstrasi?

Kemiskinan hadir bukan karena kemalasan manusia untuk bekerja melainkan adanya sistem dan relasi sosial yang timpang. Di jaman yang beraroma kapitalistik ini, persaingan merupakan arena sedangkan pemenang dan pecundang adalah keniscayaan maka tak ayal keadilan akan sangat susah ditemukan dan dirasakan.

Dunia memiliki orientasi individualistik. Persaingan dalam merebut alat-alat produksi menciptakan embrio kemiskinan. Betapa tidak, segala sesuatunya mampu dicapai dengan kemapanan ekonomi sehingga yang lemah pada wilayah itu akan jatuh pada kubangan kemiskinan.

Tingkat kemiskinan yang tinggi di sebuah kota akan dengan mulus membuka tabir kejahatan dan kekerasan di mana-mana. Senada dengan itu, Prof Jamil Samil dalam bukunya Violence and Democratic Society memperjelas bahwa kemiskinan dan ketidakadilan sosial di negara kapitalis adalah bentuk jelas dari kekerasan karena pembiaran.

Begitu pula kondisi yang dihadapi di beberapa desa yang ada di Sulawesi Selatan agak memiliki kemiripan yakni eksploitasi dan perampasan ruang hidup. Dirilis dari data KPA Sulawesi Selatan, pada tahun 2017 terdapat 659 kejadian konflik agraria dengan luasan 520.491,87 Ha dan melibatkan 652.738 KK yang tersebar di beberapa sektor, seperti perkebunan, infrastruktur dan lain-lain.

Baca juga: Anak-anak Masa Lalu yang Tak Lekang oleh Waktu

Tentunya, yang memiliki wewenang dalam memecahkan permasalahan yang ada di desa dan di kota khususnya Sulawesi Selatan adalah pemerintah setempat. Prof. Kasim Mathar dalam bukunya Membuka Jendela Langit, di salah satu tulisannya yang berjudul Mencari Unta Hilang di Atas Atap Rumah Gubernur, menceritakan kisah Ibrahim bin Adham, Raja Balkh yang meninggalkan istananya dan pergi mengembara menjadi peminta-minta. Sebelumnya, pada suatu malam terdengar keributan di atas atap istana Ibrahim.

Saat raja bertanya kepada orang-orang tersebut terkait apa yang mereka lakukan di atas atap, orang-orang tersebut menjawab, “kami sedang mencari unta kami yang hilang”. Raja Ibrahim tentu heran dan bertanya, “mengapa unta yang hilang dicari di atas atap?”. Mereka menjawab, “kami hanya meneladani Baginda yang hanya duduk di atas singgasana mendambakan kedekatan kepada Allah.

Mungkinkah mengharapkan kedekatan kepada Allah hanya dengan di tempat seperti ini?”. Ibrahim pun terdiam dan merenungkan jawaban dari para pencari unta tersebut. Sejak saat itu hidup Ibrahim berubah dan kesejahteraan menghampiri seluruh penduduk sekitar kerjaaan.

Kisah Raja Ibrahim sangatlah menginspirasi dan patut kiranya pemerintah di berbagai wilayah khususnya kota Makassar meneladani kisah tersebut sehingga tingkat kejahatan dan ketimpangan ekonomi berubah menjadi kesejahteraan. Dan juga melihat kota Makassar lebih dekat bukanlah hanya pada subuh hari melainkan setiap waktu dan masa. Makassar akan tampil lebih ramah bukan hanya pada kemewahannya melainkan pada mereka juga yang tinggal di gubuk pinggiran kota.

Penulis: Askar Nur, Mahasiswa jurusan Bahasa & Sastra Inggris Fakultas Adab & Humaniora UIN Alauddin Makassar

Facebook Comments
No more articles