Hidup begitu sulit, dan hanya itu yang kita punya. Saya sungguh membuka tulisan ini dengan kalimat yang sulit saya mengerti. Tetapi percayalah, saya hanya ingin mengatakan bahwa hidup ini memang sungguh sulit, dan  kita semua harus memanfaatkan kesempatan sekecil apapun itu.

Karena hidup begitu sulit, maka tak heran jika setiap kali pendaftaran Calon Pegawai negeri Sipil (CPNS) dibuka, ada ribuan, hingga jutaan orang berbondong-bondong untuk ikut serta dalam kontestasi yang pernah begitu langkah beberapa tahun yang lalu itu. Dan demikianlah apa yang sedang terjadi saat ini, euforia pendaftaran CPNS sedang menyelimuti jiwa-jiwa muda yang ingin menjadi PNS dengan memenuhi persyaratan untuk mendaftar.

Saya mengamati dan terhubung dengan banyak orang yang sedang berjuang untuk menaklukkan Computer Assisted Test (CAT) tahun ini. Baik yang berkomunikasi langsung dengan saya maupun mereka yang saya pantau dari sosial media. Dari relasi tersebut, saya menyadari satu persoalan yang berbahaya dari calon aparatur sipil negara (ASN): minimnya literasi informasi.

Dunia berubah dan seharusnya manusia mampu mengikuti perubahan itu. Sejak dimulai pengggunaan sistem CAT pada tahun 2014, penerimaan CPNS hingga hari ini sangat bergantung pada perkembangan teknologi informasi. Perbedaan medium kemudian melahirkan  masalah yang berbeda pula. Terutama terkait dengan apa yang kita sebut sebagai banjir informasi dan kedangkalan informasi.

Baca juga: Mengapa Kita Enggan Membaca?

Secara sederhana literasi informasi sangat erat kaitannya dengan pengelolaan informasi. Ada lima tahapan yang mesti dilalui sebagai wujud dari pengaktulisasian prinsip literasi informasi di dalam kehidupan sehari-hari. Pertama kemampuan mengindentifikasi informasi yang dibutuhkan, mampu mengatur informasi yang didapatkan, mampu mengindetifikasi sumber-sumber informasi terbaik yang sesuai kebutuhan, mencari sumber yang dibutuhkan, mampu mengevaluasi secara kritis sumber-sumber yang didapatkan. Kemudian, tahapan akhir menggunakan dan membagikan informasi tersebut.

Pada umumnya, masalah utama pelamar CPNS adalah kendangkalan pengaplikasian literasi infromasi. Mereka malas berproses dan sangat menyukai sesuatu yang instan. Mereka lebih senang bertanya kepada orang lain ketimbang mencari tahu sendiri informasi terkait dengan CPNS. Mereka lebih senang untuk bertanya daripada mencoba membandingkan persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan di setiap instansi. Mereka seperti bayi yang selalu ingin disuap informasi.

Tidak hanya itu, mereka lebih senang bertanya ketimbang membaca dan menganalisis terlebih dahulu informasi-informasi yang berkaitan dengan pendaftaran CPNS. Sederhanaya, mereka sangat malas mengelola informasi dan melakukan verifikasi informasi melalui sumber-sumber yang utama. Akhirnya, segala informasi yang mereka ketahui hanya bersumber dari pihak kedua. Padahal sangat mungkin ada distorsi informasi jika sudah berpindah ke orang kedua.

Baca juga: Alasan Untuk Tidak Menjadi Seorang Petani

Hal ini mungkin tampak sederhana dan lumrah. Akan tetapi, sesungguhnya hal ini bisa menjadi penilaian awal yang dapat memperlihatkan betapa rendahnya kemampuan literasi sang pelamar. Pernyataan maupun pertanyaan sesungguhnya merupakan bagian dari cerminan diri. Jika semua pertanyaan yang diajukan sesungguhnya bisa dijawab dengan membaca, maka itu sungguh menjadi bukti bahwa ia tidak mampu mengelola informasi dengan baik bahkan mungkin dengan kata lain kecakapan literasi informasinya sangatlah buruk.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah seberapa penting kemampuan literasi (informasi) untuk menjadi seorang Aparatur Sipil Negara (ASN). Saya sungguh tegas mengatakan bahwa kemampuan literasi adalah hal mendasar dan menjadi modal utama untuk menjadi seorang ASN. UU No 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara menyatakan bahwa tiga fungsi utama seorang ASN (1) Pelaksana Kebijakan (2) Pelayan Publik (3) Perekat dan Pemersatu Bangsa. Ketiga fungsi tersebut akan terhambat jika seorang ASN tidak memiliki kemampuan literasi yang baik.

Coba bayangkan, bagaimana cara seorang ASN menerjemahkan dan mengaktualisasiskan sebuah kebijakan kalau ia tidak mampu mengelola informasi secara baik dan kritis. Kebijakan tersebut akan diarahkan seperti apa. Kemudian, terkait dengan palayanan publik, tanpa kemampuan literasi yang baik, hanya akan menghambat pelaksaan pelayanan.

Baca juga: Betapa Mengerikannya Menjadi Sarjana

Dan terakhir, orang-orang yang tidak mampu mengelola informasi dengan sangat rentang dengan serangan hoax, hate speech, dan fake news. Fenomena sosial kita menunjukkan bahwa sumber utama perpecahan saat ini adalah tiga kebodohan di atas. Tanpa literasi informasi yang baik, mereka bukan merekatkan bangsa, tetapi justru hanya akan membuatnya tercera-berai.

Jika teman-teman berpikir sedari awal bahwa tujuan utama kalian menjadi seorang ASN karena ingin menjadi kaya raya, menjadi seorang menantu idaman, dan hidup yang aman, maka sepertinya kalian harus mengurungkan niat untuk menjadi seorang ASN. Pekerjaan ASN adalah pekerjaan yang terkait dengan pengabdian. Gaji dibayar oleh negara untuk mengabdi dan melayani masyarakat, bukan untuk gaya-gayaan.

ASN adalah bagian daripada sistem birokarasi negara. Di sana terkadang hidup ini bukan lagi miliki diri kita sendiri, tetapi milik negara dengan serangkaian tata kelolah dan sistemnya yang terkadang rumit. Jangan berpikir kolot bahwa seorang ASN ibaratnya adalah seorang raja kecil, namun justru ASN adalah seorang abdi. Salah satu fungsi utamanya adalah menjadi pelayan masyarakat.

Terakhir, hapuskan imajinasi kalian bahwa PNS akan diperlakukan sebagai seorang raja kecil, apalagi sebagai gamers zuma dan onet. Jika kita memaknai dengan baik tanggungjawab ASN maka itu hanya ada di dalam angan-angan saja.

Facebook Comments
No more articles