Kamerad, memang benar: akhir sebuah dekade sudah dekat. Cukup sulit rasanya, memprovokasi kecemasan, berkompromi terhadap moral, namun setidaknya periode tersebut telah melahirkan beberapa literatur yang sialnya sangat-sangat baik. Oleh karena itu, seperti tugas utama kami di laman ini, sebagai situs sastra dan budaya—meskipun dengan penuh kesadaran mengenai hasil pekerjaan ini berpotensi untuk tidak menghasilkan apa-apa dalam beberapa pekan ke depan.

Kami akan melihat yang—setidaknya, menurut kami yang terbaik, serta paling penting (keduanya tidak selalu sama) dari berbagai buku-buku nonfiksi yang terbit dalam satu dekade terakhir. Kami menyusunnya menjadi sebuah daftar. Kami memulainya dengan novel debut terbaik, kumpulan cerita pendek terbaik, kumpulan puisi terbaik, biografi terbaik, dan kumpulan esai terbaik satu dekade ini.

Namun, untuk daftar keenam kami mengalami sedikit kesulitan. Kami melihat apa yang kami (mungkin saja keliru) sebut sebagai general nonfiction: semua nonfiksi kecuali biografi dan esai (yang masuk dalam daftar mereka sendiri) yang terbit dalam bahasa Inggris antara tahun 2010 hingga 2019.

Baca juga: Penulis Punya Tanggung Jawab

Pembaca yang mulia, sejujurnya kami merasa agak curang. Kami hanya memilih 20 dari ratusan buku-buku yang mungkin di kepalamu lebih masuk akal, dengan topik bahasannya yang luas. Kami sadar, angka 20 itu bahkan tidak cukup menggambarkan semuanya, sungguh. Namun begitulah sebuah daftar bekerja.

Buku-buku dibawah ini terpilih setelah serangkaian perdebatan (juga pertemuan) yang cukup panjang oleh staf Hub Sastra. Air mata terjatuh, perasaan yang terluka, buku-buku tersebut dibaca kembali. Seperti yang nantinya akan kamu lihat, kami merasa kesulitan memilih hanya sepuluh—jadi kami juga menyertakan jejak pendapat yang berbeda, serta daftar yang lebih panjang. Seperti biasa, kamu bebas meninggalkan pendapatmu di kolom komentar mengenai daftar yang ‘menurut’ kamu kurang sepakat dengan daftar kami.

Dua Puluh Teratas

Michelle Alexander, The New Jim Crow (2010)

Saya membaca The New Jim Crow saat pertama kali terbit. Saya mengingat respon publik pembaca yang antusias—tidak hanya datang dari kalangan akademisi, (secara teknis, ini buku ilmiah, dan Alexander adalah seorang akademisi) namun justru lebih luas lagi. Buku tersebut diterbitkan pada masa pemerintahan Barrack Obama, suatu masa atau interval dimana menurut banyak kalangan beranggapan leburnya relasi antar ras (kulit putih dan hitam) di Amerika—semacam fenomena post-rasialisme yang fantastis.

Meskipun sulit, terlebih melihat ke belakang pada terdapa zeitgeist (pemikiran dominan pada suatu masa yang menggambarkan dan mempengaruhi budaya di masa itu) khusus sekarang ini, (ketika, dan saya masih tidak percaya menulis ini, Donald Trump adalah presiden Amerika Serikat) tanpa mengutuk ketidaktahuan dan kenaifan dari pola pikir itu, namun kehadiran buku Alexander mendesak dan bereaksi terhadap fenomena “buta warna” pada tahun 2012, sebagai hal yang palsu, atau sebagai—sekadar bentuk lain dari ketidaktahuan. “Kami belum mengakhiri sistem kelas sosial yang rasis di Amerika,” katanya, “kami hanya merekonstruksi”.

Baca juga: Puisi dan Kota

Penelitian dilakukan Alexander tentang penangkapan massa laki-laki berkulit hitam, terutama melalui perang dan narkoba, ia menjelaskan bagaimana pemerintah Amerika Serikat sendiri, melalui sistem peradilannya melakukan tindakan tidak adil dengan pola rasisme yang begitu signifikan—yang justru tidak hanya secara harfiah menundukkan laki-laki berkulit hitam dengan memenjarakan mereka, melainkan pula menghilangkan hak-hak normatif mereka serta mengubahnya menjadi warga negara kelas dua setelah peristiwa tersebut.

Seperti seorang mantan narapidana, dia belajar dan bergerak di American Civil Liberties Union (ACLU) menghadapi diskriminasi (semacam diskriminasi yang didukung serta dibenarkan publik) yang mencakup pembatasan hak suara, kupon makanan, perumahan publik, pinjaman, dan kesempatan kerja. “Tidak seperti di masa Jim Crow, tidak ada tanda-tanda whites only”, kata Alexander. “Sistem ini tidak terlihat, dan tidak masuk akal”.

Buku yang ditulisnya mengungkap bahwa terdapat cara baru dalam kontrol sosial yang lebih halus dan itu sangat mengerikan. Meski nampak berbagai perubahan sebagai pencapaian penting dan inovatif, lebih dari sekadar menampakkan kemunafikan infrastuktur yang dibangun. – Olivia Rutigliano, Anggota Editorial Crime Reads

Siddhartha Mukherjee, The Emperor of All Maladies (2010)

Dalam bukunya yang menarik ini, Mukherjee mencoba menelusuri asal muasal penyakit manusia yang paling ditakuti di sepanjang 600 halaman. Buku ini menjadi begitu sangat berpengaruh, ia memulainya dengan mencaritahu dan menganalisis bentuk wujud awal yang ada dari lima ribu tahun yang lalu hingga era di mana para dokter masih saling ‘berperang’ saat ini, semua menjadi bingung, kisah sukses, dan berbagai kegagalan di antara—banyak hal dari “biografi kanker”, yang juga terkait dengan biografi kemanusiaan dan kecerdasannya, juga dengan ketiadaannya.

Mukherjee mulai menulis bukunya setelah berinteraksi secara intens dengan seorang pasien yang menderita kanker perut, katanya kepada jurnalis The New York Times. Ia mengatakan, “aku bersedia untuk terus berjuang, tapi aku juga perlu tahu apa yang sedang aku perjuangkan”. “Momen itu sangat-sangat menyedihkan sekaligus memalukan. Saya tidak bisa menjawab pertanyaannya, dan saya tidak bisa memberinya satupun bacaan yang bisa menjawab pertanyaannya. Pertanyaannya terus menerus tampil di kepalaku—dan pada akhirnya, itulah yang mendorongku menulis The Emperor of All Maladies”.

Baca juga: Penghianatan Kaum Intelektual

Karyanya mendapat serangkaian apresiasi dan penghargaan. The Emperor of All Maladies meraih Pulitzer Award di tahun 2011 dengan kategori General Nonfiction. Juri saat itu menyebutnya sebuah penyelidikan yang elegan, klinis, sekaligus intim ke dalam serangkaian sejarah panjang penyakit berbahaya—meskipun sudah banyak terobosan yang dilakukan, fenomena tersebut masih membingungkan ilmu kedokteran atau medis. Perhargaan buku pertama atau perdana Guardian dan PEN/E O.Wilson Award untuk penulisan Sastra Sains: itu adalah buku terlaris versi New York Times.

Tetapi yang paling penting, meskipun berstatus buku pertama, karya ini sudah dibaca oleh banyak orang diluar ilmuan, dokter, atau mereka yang hidupnya telah terpengaruh oleh kanker. Diluar itu, sebagai buku yang ikut menggerakkan perkembangan dan fenomena sains diluar laboratorium, ilmu pengetahuan terus berjalan, buku masih banyak dibaca dan direferensikan hingga hari ini. –Emily Temple, Editor Senior

Rebecca Skloot, The Immortal Life of Henrietta Lacks (2010)

Sebagai orang yang fokus pada kemanusiaan, agak sulit bagi saya untuk berhubungan dengan buku-buku tentang sains. Apa yang bisa saya katakan selain pendidikan-pendidikan publik itu tidak lain adalah kegagalan dan kegagapan. Namun saat saya membaca The Immortal Life of Henrietta Lacks, saya menemukan diri saya yang lain dengan pikiran bahwa jika semua dengan pengetahuan ilmiah adalah bagian dari narasi manusia yang sangat menarik dan manusiawi, barangkali saya merasa menjadi dokter sekarang.

Rebecca Skloot menceritakan kisah Henrietta Lacks, seorang wanita kulit hitam yang meninggal karena mengindap kanker serviks pada tahun 1951. Apa yang menarik dari cerita kematian Lacks? Tanpa seizinnya sebelum ia meninggal (begitupun dengan keluarganya), sel-sel tubuhnya dijadikan objek penelitian medis yang diberi nama sel HeLa, menjadikannya sel manusia pertama yang dikembangkan (bereproduksi) di laboratorium—menjadikannya sangat berharga bagi para ilmuwan laboratorium penelitian di seluruh dunia. Sel HeLa ini telah dipergunakan untuk pengembangan vaksin dan perawatan obat, pementaan gen, serta penelitian medis lainnya. Para ilmuwan bahkan dikirim ke luar angkasa untuk dapat mempelajari feel gravitasi nol pada sel manusia.

Baca juga: Empat Buku yang Membaca Masa Lalu atau Mungkin Masa Depan Mahasiswa Seperti Anda

Skloot meriset secara ambisius sekaligus liar di buku ini untuk dirinya sendiri. Ia tidak hanya menulis tentang kehidupan (abadi) sel serta kehidupan Lacks beserta keturunannya secara menyeluruh. Dia juga menulis seputar rasisme dalam konteks medis dan etika medis dengan total. Buku tersebut menjadi begitu komprehensif dan kohesif serta menarik sedikitnya menjadi bukti keterampilan Skloot sebagai penulis hebat. “Kehidupan Abadi membaca seperti novel”, tulis Eric Roston dalam ulasannya mengenai buku ini yang dimuat Washington Post.

“Prosa itu tanpa ornamen, namun renyah dan transparan”. Untuk sebuah buku yang mencakup begitu banyak hal, rasanya tidak begitu longgar sedikitpun. Dalam hampir sepuluh tahun belakangan ini, buku tersebut menjadi penting dan mendesak menjadi bahan ajar di sekolah menengah, universitas, hingga sekolah kedokteran di seluruh negeri. Hal tersebut menjadi pencapaian luar bias dan, juga sederhana, karena bacaan yang bagus. –Jessie Gaynor, Editor Media Sosial  

Timothy Snyder, Bloodlands (2010)

Snyder lewat Bloodlands yang brilian telah memberi tafsir terhadap Perang Dunia II secara lebih mungkin, dibanding karya-karya lainnya—sejak Hannah Arendt Eichmann di Yerusalem, mengingat perbandingan yang tepat pada Bloodlands bereaksi terhadap teori Arendt tentang Banalitas Kejatahan (Syder barangkali tidak menuduh dan memberikan bukti yang meyakinkan bahwa Eichmann lebih dari sekadar Nazi yang penuh kebencian dan kurang ‘birokrat’ dengan melakukan pekerjaannya).

Baca juga: Sejarah Ringkas Halaman Rumput

Snyder mampu membaca dengan sepuluh bahasa, yang merupakan kunci kemampuannya untuk mensintesiskan tafsiran global dan menyajikan teori-teori baru dengan cara yang mudah diakses. Namun sebelum saya terus menerus memuji buku ini, barangkali saya harus memberitahu kepada Anda bahwa buku ini, merupakan sejarah pembunuhan massal di Zona Pendudukan Ganda di Eropa Timur, di wilayah yang dulunya, Uni Soviet muncul—membunuh orang-orang yang mereka kehendaki, kemudian Nazi hadir, membunuh semua orang.

Dengan berfokus pada pembunuhan massal, alih-alih genosida, Synder mampu menarik relasi politik antara rezim totaliter dan memeriksa mekanisme di mana negara-negara kecil dapat secara tiba-tiba dan mengerikan menjadi jauh lebih cerdik. –Molly Odintz, Editor Associate CrimeReads

(Bersambung)

Diterjemahkan secara langsung oleh Wahyu Gandi G, editor epigram.or.id dari artikel The 20 Best Works of Nonfiction of the Decade oleh Emily Temple dimuat di lithub.com

Facebook Comments
No more articles