Senin, 4 November 2019. Sekitar pukul Sembilan pagi, kursi-kursi kosong di aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, mulai diisi oleh para peserta yang ingin mengikuti seminar sastra yang diselenggarakan oleh ECUINSA (English Community of UIN Sultan Alauddin) dan di kegitan ini, sebagai pembicara, akan di hadiri oleh seorang sastrawan sekaligus rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Periode 2016-2020, Seno Gumira Ajidarma.

Pukul sepuluh lewat, dengan setelan hitam-hitam, rambut gondrong yang hampir sepenuhnya beruban, wajah santai, dan terkesan masa bodoh—Seno Gumira Ajidarma disambut dengan Aru’ Makassar. Yah, begitulah. Seperti sudah terbiasa dengan tetek bengek pembukaan seminar, ia tampak tak terkesan, dan hampir-hampir terlihat bosan selama kurang lebih dua jam pembukaan itu. Mulai dari basa-basi master of ceremony (MC), sambutan-sambutan, paduan suara, penampilan tari, dan lain sebagainya.

Singkat cerita, sampailah saat yang ditunggu oleh para peserta seminar sastra. moderator, Zulkifli M mempersilahkan kedua pemateri naik ke panggung. Pemateri pertama, Seno, dan pemateri kedua, Rosmah Tami, salah seorang Dosen UIN.

Tanpa berpanjang lebar, setelah dipersilahkan, Seno mengambil mikrofon, “saya di sini tidak tahu ya, mau ngapain, mau bicara apa. Saya tidak suka kata Seminar. Ya, kayak di kelas, kita diajar sama dosen,  dengerin berjam-jam dan itu membosankan. Saya bacain cerpen ajalah.” Ia berjalan ke podium, dan membacakan sebuah cerpen yang lumayan panjang, berjudul Gubrak. Saya tidak berkonsentrasi saat mendengarkannya, sampai-sampai merasa akan Gubrak. 

Seusai membacakan cerpen, ia kembali duduk. “Kecantikan memang selalu menjadi pemantik pertikaian,” kata moderator menanggapi cerpen yang baru saja dibacakan Seno. Moderator kembali mempersilahkan Seno untuk membawakan materi, tapi ada gestur atau isyarat berbeda.

Baca juga: Saya Sering Diolok-olok Karena Dituduh Kiri, Cinta United, dan Penjahat Cinta

Ia  kemudian mempersilahkan pemateri kedua menyampaikan materinya. Sementara Seno duduk, diam, tampak masa bodoh, dan bosan.  Ada kegelisahan yang menyeruak dari dalam diri saya, yang entah dirasakan peserta lain atau tidak, “apa Seno hanya akan membacakan cerpen saja, dan tidak membawakan materi?”

Pemateri kedua menyampaikan materinya dengan gaya seorang dosen, karena dia memang dosen. Menampilkan slide power point melalui proyektor,  dan saya mendengarkannya berjam-jam. Saya melirik ke arah Seno, memperhatikannya duduk, menyudut dipinggir sofa, menyanggah dagunya dengan telapak tangan, dan siku yang bertumpu di lengan sofa, dengan bibir separuh monyong, tapi terkesan tak dibuat-buat.

Entah kenapa, saya membayangkannya seperti gambar di buku picture book, seorang pria malas yang sedang berselonjor diatas sofa. Diatas kepalanya berderet sebuah tulisan huruf kapital memanjang, mirip lekuk tubuh ular yang diakhiri dengan tanda seru, “BOSAAAAN!”

Seno dipersilahkan kembali untuk membawakan materi, setelah pemateri kedua menyampaikan materinya. “Gini aja, kalian bertanya saja, lalu saya jawab, agar diskusinya lebih lancar.”

Moderator memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya. Saya tidak terlalu ingat apa-apa saja pertanyaanya, tapi Seno menjawabnya dengan panjang lebar.

Baca juga: Berhentilah Menghina Bacaan Seseorang

“Ada tiga mitos sastra yang harus dihancurkan”. Katanya, memulai pembicaraan.

Yang pertama, “sastra adalah curhat.” Untuk apa kita membaca karya Sastra kalau isinya hanyalah curhat, hanya memberi kita kecengengan berupa sentimen dari diri seorang penulis. Sastra berisi pemikiran, tanggapan, ataupun kritik akan suatu hal yang dibungkus dengan fiksi.

Kedua, “bahasa sastra mendayu-dayu.” Hal inilah yang membuat kita berjarak dengan dengan karya sastra. Tidak semua karya sastra menggunakan bahasa yang mendayu-dayu. Tidak perlu seperti Khalil Gibran. Banyak Penulis yang menggunakan bahasa sehari-hari dan tulisannya tetap enak dibaca, dan juga pesan yang ingin disampaikan tetap sampai kepada pembaca. “Hal itu jugalah yang membuat saya menghindari istilah Sastra, sebab kata itu pun sudah dibebani makna yang sempit,” seperti beban makna dari kata mendayu-dayu itu.

Dan yang terakhir “sastra adalah pedoman hidup.” Kan sudah ada kitab, dan itu pedoman hidup. Kalau karya sastra juga berisi pedoman hidup, maka apa gunanya kitab?  Kalau kita banyak membaca karya sastra, kita akan tahu bahwa apa yang disampaikan karya sastra, tidak sekadar pedoman hidup.

Sastra itu membongkar, mempersoalkan, menguggat, mempertanyakan, dan membebaskan.  Makanya sastra itu merdeka. Ada sebuah klaim kebenaran yang dianggap benar dan sudah berlaku selama bertahun-tahun dari nenek moyang sampai sekarang. Nah, hal itulah yang dipertanyakan oleh karya sastra, menguji kelas-kelas kebenaran, atau memverifikasi ulang kebenaran itu.

Baca juga: Sebuah Kisah Membaca Fragmen

Contoh lain, “masakan Minang itu sederhana tapi mewah. Lah kok gitu? Gimana caranya, mewah tapi sederhana!” Atau kata “Mengamankan”. Saat Polisi datang ke rumah, katanya, kita ingin diamankan, seharusnya kita aman (selamat) dong. Tapi sampai di kantor polisi, ternyata tidak. Bahkan sampai ada yang telinganya dipotong lalu disuruh menandatangani sebuah surat yang isinya tidak ia mengerti. Maka bikinlah saya cerpen Telinga itu. Tentang seorang serdadu yang sering mengirim sepotong telinga kepada kekasihnya. Akhirnya kata engamankan itu berarti lain”.

Begitulah. Karena banyak yang menganggap sastra itu sebagai pedoman hidup, maka setiap saya diundang jadi juri lomba menulis cerpen, dan mendapati karya salah seorang peserta yang kalimat pertama cerpennya dibuka dengan doa, maka saya langsung buang ke tong sampah. 

Mitos-mitos mengenai sastra itulah yang harus dihancurkan agar tidak menjadi racun dan diklaim sebagai sebuah kebenaran. Riuh tepuk tangan menyambut kalimat terakhir Seno, garis di bibir saya melengkung kebawah, dan tangan saya terus mencatat di atas selembar kertas.

Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya, dijawab Seno sekaligus. Suasana seminar yang agak kaku, akibat dari banyaknya jumlah peserta, keadaan ruangan, dan jarak antara peserta dengan pemateri, memang memungkinkan proses diskusi (jika kita bisa menyebutnya seperti itu) kurang berjalan lancar.

Pertanyaan selanjutnya, tentang yang mana sebenarnya fiksi dan non fiksi itu?

“Baik fiksi atau non fiksi, hanyalah soal dua jalan yang berbeda, tapi sama-sama menyampaikan satu realitas yang sama”. Lagipula apa yang dinamakan fiksi dan non fiksi . Satu tambah satu sama dengan dua. Itu hanya berdasarkan kesepakatan, hanya berdasarkan imajinasi, bahwa angka dua itu yang seperti ini (sambil mengacungkan kedua jari tangannya, membentuk huruf V). Lalu pertanyaannya, “Yang mana realitasnya?” Tidak ada realitas yang ideal.

Lalu “bagaimana seni berkembang di zaman Orde baru yang  represif?” disusul pertanyaan selanjutnya. “Seni hidup dalam zaman Orde baru. Kreativitas penulis diuji di zaman itu. Banyak hal yang harus dihadapi penulis, sebab kuasa tidak hanya di ranah politik, tapi juga dalam kepercayaan. Akhirnya, pengarang menghadapi kekuasaan yang paling sempit.”

Baca juga: Kedung Darma Romansha: Jangan Hanya Bergaul di Lingkaran Sastra Aja!

“Di zaman sekarang,” lanjut Seno, menjawab pertanyaan selanjutnya, “apa yang kita hadapi, bukanlah penguasa, tapi wacana dominan,” yaitu mayoritas. Maka baik di zaman Orde baru ataupun sekarang, kita sebagai pengarang, harus tetap  berhati-hati dalam berkarya.

Pada pertanyaan lain, mengarah ke proses kreatif Seno dalam menulis, ia menjawab, bahwa dalam menulis, terkadang, kita tidak perlu menyebutkan tempat yang sebenarnya kita rujuk di dalam cerpen. Misalnya, di kumpulan cerpen Saksi Mata, saya menulis sekitar 12 cerpen berkonteks Timor Timur,  dan konteks itu langsung dikenali meski saya tak pernah menyebutkan kata ‘Timor Timur’.  Seno, juga mengatakan, biasanya, ia memasukan sebuah kata sebagai sandi yang hanya bisa dimengerti oleh sebagian orang, seperti dalam cerpen Misteri Kota Ningi.

Menyadari waktu sudah menunjukkan pukul satu, moderator memberi kesempatan terakhir kepada Seno untuk berbicara. “Beberapa waktu lalu saya pernah menulis, Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara, maka sekarang, melihat kondisi saat ini, kalimat itu harus diubah, Kalau hukum tidak berdaya, maka sastra harus bicara”.

Baca juga: Ketika Tuhan Membela Pengkhianat

Begitulah Seno mengakhiri diskusi hari itu. Betapa banyak pemahaman kita akan sastra yang perlu ditinjau kembali. Tapi hal itu bukan serta merta sebuah kesalahan. Sebab kebenaran sejati akan sastra, barangkali memang tak pernah ada. Atau seperti yang dikatakan Seno dalam salah satu pidato kebudayaannya, “kebenaran, meskipun ada, tak bisa diketahui”. Sastra seperti rumpun bambu yang terus beranak pinak, melahirkan pemahaman lain.

Itulah sastra. Jika ia sebuah buku, maka ia buku yang lembar kertasnya tak akan pernah habis kita baca. Sejauh mana kita membaca, tentu dengan disertai pengetahuan dan sikap kritis, maka sejauh itu pulalah pemahaman kita akan sastra. Mendapatkan sensasi pengalaman membaca itulah titik dimana kita, barangkali mampu menemukan sebuah kebenaran.

Penulis: Danil Emnl, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris, UIN Alauddin Makassar

Facebook Comments
No more articles