Ia bisa saja tidur dengan damai selama genap enam jam. Tapi itu tak pernah terjadi. Malamnya selalu panjang dan paginya lebih cepat memulai dan ringkas berakhir. Waktu terjaganya menyimpul jadi kesialan yang repetitif dan final. Pagi hingga malam, ia harus selalu membuat telinganya disayat-sayat oleh Rhoma Irama.

Bangunnya selalu diawali keresahan-keresahan yang tidak bisa ia euforiakan. Matanya yang masih samar, menghujam ke lemari, ke lemari, ke lemari lalu ke pintu. Mimpinya pun berderai dan berhamburan di lantai. Ia membenci dangdut tapi Rhoma Irama adalah seluruh nasib sial hidupnya.

Ia telah tidur di pondok Irama selama lima tahun. Namun dua hari pertama ia telah menyadari bahwa sebagian besar penghuni pondok Irama adalah pengikut Rhoma Irama secara haqqulyakin. Ia tidak bisa pergi. Hanya di pondok itu ia bisa tidur tanpa merepotkan isi dompetnya. Meskipun itu hanya bisa bertahan untuk dua tahun pertama. Kota memberinya barang-barang untuk dipilih dan ia membeli untuk beberapa. Dompetnya lalu terkuras dan ia memulai perang dingin antara dirinya dengan ibu pondoknya.

Baca juga: Kota dan Kenangan

Tiap kali berjalan ke kamar mandi. Ada banyak umpatan yang keluar dari mulutnya lalu melayang ke langit-langit kamarnya. Sebagian besarnya kata-kata umpatannya berbunyi seperti dangdut yang tidak sangat Rhoma Irama. Ia keturunan ke-12 dari dua garis darah Bapak dan Ibunya.

Ia miskin dan nasib itu selalu ia curigai sebagai konspirasi hidup. Kalau ia bisa meneruskan darahnya. Barangkali dua garis keturunan selanjutnya akan memunculkan Rhoma Irama yang tanpa dangdut.

Ibunya fanatik kepada Rhoma Irama. Bapaknya menghafal seluruh lagu Rhoma Irama Mereka lalu bertemu di konser Rhoma Irama tepat pada lagu Gelandangan dimulai. Bapaknya berjoget lalu sengaja menyenggol pinggang ibunya. Mereka lalu saling jatuh cinta, memutuskan menikah dan lahirlah ia sebagai Rhoma Irama.

Segayung air mengguyur tubuhnya. Kepalanya memunculkan ingatan. Saat ia sudah mendengar Rhoma Irama selama 14 Tahun. Ia pernah sekali bertanya kepada Bapaknya. Dan itu pula yang terakhir kalinya: Mengapa kita miskin? Bapaknya tidak menjawab. Ia mengulang tiga kali. Pada kali keempat Bapaknya lalu menampar pipi kanannya. Ia diam dan terhenyak. Melihatnya tak mampu melawan. Bapaknya menggenapkan tamparannya  ke pipi kirinya. Dan ia tidak juga melawan. Bapaknya lalu meraih sebuah radio butut dan memutar dangdut Rhoma Irama. Dari lagu Harta, Bapaknya lalu mengutip “Terkadang harta membuat orang lupa, merasa tinggi hati dan berkuasa. Tak disadarinya seluruh hartanya hanya amanat yang kuasa.” Jeng-jeng-jeng……

Bapaknya telah tiada tapi Rhoma Irama abadi.

Baca juga: Memahami Sebuah Kekalahan

Sudah lima tahun ia tinggal sendiri di pinggiran kota. Ia bekerja di tengah kota sebagai tukang service elektronik dan menjual kaset Rhoma Irama dan hanya dari kaset Rhoma Irama ia bisa makan.

Dulu hampir setiap pagi ia harus naik ojek ke bibir jalan tol membayar dua ribu rupiah. Menunggu beberapa menit untuk sebuah mobil pete-pete biru. Menyetopnya untuk ke tengah kota lalu membayar lima ribu rupiah. Maka terjumlahlah 14 ribu rupiah. Biaya pulang pergi untuk nasib sial. Ia pernah mengambil kredit motor. Tetapi nasib sialnya justru bertambah. Motornya dicuri saat waktu cicilannya masih sisa 22 bulan. Ia hanya bisa meyakini bahwa Rhoma Iramalah pelakunya.

Namun, ia pernah mensyukuri kesialannya, hanya untuk saat-saat berada di dalam mobil pete-pete. Seperti duduk di ujung kursi, terhimpit ke pinggir dan tak bisa apa-apa. Pada masa-masa yang disyukurinya itu, mobil pete-pete adalah mangkuk. Orang-orang yang duduk bersamanya, mengeluarkan seluruh resahnya dengan puas-puas ke dalamnya dan membagi satu sama lain kepada mereka yang dibuat lapar oleh kehidupan.

Informasi tentang sebuah peristiwa dari sudut-sudut kota yang tidak bisa dijangkaunya bisa ia ketahui. Hal terkecil seperti cara membesarkan alat kelamin pun tersampaikan. Bunyi dangdut dan Rhoma Irama dari radio mobil pete-pete yang selalu ia dengarkan perlahan bisa tertelan. Jika penumpang mobil pete-pete semakin ramai. Rhoma Irama itu semakin perlahan, tenggelam p-e-r-l-a-h-a-n di antara sela-sela kemeriahan dan bau badan para penumpang.

Saat cicilan motornya sisa satu tahun. Jalan tol yang tiap hari ia lalui mengalami pelebaran. Tembok dibangun antara jalan yang berbayar dan tidak berbayar, sepanjang satu pemukiman dan pemukiman diseberang jalan lainnya. Kendaraan yang berlalu lalang semakin ribut, banyak tapi kosong. Mobil pete-pete terpinggirkan.

Hanya sesekali berhenti untuk mengambil penumpang yang tidak memiliki gairah untuk berbagi keresahan.  Maka setiap kali ia mendengar ada jalan diperbanyak dan diperlebar. Ia tahu, jalan itu hanya akan menelan jarak kemanusiaan di antara orang-orang. Semenjak jalan merenggut saat-saat terindahnya bersama mobil pete-pete, hidupnya kini hanya berisi Rhoma Irama.

Baca juga: Kamu Ditipu, Radikal hanya Korban, terus Siapa Pelakunya?

Secara teratur setiap sore ia telah kembali dari kota. Untuk sore ini, seseorang menunggunya di pintu kamarnya. Ibunya baru saja mengirim kabar lewat orang itu, bahwa dari sepuluh jari yang dimiliki ibunya, hanya tersisa tiga jari saja yang bisa digerakkan. Sudah satu tahun Ibunya menderita stroke. Ia hanya bisa mengirim uang ke kampungnya dan uang itu tidak bisa mengembalikan jari-jari tangan ibunya.

Ia membuka pintu kamarnya, lantas merebahkan tubuhnya ke lantai. Kenyataan bahwa ia hanya anak satu-satunya membuat tubuhnya ringan dan lantai itu terasa seperti ribuan jarum yang menengadahkan tajamnya ke langit. Ia berharap hujaman nasib sial ke tubuhnya  bisa membuatnya tidur meski sekejap.

Tetapi kantuk tidak juga datang. Ia lalu menyetel rock God Bless dari boombox bekas pemberian temannya. Gitar menalu suara Ahmad Albar yang teriak dan lambat laun membuat penglihatannya putus. Tetapi keadaan itu tidak berlaku lama. Di luar pintu Rhoma Irama terdengar lagi. Kini ributnya memecahkan rekor seluruh bising Rhoma Irama yang pernah terdengar di telinganya.

Baca juga: Mendengar Musik di Perpustakaan

Ia ringkas bangkit. Mendengus seperti banteng yang sudah terjahili berkali-kali. Kali ini ia nekad akan memberi pelajaran kepada siapa saja yang memutar lagu itu. Tak ia hitung siapa saja, pokonya siapapun. Ia derapkan laju langkahnya menuju sumber bunyi. Ia mendapati bunyi itu berasal dari kamar ibu pemilik pondoknya yang terkunci dengan pagar pintu besi. Ia mendorong-dorongnya sampai lagu Gelandangan itu habis.

Pintu lalu terbuka. Dari dalam, Ibu pondoknya melebarkan kertas tagihan tunggakan bayar sewa kamarnya yang sudah capai lima bulan. Dan kenyataan itu memundurkan langkahnya secara perlahan. mulutnya mengatup kaku lalu beku sepenuhnya. P-e-r-l-a-h-a-n: adalah sebuah rentang waktu yang memuat ceramah singkat, hitam dan tumpah dari seluruh muatan suara ibu pondoknya.

Saat ia berhasil menutup pintu. Ia menyadari Rhoma Irama telah menyempitkan kamarnya. Di lemari, di lemari, di lemari juga di dinding. Kamarnya telah Rhoma Irama sepenuhnya. Ia melirik ke lantai. Lalu menyadari satu hal. Apakah di bawah tanah Rhoma Irama masih ada?

Facebook Comments
No more articles