Anda yang membaca tulisan ini pada tahun 2026 atau tujuh tahun setelah tulisan ini ditulis. Setidaknya Anda harus mencari beberapa artikel terkait Sulli. Dulu—setidaknya begitulah saya menyebutnya tujuh tahun mendatang—ada satu artis Korea Selatan bernama Sulli, ia merenggang nyawa setelah berhasil menjalani prosesi bunuh diri. Upaya terakhir yang bisa ia lakukan untuk menolak perkataan kaum agamawan, “tuhan tidak akan menguji seseorang melampaui batas kemampuannya”.

Saya membayangkan tujuh tahun yang akan datang, Anda dengan menggunakan gawai pintar membaca tulisan ini dan mengakses beberapa informasi yang mengulas seputar bunuh diri Sulli. Barangkali Anda akan menemuinya di Asumsi.co melalui tulisan-tulisan Raka Ibrahim atau semoga Anda tidak membuka artikel liputan6 seputar Sulli, Anda menjadi manusia benalu dan mengikuti banyak pembaca yang benalunya tumbuh sejak awal mereka menjadi pembaca yang terpotong-potong.

Pukul 14.53 Wita awal November, gawai saya dengan merk Samsung J2 Prime memosting kata-kata Dea Anugrah, ia bilang, “dari sekian banyak cara untuk mati yang terburuk adalah melanjutkan hidup.” Sulli tentu bukan pembaca Dea Anugrah dan saya yakin, Sulli bunuh diri tanpa pernah membaca satu kata pun kata-kata pasrah Dea Anugrah tadi.

Tapi Sulli lah, satu di antara sekian banyak artis Korea Selatan yang berhasil menjawab pernyataan Dea Anugrah dengan sebuah tindakan tegas. Apakah orang-orang yang bunuh diri sepenuhnya tidak bahagia? Saya rasa tidak, malah saya berpikir bahwa itulah satu-satunya kebahagiaan terakhir yang bisa ia rasakan.

Baca juga: George A. Romero dan Ode untuk Kematian

Tidak ada kebahagiaan abadi di dunia ini, orang-orang hanya menciptakan kebahagiaannya masing-masing sebelum satu per satu penderitaan datang menghampirinya. Orang miskin menderita karena terus menerus dijauhi oleh uang-uang kertas dan benda-benda mati, orang kaya terlalu menderita tidak pernah bisa tidur sepulas orang miskin. Mereka memilih bertahan hidup, menjalani rutinitas masing-masing, satu orang meminum soda kaleng, satu orang memungut soda kaleng, satu orang menimbang soda kaleng. Ada tiga orang yang berupaya berbahagia dengan satu benda bernama soda kaleng.

Siapakah pak tua yang pernah mengatakan, “manusia lahir dan tidak berbahagia?” Manusia hanya selalu berupaya terlihat bahagia. Hanya spesies manusia yang bisa menciptakan dua keadaan secara bersamaan, mereka seringkali memotret hidupnya dengan keadaan yang semua orang sepakat mengatakan bahwa mereka bahagia, di sisi lain mereka menyadari hidup mereka ternyata biasa-biasa saja.

Dulu, kau mungkin pernah ke sebuah taman. Mendapati sepasang kekasih bergandengan tangan, berbicara dan saling berbagi tawa. Kau menganggap itulah sebuah kebahagiaan. Ketika kau akhirnya juga mencoba cara yang sama, kau menyadari kebahagiaan yang kau lihat dengan kedua matamu ternyata hal yang biasa saja. Kau menggenggam satu tangan dan tak merasakan kebahagiaan seperti orang-orang yang kau anggap bahagia itu.

Kadang bahkan, kebahagiaan itu membutuhkan satu orang sebagai korban penderitaan. Kalau kau pernah ditinggal nikah oleh seseorang yang sudah pernah kau perjuangkan mati-matian untuk hidup bersama, kamu mungkin tahu yang saya maksud di pembuka paragraf ini. Tapi semoga hatimu yang mudah patah itu, sekuat Halis.

Baca juga: Di Balik Pernikahan Mantan

Kira-kira kenapa ada orang-orang yang bisa begitu bahagianya setiap kali melihat orang yang dia benci mendapatkan sebuah penderitaan? Kau membenci Prabowo dan berbahagia setelah tahu dia kalah oleh Jokowi dan tiba-tiba murung sesaat Jokowi mengangkatnya sebagai menteri. Tragedi memang selalu menarik untuk dilihat, itulah mengapa manusia mampu merasakan kebahagiaan setiap kali satu orang mengalami penderitaan.

Kita sebagai masyarakat yang mendapati kabar bunuh dirinya Sulli, berbondong-bondong memastikannya sebagai orang yang meninggal dalam keadaan yang tidak berbahagia. Barangkali malah sebaliknya, di dunia lain yang belum kita masuki, Sulli malah merasa berbahagia sudah bisa meninggalkan dunia yang terus menurus memunculkan penderitaan dari segala penjuru angin. Bukankah kebahagiaan berangsur-angsur pergi meski kita mencarinya tanpa henti?

Saya merasa satu-satunya tujuan kita hidup adalah bertahan untuk tidak bunuh diri. Itulah mengapa kita terus membutuhkan harapan, sekecil apa pun. Saya sangat menghormati orang-orang yang memilih jalan bunuh diri, mereka membuktikan bahwa dunia ini memang tidak pernah seimbang. Dan juga terlampau bahagia rasanya melihat teman-teman sekeliling mampu bertahan untuk tidak melakukan tindakan bunuh diri. Mereka setidaknya tidak berupaya membuat orang-orang sekelilingnya yang mencintainya meneteskan air mata dalam waktu yang lama.

Baca juga: The Banality of Thinking

Mereka yang pernah diperkosa, dilecehkan, dihujat secara membabi buta mampu terus berjuang untuk tetap melanjutkan hidup. Mereka yang tak mendapatkan tempat di lingkunganya, tak diberi jaminan hidup yang layak oleh negara, mengambil jalan hidup yang setiap hari mampu membunuhnya dan sekaligus menempatkannya di titik paling terendah sebagai seorang manusia.

Seorang aktivis, tokoh pendidikan, dan tuna rungu pertama yang merengkuh gelar Bachelor of Arts dari Radcliffe College, Amerika bernama Hellen Keller, ia pernah mengatakan hal terbaik dan terindah di dunia tidak bisa dilihat atau disentuh, mereka harus dirasakan dengan hati. Mereka harus dirasakan dengan hati.

Sulli, truth or dare? Truth. Sudahkah kita bahagia? Dare. Bisakah kita benar-benar bahagia? Sentuh hatimu.

Facebook Comments
No more articles