Joker bukan film melankolis!

Hari pertama pemutaran film Joker di Indonesia diramaikan dengan foto seorang perempuan muda mengangkat sebuah poster yang bertuliskan orang jahat adalah orang baik yang tersakiti. Tulisan yang ditulis dengan warna hitam dan merah itu menarik secara simbolik, sebab kata jahat dan sakit keduanya bertuliskan spidol merah, sedangkan tulisan lain berwarna hitam. Asosiasinya jelas, bahwa jahat berasosiasi dengan sakit.

Tanpa terjebak pada pilihan warna pada poster itu, jujur saja, kesan dan tafsiran pertama saya terhadap foto tersebut adalah seseorang berlaku jahat karena ia merasa disakiti oleh orang lain dalam hal ini pada persoalan hubungan asmara. Ini bisa saja salah, tetapi juga bisa saja benar-benar tepat.

Coba banyangkan bahwa perempuan muda yang memegang poster tersebut merupakan seseorang yang begitu mencintai kekasihnya. Ia rela melakukan apapun demi kekasihnya, tetapi pada akhirnya ia dikhianati. Ia terluka. Sesaat kemudian kekasihnya meminta maaf, ia memafkan. Sialnya, kekasihnya menyakitinya lagi, untuk yang kesekian kalinya.

Baca juga:Before We Go: Hidup Selalu Persoalan Pilihan

Seseorang yang sedang terluka hatinya, kemudian memasuki gedung bioskop, memesan satu potongan tiket Joker dengan tempat duduk paling pojok kiri, kira-kira ia akan tafsirkan apa film Joker tersebut?

“Orang jahat adalah orang baik  yang tersakiti”, itulah tafsiran yang paling realistis melihat situasi batinnya saat itu. Ia membayangkan dirinya adalah Arthur Fleck, seorang yang dengan senang hati menghibur orang lain melalui aksi badutnya. Sedangkan variabel-varibel sosial yang lain – anak muda, bos, teman, calon walikota – mereka semua adalah sekelompok yang berlaku sebagai mantan, kerjanya hanya menyakiti perasaan. Yakin dan percaya bahwa kesimpulan akhir setelah meninggalkan bangku bioskop adalah: aku harus jadi Joker buat mantanku.

Tetapi, sekali lagi saya ingatkan kepada pembaca dan orang-orang yang belum menonton Joker, bahwa Joker bukanlah film melankolis. Ia juga tidak cocok dinikmati sebagai pelepas penat. Joker lebih tepatnya adalah film untuk merefleksi kehidupan sosial kita di tengah-tengah masyarakat dan bernegara, bukan tentang seorang mantan yang menyakitimu berulang kali.

Film yang disutradarai oleh Todd Phillips ini merupakan salah satu dari upaya untuk mengisi ruang kosong tentang sejarah lahirnya Joker. Jika kita sebelumnya melihat bagaimana kekacauan demi kekacauan yang disebabkan oleh Joker melalui film Batman, tanpa mengetahui secara pasti sebab musabab dari semua itu. Maka, film Joker ini sedikit banyak menampilakn kepiluhan-kepiluhan Arthur Fleck yang kemudian memutuskan untuk menjadi Joker. Can you call me Joker? Kata Arthur sebelum memporak-porandakan sebuah acara talkshow.

Baca juga: Mengapa Kita Mesti Melawan?

Sebelum benar-benar menjadi Joker, Arthur memiliki variabel yang cukup untuk menjadi Joker. Ibu yang sakit, hidup miskin, mengidap sebuah penyakit yang suka tertawa, dipukuli, dijebak, dipecat, tidak diakui sebagai anak, dipermalukan, kehilangan tempat berobat, serta berbagai ketidakberdayaan lain. Semuanya dinarasikan melalui film Joker dengan cara yang sangat kuat. Bahkan usaha Arthur untuk keluar dari segala bentuk penderitaan itu selalu menemui jalan buntu. Satu-satunya jalan baginya, jalan yang paling rasional menurut dirinya sendiri adalah menjadi seorang Joker.

Lantas, apakah dengan disakiti oleh mantan sudah cukup menjadi alasan untuk menjadi Joker? Sungguh Anda membuang sia-sia uang puluhan ribu rupiah jika tujuan utama menonton film Joker hanya untuk menjadi jahat dengan membalas dendam ke mantan yang telah menyakitimu. Variabel itu tidak cukup, dan sungguh tidak pernah cukup untuk membuatmu menjadi jahat.

Arthur Fleck menjadi seorang Joker karena segala usahanya untuk keluar dari lumbung masalah gagal. Sedangkan orang-orang yang tersakiti oleh mantan hanyalah sekumpulan orang yang tidak berani keluar dari hubungan yang toxic. Untuk tidak disakiti, mereka punya peluang sangat besar dengan cara meninggalkan, tidak kembali lagi, dan tentunya tidak terjebak di pelukan mantan yang biadab. Arthur Fleck sulit menemukan arti hidup kecuali dengan menjadi Joker. Sedangkan kalian semestinya menerapkan prinsip sederhana: hidup itu berarti, jika berada di pelukan orang yang tepat.

Baca juga: Watchmen: Sebuah Kritik Terhadap Film Pahlawan Super

Maka sekali lagi saya ingin mengulang pesan saya: Joker bukan film tentang mantan. Joker adalah kisah tentang ketidakadilan sosial, bukan ketidakadilan perasaan. Joker hidup di lingkungan sosial yang rapuh, dihimpit kemiskinan, struktur sosial yang sungguh tidak adil bagi orang-orang miskin. Bahkan Joker dengan lancang mengatakan: Jika aku mati di pinggir jalan, kalian hanya melangkahi mayatku. Demikian cara Joker menampilkan ketimpangan sosial yang ia alami.

Satu-satunya pesan yang mungkin layak dipetik oleh orang-orang yang merasa tersakiti adalah: Aku tidak punya apa-apa lagi, tidak ada yang bisa menyakitiku.

Facebook Comments
No more articles