Kurang lebih tersisa dua bulan saya akan berada di bagian paling ujung daratan Negeri Serambi Mekkah ini, Kabupaten Aceh Singkil. Hadirku membersamai langkah-langkah kecil menuju perubahan di sektor pendidikan untuk daerah terpencil. Menjalani “beasiswa kehidupan” selama setahun di sini, bagiku bukan sebuah pengorbanan, melainkan sebuah kehormatan. Saya menerima kehormatan ini tepat setahun yang lalu sebelum berangkat menuju ibu kota Jakarta untuk pelatihan.

Agustus 2018, saya diwisuda setelah sebelumnya menyusun banyak strategi agar masih bisa menunda pengerjaan skripsi, tujuannya agar dapat belajar sambil bekerja lebih fokus lagi dalam proyek-proyek penelitian di Tanahindie. Sembari menyelesaikan berkas-berkas wisuda, dalam hati saya merasa belum ada pada titik yang utuh untuk mengakhiri status mahasiswa. Bisa dikatakan kalau saya tidak siap diserbu dengan seribu satu senjata pernyaaan, “mau kerja di mana?.”

Sangat malas menjawab pertanyaan ini. Padahal sebelumnya saya kerja, bukan hanya tidur, makan, lalu main saja. Saya membuka lahan bisnis kecil-kecilan meski kadang hanya mampu membiayai sebulan bensin si Beatman, motor bebek sedari saya SMA. Hanya saja, kadang definisi kerja bagi orang lain kerap berbeda, beruntunglah kalau kita menemukan yang sedifinisi. Setidaknya kesehatan urat-urat leher kita masih bisa terjaga saat menjelaskan.

Saya ingat sekali tentang target pertama yang akan saya tempuh setelah wisuda. Ingin daftar Indonesia Mengajar, dan kalau tidak lolos, saya sudah mempersiapkan niat yang kedua,  saya ingin tinggal sebulan di desa Ma’lenteng, Kabupaten Gowa. Desa itu adalah salah satu desa binaan komunitas tempatku belajar, Rumah Berbagi Asa. Sejujurnya, saya belum berkeinginan untuk terlalu cepat terjun di dunia profesionalisme, apalagi yang jangka panjang.

Baca juga: Alusi Pendidikan dan Bagaimana Kebetulan Bekerja

Saya termasuk tipe orang yang sangat menyukai rencana jauh-jauh hari daripada tiba-tiba hari itu jadi rencana. Saya percaya, segala yang niatnya tulus dan terarah, akan dibantu oleh yang Maha Penentu Rencana. Akhir Agustus 2018, saya dipastikan menjadi bagian dari Calon Pengajar Muda setelah mengikuti tiga tahap seleksi sejak bulan Juni-Agustus 2018. Dengan meminta restu ibu dan bapak, saya berusaha meyakinkan beliau, kalau seleksi CPNS  saat itu tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengan mengizinkan anaknya untuk menjadi bagian dari pendidikan di daerah terpencil.

Saya banyak menerima pertanyaan di sosial media, “Kenapa mau ikut Indonesia Mengajar?”

Jawabannya adalah saya mau belajar di wadah yang baru. saya pikir kita sepakat kalau semua tempat adalah tempat belajar. Sama halnya dengan Indonesia Mengajar, hadirnya hanya sebagai salah satu wadah di antara banyaknya wadah yang lain. Saya mau mengabdikan diri saya, bahu membahu melunasi janji kemerdekaan, 23 tahun saya besar dan tumbuh di Indonesia, tapi saya merasa belum bisa melakukan apa-apa. Terlalu diplomatis bukan kata-katanya? tapi ini serius.

Saya menyadari bahwa hidup kita di masa depan ditentukan oleh pendidikan kita hari ini.  Ditentukan oleh bagaimana guru, kepala sekolah, orang tua, masyarakat lingkungan tempat tinggal kita, bahkan para penentu kebijakan mau saling bekerja sama untuk merangkul anak-anak di penjuru negeri lewat pendidikan yang berarti. Sebab pendidikan bukanlah sebuah program. Pendidikan adalah gerakan. Oleh sebab itu, semua orang musti terlibat. Termasuk saya dan mungkin kamu yang memilih jalan lain untuk melibatkan dirimu atas nama turut membantu melunasi janji kemerdakaan: mencerdaskan kehidupan bangsa.

Menuju setahun di Aceh Singkil. Sampai saat ini masih sering termenung saat bangun tidur, “Jauh sekali yah tempat belajarmu, Ca”, yah masih lumayan, daripada keluar kata “Pulas sekali kesadaranmu tertidur. Di antara banyaknya masalah yang menunggu untuk diselesaikan.”

Anak-anak memanggilku dengan sebutan “Ibuk guru Ica”, saya ditugaskan di SD Negeri Kuala Baru, Kabupaten Aceh Singkil. Seperti namanya, desa ini berada di antara pertemuan Kuala dan Laut. Hidup hampir setahun bersama 95% penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Satu-satunya akses keluar desa yang bisa digunakan adalah perahu mesin yang membelah sungai cocacola. Saya menamainya demikian karena airnya persis warna minuman bersoda coklat, selain itu desaku juga terkenal dengan banyak buaya yang bersarang di sungainya. Konon, beberapa tahun yang lalu sempat dibuang anak-anak buaya yang sangat banyak sebagai bentuk konservasi buaya Sumatera yang waktu itu hampir punah.

Baca juga: Mudik dan Perasaan yang Tak Merasa Pulang

Nah. Di sisi lain desaku ada pantai. Setiap pagi saya menyaksikan biduk-biduk berlayar menjauhi kuala untuk mencari rezeki sekolah anaknya. Namun, di hari Jumat, sepanjang mata memandang tak akan ada biduk yang terlihat. Hari Jumat adalah hari libur melaut, karena ibadah salat Jumat adalah bagian dari investasi ibadah masyarakat di sini.

Sebuah pencapaianku yang kuapresiasi adalah sudah bisa dengan lancar berkomunikasi dengan masyarakat sekitar menggunakan bahasa pesisir Melayu. Harus kuakui ini adalah pintu masuk untuk menjalin keakraban yang berarti di antara masyarakat yang ada di desa.

Setiap pagiku kuhabiskan dengan pergerakan yang cukup cepat, karena jam tujuh pagi anak-anak sudah menungguku di pintu gerbang sekolah. Tugasku memimpin senam pagi dibantu anak-anak kelas enam, mengadakan apel pagi, mengisi kelas rangkap hampir setiap hari dengan menjadi guru yang serba bisa semua pelajaran. Karena ada saja guru yang berhalangan untuk hadir.

Dokumentasi Pribadi Nurasiyah.

Berangsur-angsur setiap hari tentu membawa saya pada titik kejenuhan. Kadang merasa kecil sendiri, sejauh ini tapi belum melakukan apa-apa. Tidak hanya berhenti di sekolah. Siang hari, saya harus mendengar ketukan dari pintu rumahku silih berganti. Pertanda anak-anak ada yang ingin belajar tambahan.

Saya sering mengajak mereka ke perpustakaan desa, pinggir sungai, dan ke tepi pantai untuk belajar dan bermain. Malam harinya, rumahku diketuk lagi, karena mereka ingin mengerjakan PR. Di sisi lain saya senang melihat semangat belajar yang terus tumbuh, di sisi lainnya lagi, ini Indonesia Mengajar, bukan Ica Mengajar. Atas nama Indonesia, artinya semua bagian darinya harus tergerak. Semua adalah bagian dari solusi. Di antara banyaknya masalah, akan selalu ada potensi yang mengiringinya.

Mengintervensi seseorang bukanlah hal yang mudah. Apalagi yang kita harapkan adalah perubahan perilaku. Dampak dari perilaku-perilaku positif masyarakat sekolah akan berdampak pada peningkatan proses pendidikannya, bukan? Sebuah kesenangan apabila melihat guru-guru mau melakukan pembelajaran kreatif di kelasnya. Tidak hanya baca, tulis, hitung dari kelas satu sampai enam.

Guru-guru mau hadir tepat waktu. Guru-guru mau hadir upacara pada Senin pagi. Beragam cara coba kulakukan, mulai dari membongkar lemari perpustakaan yang isinya media pembelajaran semua, hingga membuat berbagi program seperti bintang kebersihan agar guru mau terlibat.

“Bu Ica, iko bantuan baru lagi yo?”, tanya salah satu guru.

Indak, bu. Iko media pembelajaran ala lambe’, dari tahun 2009 ada di lemari kito tapi indak dipakai.”

“Oh, iyo? Mangapo indak nampak ambo yo?” dia heran, kenapa media itu tidak pernah terlihat yah.

Sesederhana itu ingin kusampaikan, bahwa semua bantuan dan infrastruktur sudah terpenuhi, hanya saja memang keinginan melakukan lebih yang masih butuh diasah lagi. Tugasku mendampingi rekan-rekan bertumbuhku di sekolah untuk mengembangkan potensinya. Saya percaya setiap pengajar memiliki potensi dan jalan yang berbeda-beda untuk berkembang.

Baca juga: Refleksi Hidup Bahagia Tanpa Hirarki di Film La Belle Verte

Menuju setahun menyandang gelar “Ibu guru”, saya merasakan hal yang berbeda. Saya merawat ingatan masa kecil yang hampir saja hilang. Delapan puluh enam siswaku membantuku memupuk ingatan itu untuk kembali.

Betapa di masa kecil, semangat saya jauh lebih kecil daripada mereka. Mereka yang tetap ke sekolah dengan celana yang berulang kali dijahit, dengan kaos kaki bolong, sepatu yang alasnya terbuka, gigi yang menguning, rambut yang mengeras, karena alasan “Tidak bakepeng Ayah kami, Buk. Indak pai ka lawik kapatang.”, artinya ayah kami tidak ada uang. Kemarin tidak pergi melaut.” Saya rasa-rasanya harus segera membuat tampungan air mata.

Dokumentasi Pribadi Nurasiyah.

Kadangkala, anak-anak datang menangis ke saya apabila ada yang menjahilinya. Lalu tiba-tiba memeluk. Sungguh guru bukan hanya sekadar proses mengajar a-b-d, tapi mengajarkan kehidupan pada anak-anaknya. Saya menyadari, hadir membawa ego hanya membangun benteng tinggi untuk anak-anak lebih dekat pada kita.

Nak, Ibu akan sangat rindu berteriak di ujung kelas satu kalau ada sampah yang berserakan di sekolah, akan rindu memasangkan tali sepatu Ruji yang terlepas, akan rindu berjalan ke sana kemari dengan rombongan kelas enam sampai warga desa bosan melihat, ibu akan rindu bermain angklung, gitar, keyboard, perkusi barang bekas di lapangan, ibu akan rindu jadi bahan rebutan mengajar kalau enam kelas semuanya tak ada gurunya. Ibu akan rindu memancing ikan belut di tepian sambil mengajari Ariel membaca.

Ibu akan rindu dengan guru-guru yang selalu riuh jika sudah mendengar kabar dana terpencil akan cair, ibu akan rindu menyanyikan lagu Indonesia Raya sambil hormat pada bendera yang warnanya mulai pudar menjadi merah muda. Ibu akan rindu memasak di atas kompor minyak yang apinya kecil sekali, ibu akan rindu belajar bawa becak Humairah sampai hampir tabrak rumah orang. Ibu akan rindu anak-anak ibu. Anak-anak hebat yang Kuala Baru punya, yang Indonesia punya.

Penulis: Nurasiyah, Founder Ruang Ketemu, saat ini terlibat sebagai relawan di Indonesia Mengajar.

Facebook Comments
No more articles