Di tengah lautan manusia, terombang-ambing dua anak muda berjalan menyusuri Pantai Losari sembari menatap jauh ke barat, tepat di hadapannya Centre Point of Indonesia (CPI) bernyanyi. Mereka berbeda, mereka seperti merasakan hal lain yang berbeda, di tengah orang-orang yang sedang berbahagia. Kehadiran mereka bukan untuk menikmati delapan sajian festival, mencermati lirik lagu artis-artis ibu kota, menyimak pidato orang-orang penting, hingga berfoto ria dengan sungging senyum bangga. Akan tetapi lebih kepada kepeduliannya terhadap persoalan urban, segregasi sosial di Makassar dan Pantai Losari.

Di antara kepungan suara gemuru yang lahir dari pelantang suara, gemerlapnya lampu-lampu, di salah satu sudut strategis kota, berdiri sebuah poster dengan imajinasi Makassar di masa yang akan datang. Mereka mengamati dengan penuh perhatian gambar Makassar (dalam hal ini adalah Pantai Losari) lewat perspektif sebuah perusahaan pengembang di masa yang akan datang. Gedung tinggi dimana-mana dengan label hunian modern. Dan tentu saja upaya untuk bisa sampai di masa depan yang dimaksud adalah lewat jalan reklamasi.

Istilah reklamasi sendiri sampai saat ini masih menuai pro dan kontra hingga disebut bermasalah dari segi definisi, terlebih pada pelaksanaannya di lapangan. Mengutip berita yang diterbitkan CNN Indonesia, “Polemik Istilah Reklamasi: Pulau atau Pantai?” sebagai kritik atas pelaksanaan reklamasi teluk utara Jakarta yang kembali disorot publik. Sorotan tersebut bermula dari penyataan Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Saefullah dengan menyebut bahwa konsep reklamasi dalam konteks di teluk utara Jakarta bukan lagi pulau, melainkan bagian dari pantai atau lahan daratan.

Saefullah menambahkan bahwa dengan berubahnya istilah reklamasi menjadi pantai reklamasi, maka tidak ada lagi penamaan terhadap pulau a, b, c, d, dan seterusnya. Redefinisi dari pulau menjadi pantai tersebut menuai tanggapan tak sepaham dengan pengamat tata kota, Yayat Supriatna yang merujuk pada konvensi makna umum di tengah masyarakat. Lebih lanjut ia merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ada dua makna reklamasi yang terkait dengan kawasan atau daerah. Pertama, reklamasi bermakna pemanfaatan daerah yang semula tidak berguna untuk memperluas tanah (pertanian) atau tujuan lain, misalnya dengan cara menguruk daerah rawa-rawa. Kedua, reklamasi juga berarti pengurukan (tanah). Sementara kata ‘pulau’ dalam KBBI merupakan tanah (daratan) yang dikelilingi air (di laut, di sungai, atau di danau). Lalu kata ‘pantai’ berarti tepi laut; pesisir.

Baca juga: Kami yang Keras Kepala atau Dia yang Tidak Mudah Menyesal

Kita bisa menyimpulkan persamaan cara berpikir dua pemerintah kota yang berbeda, yang ada di Jakarta sana, maupun di Makassar sini. Melanjutkan dua pemuda tadi, mereka akhirnya khawatir kelak tak ada lagi senja di Losari. Semua terhalang gedung hunian modern yang berdiri di atas reklamasi Pantai Losari. Demikian, gambaran tentang film pendek yang berjudul “Menenggelamkan Mata”, potret tentang keresahan dua orang pemuda dengan latar riuhnya Makassar International Eight Festival dan Forum (F8).

F8 sudah bertransformasi menjadi event internasional tahunan yang diadakan oleh pemerintah kota Makassar, secara implisit menjadi identitas kota Makassar. Berdasarkan item festival, F8 menampilkan 8 unsur yaitu: fashion, film, folk, flora dan fauna, fine art, fussion music, fiction writer dan font. Namun dua hal berbeda F8 tahun ini dengan pelaksanaan di tahun-tahun sebelumnya, kalau dulu Anjungan Pantai Losari menjadi lokasi yang dipilih dan dilaksanakan oleh pemerintah kota—tahun ini, lokasi yang dipilih justru di Centre Point of Indonesia (CPI), tepat di atas tanah reklamasi dan dilaksanakan bukan oleh pemerintah kota, mengutip Detiknews “Meski Dibatalkan Pemkot, F8 akan Tetap Digelar”. F8 menyajikan kegiatan seni dan kebudayaan dikolaborasikan dengan manuver-manuver teknologi yang memanjakan mata, sebagai salah satu upaya memperkenalkan budaya dan kearifan lokal kota Makassar dengan kemasan milenial tentu saja. Hal ini juga menjadi ruang ekspresi dan apresiasi bagi penggiat seni dan literasi tertentu.

Akan tetapi, ada sudut pandang berbeda yang menarik untuk dicermati. Terlebih melalui film pendek “Menenggelamkan Mata” itu, Di dalam poster besar atas nama sebuah perusahaan pengembang, sangat jelas tentang gambaran Pantai Losari di masa yang akan datang. Losari  dengan kepungan gedung tinggi di atas “reklamasi”. Bayangan itu perlahan terjawab, dengan hadirnya F8 tahun ini yang mengambil setting tepat di CPI, mungkin menjadi simbol atau pernyataan sikap yang simbolik, sekaligus pragmatis bahwa masyarakat mendukung proyek reklamasi—melalui event sekelas F8. Imajinasi khas koorporat dengan iming-iming kesejahteraan masyarakat modern memang tak salah, siapa bilang catatan ini mengutuk reklamasi. Hanya saja, masyarakat seperti apakah yang ada di dalam imajinasi koorporat dan masa depan kota?

Hal ini bisa saja menjadi kabar tidak enak bagi warga pesisir. Kontras dengan masyarakat modern yang ingin sejahtera itu. Siapa bilang masyarakat yang tinggal di pesisir tidak menginginkan kesejahteraan. Menurut Aliansi Masyarakat Pesisir dan Walhi Makassar, reklamasi pesisir akan menyebabkan rusaknya terumbu karang dan tumbuhan mangrove, rusaknya ekosistem laut, terjadi perubahan pola arus, gelombang dan sedimentasi, meningkatnya potensi banjir, dan kerusakan alam di sumber galian, serta hal yang paling sederhana saja, apakah kelak kita masih dapat menikmati senja di Losari secara gratis?

Baca juga: Mengapa Bencana Alam Cenderung Dikaitkan dengan Azab?

Mungkin kemegahan F8 bersama mekarnya senyuman penggiat seni dan literasi atau pihak lain yang terlibat tidak mampu merekam, bersuara bagi masyarakat pesisir, menimbulkan ratapan di sisi yang lain bagi masyarakat pesisir? Membangun nilai-nilai budaya dan kearifan lokal melalui sebuah ruang apresiasi seperti F8 dari berbagai sponsor besar, semoga tidak menjadi simulakrum bagi mereka. Hati nurati harus tetap tumbuh untuk merespon, bereaksi terhadap hal-hal yang menyebabkan ketimpangan dan ketidakadilan sosial, termasuk kebijakan reklamasi.

Maka dari itu, aktivitas literasi sebagai sikap mental atau upaya mencerdaskan dan menumbuhkan pemikiran sadar masyarakat, harus memiliki implikasi nyata. Jangan sampai komunitas literasi hanya menjadi skincare untuk sebuah eksistensi semata. Komunitas literasi kemudian tidak memiliki sebuah pola, tatanan yang runtut, atau gerakan sebagai mitra (intermediate actors) pemerintah tentang arah perjuangan yang tentu saja harus berdampak positif di Masyarakat.

Hal lain yang juga harus dipikirkan adalah gerakan literasi harus menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri. Jangan sampai menjadikan komunitas literasi tempat untuk lari dari realitas masyarakat, menutup diri yang justru membuat jarak dengan masyarakat. Mereka hadir, berdiskusi, memegang buku, sambil menggenggam sebuah kamera smartphone, kemudian berswafoto, setelah itu kembali dan tidak terjadi apa-apa, termasuk tidak berubahnya pola pikir ke arah yang lebih kritis.

Literasi bukan sebatas hanya kegiatan baca, diskusi, dan tulis, akan tetapi menjadi wahana untuk berbudi, berbudaya, sehingga lahir pemikiran-pemikiran kritis yang menjawab persoalan masyarakat, misalnya terbebas dari belenggu represif. Secara politis, salah satu tujuan gerakan literasi adalah meningkatkan minat baca masyarakat. Efek yang diharapkan dari meningkatnya minat baca tersebut adalah kemajuan dalam berpikir dan cara padang seseorang terhadap suatu persoalan. Lebih jauh, menjadi mitra kritis terhadap pengetuk kebijakan, termasuk dengan kebijakan reklamasi yang ada di Pantai Losari serta menemukan solusi terhadap masyarakat yang terkena dampak tidak baik darinya.

Seniman dan penggiat literasi sebenarnya punya kebebasan untuk berekspresi dan bersikap terhadap suatu masalah, termasuk kebebasan untuk terlibat di F8, lewat medium yang ia kenakan. Hanya saja, padahal tak hujan, beberapa seniman, sastrawan, baru ingin berkarya pasca mendapat lahan subur, justru bermekaran di mana-di mana hingga saling kampling. Semoga F8 tetap ada sebagai sebuah ruang apresiasi, bukan menjadi arena hegemoni korporasi besar untuk membuat masyarakat terlena. Ruang apresiasi dengan subjek manusia mestinya hadir sebagai ruang untuk kemanusiaan, bukan?

Facebook Comments
No more articles