Novel adalah sebuah uraian mendalam tentang satu tema yang diungkapkan lewat cerita. Ia bukan semata-mata kisah, tetapi juga perenungan. Penukilan ke satu titik, sehingga menyentuh dasar persoalan. Sasarannya ialah memberi pengalaman baru kepada pembaca, baik karena caranya bercerita, daya ungkap dan kemampuannya membedah, maupun karena sudut pandang yang dipilihnya.

Novel adalah sebuah pengalaman batin. Menggeber kehidupan nyata maupun tak nyata dengan kata-kata. Agar nuansa-nuansa yang tersembunyi dalam peristiwa yang sedang dibor itu terpanggil muncul. Keluar lebih dekat kepada pembaca. Terurai lebih jelas dan gamblang dari sandi yang membekuknya. Sehingga muncul pemahaman baru yang memperjelas atau membangkitkan pemikiran lain pada kehidupan.

Novel adalah usaha untuk menyingkap makna yang tersembunyi dalam kehidupan. Ceritanya sendiri bukanlah tujuan, tetapi alat jebak. Jaring rahasia yang disusup-sisipkan secara lihai, membuat pembaca dapat diseret untuk ikut melakukan pengembaraan spiritual.

Plot cerita, konflik, perwatakan, sikap hidup dan pandangan-pandangan yang mengisi novel, termasuk gaya bahasa dan teknik bercerita adalah senjata untuk memukau, agar pembaca tertembak, terjungkal masuk ke jurang perenungan.

Novel adalah sebuah proses penilaian kembali. Peristiwa batin dalam menguji, meragukan, dan menyimpulkan sekali lagi dan sekali lagi segala sesuatu. Baik yang ada di dalam maupun di luar diri kita. Sebuah kontemplasi, introspeksi, koreksi. Dan mungkin sekali juga penegasan kembali pada keyakinan.

Dalam ceritanya, novel mengajak pembaca untuk sampai pada sikap dan opininya sendiri. Bukan membebek sikap dan opini orang. Tetapi novel bukan penghasutan untuk membuat pembaca meyakini sesuatu yang bukan miliknya. Novel bukan usaha penjejalan untuk mengubah pembaca keluar dari kepribadiannya sendiri. Novel bukan tumpukan resep-resep kehidupan yang mencekoki pembaca untuk menganut dan menyelesaikan persoalan dengan satu cara baku milik orang lain. Novel bukan sebuah indoktrinasi, bukan pula risalah ilmu tertentu.

Novel adalah sebuah kesaksian yang mengajak pembaca untuk kembali kepada dirinya sendiri, sesudah menatap dan mengendapkan segala yang ada di luar dirinya. Novel adalah kesempatan untuk memproses kembali diri pembaca ke dalam dirinya, kesempatan untuk memformat kembali pribadinya untuk mencapai jati diri.

***

Novel adalah pemadatan dan pemoloran. Dengan pemadatan, segala sesuatu menjadi keras. Dalam kekerasan itu, yang lembek jadi kuat dan kenyal. Berbagai hal tumpang-tindih, malang-melintang, campur-baur, terkocok dan akhirnya memadat dan akhirnya remuk jadi satu. Lalu lahir sosok baru yang melahirkan rangsangan baru. Dalam rangsangan yang baru itu, segala kesimpulan, dan resep diperbarui. Dari sesuatu yang sudah terbiasa pun keluar pengalaman lain. Tak jarang pengalaman-pengalaman itu mendadak jadi terlihat luar biasa.

Dengan pemoloran, konsep waktu dijebol. Bingkai-bingkai dirombak. Segala sesuatu dipreteli, diacak, dikacau-balaukan, direntang-rentang, diguncang-guncang. Tetapi tidak tanpa tujuan. Semua dengan disiplin tinggi, teguh untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan, langkah-langkah spiritual yang baru.

Novel adalah usaha menjungkirbalikkan kenyataan. Mengaburkan batas imajinasi dan pengalaman konkret. Membaurkan antara emosi dan pikiran. Menyalakan kembali kepekaan naluri, ketajaman insting dan kepiawaian otak.

Novel merangsang syaraf. Merepotkan semua indera. Menghajar dan mencuci habis pembaca di dalam batinnya. Menggangu dengan berbagai sergapan dan jebakan. Novel dengan demikian menjadi teror mental.

***

Novel yang baik adalah sebuah kisah yang memberikan pencerahan. Pengalaman untuk lebih menghayati diri sendiri, orang lain, kehidupan, alam semesta dan juga masalah-masalah transendental. Novel mengantar pembaca kepada dirinya sendiri dan orang lain.

Novel yang baik adalah sebuah pertapaan agar mendapatkan pemahaman lebih jauh pada makna-makna; melihat, meneropong lebih jauh dan lebih dalam; agar dapat menangkap segala sudut getar persoalan; agar dapat berpikir dengan lebih bulat, lengkap, tuntas.

Novel yang baik bukan hanya cerita yang menarik. Bukan hanya hiburan yang membuat senang sesaat. Bukan hanya tumpukan kata-kata mutiara yang setiap kali bisa gugur. Bukan pula jurus-jurus dan kata-kata besar yang sarat ide dan filsafat, namun gagap dalam kehidupan nyata.

Novel yang baik adalah sebuah mesin yang senantiasa bekerja. Sebuah bom yang hidup. Ia hidup lagi setiap kali dibaca lagi. Ia hidup, tumbuh, berkembang bersama zaman, manusia dan tuntutan kehidupan.

Novel yang baik menulis kembali dirinya setiap saat. Lahir kembali setiap kali dibaca. Ia lentur. Ditulis sebagai investasi yang tak habis-habisnya untuk digerogoti di masa depan.

Novel yang baik melangkah jauh mendahului kesadaran. Ia adalah sebuah karya jenius. Dan karena kejeniusannya, ia pun dengan sendirinya terpahami oleh manusia masa kini, syukur-syukur oleh manusia masa depan juga.

***

Saya menulis novel dengan cita-cita seperti di atas. Tapi cita-cita sebesar itu mungkin tak mampu saya pikul. Karenanya, novel saya mungkin hanya menggapai beberapa sudut (itu pun kalau kesampaian), beberapa tonjolan sesuai dengan kondisi saya. Di situ muncullah kecenderungan-kecenderungan. Dari kecenderungan itu muncul gaya.

Gaya adalah upaya. Upaya adalah hasil dari pengakuan pada kenyataan. Pengakuan pada kenyataan tak mungkin dilakukan tanpa kejujuran. Hanya dengan kejujuran menatap diri, akan muncul gaya yang kuat. Dan gaya yang kuat bukan lagi gaya atau upaya. Ia dapat menjadi semacam perenungan tersendiri. Sesuatu yang menular pada orang lain, memberi inspirasi pada pembaca untuk menempuh cara yang sama. Yakni menatap diri dengan jujur.

Novel adalah usaha mencapai kejujuran tertinggi pada diri seorang pengarang. Usaha tersebut tidak selalu mudah. Banyak sekali halangannya untuk tampil dengan kejujuran penuh. Karenanya, usaha untuk membuat sebuah novel juga merupakan usaha peperangan diri yang dahsyat. Proses tersebut seperti proses melahirkan anak pada diri seorang ibu yang selalu mengandung umpan resiko tinggi.

Akhirnya, kelahiran sebuah novel buat saya selalu merupakan saat yang kritis, sulit, alot dan berbahaya. Karena kelahiran sebuah novel, setiap kali dapat berakibat kematian spiritual seorang pengarang novel.

Jakarta, 24 September 1991

Dicopy-paste dari kumpulan tulisan Putu Wijaya dalam bukunya Sang Teroris Mental (Pertanggungjawaban dan Proses Kreatif), hal. 39-44. Dieditori Sigit B. Krisna, diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia pada Oktober 2001.

Facebook Comments
No more articles