Kurang lebih setahun, tepatnya di akhir september 2018, epigram.or.id yang ala-ala nekat meluncur secara mandiri tanpa afiliasi dan subsidi, setelah setahun sebelumnya ‘hanyalah’ seonggok mahasiswa-mahasiswa tua, rentah, dan kere di bagian selatan kota Makassar dengan ‘kelompok belajar’ yang intens membincangkan, berdiskusi, dan bergosip terkait isu-isu dalam circle gerakan anak muda, mahasiswa, politik Indonesia, sepakbola, sampai pada diskursus-diskursus kontemporer yang pluralistik.

Bagaimana perjalanan kami setelah satu tahun berlalu?

Kami mulai terbiasa terluntah-luntah, kadang bahkan muntah, mungkin lupa kalau pekerjaan keredaksian tidak cukup hanya dengan gagasan, partisan, dan tulisan. Alasannya? tentu Anda bisa menebaknya.

Izin sedikit mengungkit masa lalu, undur setahun sebelumnya. Setiap jelang pekan berakhir, mereka rutin berkumpul di sebuah warung kopi yang berada di bilangan Tala’salapang, bersamaan ketika pertandingan sepakbola tentu saja. Setelah peluit akhir berbunyi, itu menjadi pertanda bahwa mereka (kelompok belajar epigram) mulai harus memulai perbincangan serius, diselingi dengan bumbu gosip, bertukar perspektif seputar topik-topik yang telah disepakati sebelumnya. Kedengarannya sangat biasa. Ya! Anda benar. Semua orang bisa melakukannya, di mana saja.

Terus, apakah hanya sebatas itu saja? Tunggu dulu, kami ingin melanjutkan potongan cerita di atas.

Mereka membaca, sebagian menulis, salah satunya kadang justru bimbang. Setiap argumentasi bisa bersumber dari mana saja, objektif atau tidak, valid atau invalid, ilmiah atau bukan, empiris, idealis, aristotelian, platonik, cartesian, kantian, hegelian, bucinian, dan akhiran –an lainnya. Setiap suara adalah manifestasi dari pikiran dan rasa yang tak bermuara. Berdebat? Tak jarang, mereka baku hantam, saling tuding dan klaim. Tapi tak ada pemenang. Mereka mengapresiasi isi kepala, rekening, serta dompet.

Namun setelah semua itu ditunaikan, akan ke mana isi kepala itu tersimpan?

Singkat cerita, dengan dilandasi kesadaran yang paripurna, egaliter dan ikhtiar, serta reaksi terhadap serangkaian media-media digital arus utama, kedua—mereka dengan semangat cyber discourse berinisiatif menciptakan epigram.or.id, ruang yang lebih demokratis, mendekatkan diri pada akar rumput, menampung dan mendokumentasikan beragam hingar-bingar, mendaur ulang, mengelaborasi wacana, peristiwa, hingga fenomena di luar sana, dari yang paling jauh hingga yang terdekat, tanpa menanggalkan prinsip sebagai ruang belajar.

Media digital tentu menghadirkan tantangan yang berbeda dari media konvensional. Namun, itu tidak berarti bahwa kualitas harus selalu menjadi korban, mengutip Harun Mahbub dalam remotivi.or.id. Bisa saja yang bekerja di dalamnya menjadi korban.

Ada banyak pelajaran moral dan kesunyian yang mereka temukan selama setahun beroperasi. Sangat beragam, menerjang silih berganti. Akses terhadap pembaca yang minim, konten yang masih cupu, sudut pandang yang absurd, relevansi tulisan dengan konteks yang blur, hingga berhadapan pada momok yang memaksa banyak ruang seperti mereka akhirnya mati, ya Anda sekali lagi benar.

Mereka sadar sepenuh nurani bahwa memberi honorarium (fee) setiap tulisan adalah bagian dari bentuk mencintai, mengapresiasi, ataupun menghargai jerih payah setiap penulisnya, terlebih kepada kontributor yang luar biasa telah mendukung, berpartisipasi, menyempatkan isi kepalanya nangkring. Salam jari kelingking kamerade. Mereka memang payah. Jujur saja, mereka tidak punya sumber pendapatan dari iklan, adsense, pun dari empunya modal a.k.a donatur.

September 2019, beberapa hari yang lalu—masalah besar kini hadir bersamaan ketika gelombang aksi massa di berbagai daerah di Indonesia menolak RUU KUHP, Minerba, Ketenagakerjaan, pembatalan UU KPK, dan lain-lain massif dilaksanakan. Mereka merilis informasi via instagram mengabarkan bahwa epigram.or.id tidak lagi beroperasi (berhenti menerbitkan) dikarenakan sudah memasuki masa tenggang (jatuh tempo). Mereka bertemu, membicarakan waktu terbaik untuk mati.

Seperti media-media lain di Makassar?

***

Kami mengantongi potongan sajak Chairil Anwar yang ia tulis pada tahun 1943. Itu sebenarnya sajak besar untuk Diponegoro, tapi sangat cocok ditempelkan ke semua media-media kecil di Indonesia: sekali berarti, sudah itu mati.

Kami berhadap-hadapan, memperkirakan satu per satu kemungkinan yang akan terjadi seandainya potongan sajak itu kami tempel hanya dalam rentang satu tahun berjalan. Ternyata itu terlalu rumit. Epigram.or.id memutuskan untuk menunda kematiannya. Selain kematian selalu bermuara pada perpisahan, dan perpisahan selalu bermuara pada luka, ada beberapa hal yang membuat kami, mengambil keputusan itu. Mulai dari alasan yang paling privat hingga beberapa alasan publik yang mungkin juga bersifat politis.

Pertama, kami segenap redaksi epigram.or.id, sekelompok anak  muda yang kere tetapi nekat merupakan orang-orang yang sungguh mencintai epigram. Epigram mendidik kami menjadi pribadi yang lebih unggul, tabah, dan lebih sabar.

Kedua, kami menghargai segenap orang-orang yang dengan rela menghabiskan secangkir kopi untuk menulis kemudian mengirim tulisannya ke epigram.or.id tanpa sepeser honorarium pun. Hanya sebatas ucapan terima kasih, itupun tidak melalui jabat tangan, tetapi hanya balasan email dari redaksi.

Ketiga, ada banyak mata yang selalu meluangkan waktu untuk membaca artikel-artikel epigram. Yah, jumlahnya mungkin tidak banyak, tetapi terkadang untuk hidup bukan sekadar seberapa banyak kepedulian, tetapi yang dibutuhkan adalah kualitas kepedulian dan kecintaan mereka. Kami tidak ingin membuat pembaca epigram.or.id merindu karena kehilangan. Cukuplah kami-kami yang merasakan kehilangan, dan sungguh itu tidak baik bagi kehidupan kami. Kami tahu bagaiamana rasanya kehilangan, maka kami tidak ingin membuat pembaca setia epigram merasa kehilangan.

Keempat, wacana epigram selalu menjadi wacana alternatif. Dan kami meyakini bahwa pembaca kami membutuhkan wacana alternatif itu. Sungguh sebuah kesedihan, jika orang-orang berusaha membangun sebuah medium wacana, tetapi kami justru membiarkan medium kami mati dan kehilangan jejak. Maka dari itu, kami memutuskan untuk melanjutkan hidup (mungkin hanya setahun lagi) menawarkan dan membicarakan gagasan-gagasan alternatif tentang berbagai peristiwa yang ada di sekitar kita.

Terakhir, alasan utama kami menunda kematian bahwa ada satu sosok yang selama ini diam-diam berada di belakang layar epigram, ia mengamati dan menyelesaikan segala macam hal teknis tentang epigram. #entahapayangmerasukinya hingga dengan rela ia memutuskan untuk benar-benar menuda kematian epigram. Tetapi patutlah kita semua berbangga kepadanya dan mengucapkan tengkyu perimac, kamerad! Basmalah.

Redaksi

Facebook Comments
No more articles