Gerai yang menjajakkan daging babi di mall Phinisi Point (Pipo) tiba-tiba didatangi oleh sekelompok orang mengatasnamakan Alinasi Jaga Moral Makassar. Mereka meminta manajemen mall Pipo untuk “menutup” gerai tersebut. Konon, kata Uztads Das’ad Latif, kehebohan muncul di tengah masyarakat karena babi dijual terbuka di tempat umum. Hal ini kemudian menjadi penyebab mereka meminta gerai tersebut “ditutup”.

“Sipakainga” kata Uztads Das’ad. Secara lateral, sipakainga berarti saling mengingatkan. Tetapi, tentu makna kata tersebut patut untuk dikaji ulang ketika yang dilakukan adalah meminta penutupan gerai orang yang membayar pajak untuk menjual dagangan mereka. Apakah cara terbaik untuk mengingatkan orang lain adalah dengan cara melarang? Saya sendiri tidak berani menjawab pertanyaan itu, tetapi jika kalian bekunjung ke instagram Uztads Das’ad Latif, maka sekitar empat belas ribu komentar termuat di sana dan lebih dominan menyayangkan peristiwa tersebut.

Berselang beberapa hari kemudian, tiba-tiba sekelompok orang yang mengatasnamakan diri sebagai Brigade Muslim Indonesia (BMI) merazia buku-buku yang dianggap sebagai buku yang mengajarkan paham kiri. Sungguh miris bahwa atas kekuatan dan ketidaktahuan, sekelompok orang merazia buku yang notabene merupakan sumber ilmu pengetahuan.

“Jadi itu bagi saya adalah tanda kebodohan besar, kebodohan yang tidak ada batasnya”, kata Romo  Franz Magnis-Suseno usai diminta tanggapannya oleh detik.com terkait dengan razia buku di Makassar. Salah satu buku Romo Magnis juga ikut dirazia karena dianggap menyebar paham kiri.

Hal paling lucu dari lawakan BMI terkait dengan razia buku kiri karena target buku yang mereka razia hanya berdasarkan pada gambar sampul di sinopsis yang mereka baca sekilas. Mereka menolak bukan karena wacana yang ditawarkan, tetapi berdasarkan apa yang mereka lihat di sampul buku. Bukankah salah satu bentuk kebodohan terbesar manusia modern adalah menghakimi sesuatu yang sebenarnya tidak benar-benar mereka ketahui?

Baca Juga: Mengapa Mahasiswa Tidak Lagi Menyukai Aksi Demonstrasi

Pikiran mereka terlalu paranoid terhadap segala hal yang berbau kiri kemudian berpikir bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah tindakan heroisme. Padahal, sungguh yang mereka lakukan hanyalah bagian dari menutupi kekerdilan mereka.

Beberapa tahun yang lalu, Makassar merupakan kota sejuta kerusuhan. Layar tivi kerap menayangkan sisi Makassar yang kelam dengan kekerasan demi kekerasan. Demo, anarkis, tawuran, demikian wajah Makassar saat awal saya menjalani hidup sebagai mahasiswa pada tahun 2012. Perlahan tetapi, pasti zaman memang serasa berubah, demikian pula dengan Makassar.

Era digital sedikit banyak mengubah wajah Makassar. Makassar kemudian secara perlahan menjadi salah satu tonggak kota dengan kegiatan literasi yang massif. Lapak baca, toko buku, komunitas literasi terus bertebaran, bahkan ada banyak kegiatan-kegiatan literasi dari skala kecil hingga skala internasional diadakan di kota Makassar.

Saya sendiri merasakan adanya perubahan wajah Makassar yang kelam menjadi kota sejuta kreasi. Sebutlah kegiatan Makassar Internasional Writers Festival (MIWF), Eight Festival (F8), Makassar Biennale serta kegiatan-kegiatan lainya. Selain itu, bermunculan juga anak-anak muda kreatif dari berbagai bidang.

Perubahan wajah Makassar ke arah yang lebih literatif dan kreatif. Hal ini kemudian serasa kontra produktif jika dibandingkan dengan razia buku dan tindakan-tindakan intoleran lainnya.

Baca Juga: Mengapa Kita Mesti Melawan?

Kepercayaan terhadap agama sebagai bagian terpenting dari aspek kehidupan sehingga mengabaikan hak-hak orang lain pada dasarnya menjadi fenomena yang sedang tren. Uniknya bahwa terkadang seseorang tenggelam dalam simbol semata tanpa benar-benar memahami esensi serta motif dari hadirnya sebuah simbol.

Pada awal tahun 2018, di Instagram, saya mengomentari foto Masjid 99 Kuba yang berdiri di atas tanah reklamasi tepat berhadapan langsung dengan Pantai Losari. Komentar saya cukup sederhana  “Sayang, senjanya tidak kelihatan”. Tiba-tiba, puluhan orang menimpali komentar dengan nada yang sinis. Mereka tidak senang dengan komentar saya yang seolah tidak menghargai Masjid 99 Kuba sebagai simbol agung agama.

“Emangnya kamu akan mati kalau tidak melihat senja?” Salah satu komentar yang tak pernah lekang dari pikiran saya. Bagaimana tidak, saya merasa sedih bahwa ketika membicarakan Masjid 99 Kuba, mereka hanya memandang dari persoalan agama semata. Mereka tidak peduli efek reklamasi, tempat masjid tersebut berdiri kokoh.

Ada puluhan nelayan yang kemudian terpaksa berhenti melaut karena reklamasi. Terumbu karang dan habitat hewan laut kemudian rusak akibat ditimbun. Bahkan sepertinya orang-orang yang menimpali komentar saya tidak pernah mendengar tentang abrasi di kota Takalar akibat aktivitas pertambangan pasir untuk menimbun reklamasi di Makassar. Yang paling menyedihkan, abrasi di Takalar tersebut bahkan merusak kuburan sehingga memperlihatkan tulang-belulang jasad orang-orang yang tidak bersalah.

Tetapi mereka tidak peduli terhadap itu semua, kehidupan mereka tenggelam dalam euforia simbol. Salah satu bentuk euforia simbol yang dirayakan adalah Masjid 99 Kuba tersebut.

Pertanyaan paling mendasar, mengapa gedung/bangunan yang paling pertama dibangun di area reklamasi tersebut?

Tentu pengembang punya sejuta alasan, tetapi jika didekonstruksi, maka narasi yang ditemukan adalah masjid tersebut sebagai hegemoni bagi masyarakat. Fenomena sosial kita setelah Pilgub DKI Jakarta 2017 menunjukkan adanya kecenderungan untuk fanatik terhadap hal-hal yang berbau agama.

Masjid sebagai tempat ibadah ummat muslim sekaligus simbol agama Islam kemudian dijadikan sebagai salah satu bagian untuk menghegemoni masyarakat. Apa yang terjadi pada Masjid 99 Kuba yang ada di Makassar ternyata sedikit banyak mampu untuk membuat masyarakat terpesona pada karya Ridwan Kamil tersebut ketimbang dengan kebijakan melalukan reklamasi.

Secara sederhana, Masjid 99 Kuba kemudian mampu membuat masyarakat berdamai dengan reklamasi karena menganggap bahwa orang-orang yang berada di balik reklamasi, peduli terhadap agama dengan membangun sebuah masjid yang megah nan indah. Tanpa disadari, hal ini kemudian menumpulkan daya kritis masyarakat terhadap kebijakan pembangunan reklamasi dan berbahagia dengan adanya Masjid 99 Kuba.

Dari sekian banyak hal, hal yang paling menyedihkan bahwa kita kemudian seperti sedang melawan diri sendiri dan orang-orang yang sama dengan kita. Dahulu, kebijakan-kebijakan pemerintah kemudian dipertentangkan secara hirarki, artinya protes biasanya lahir dari masyarakat ke pengambil kebijakan. Tetapi sekarang, hal ini kemudian mengalami pergeseran, sebagaimana yang terjadi di Instagram, bahwa yang melawan kita adalah orang-orang yang dekat dengan kita, tetapi tenggelam dalam simbol-simbol yang diciptakan oleh penguasa.

Facebook Comments
No more articles