Teruntuk seorang kawan yang ditinggal menikah oleh seorang terkasih.

Dengan segala daya, ia mendorong sebongkah batu besar ke atas gunung, kemudian menggelindingkan. Setelah itu, ia kemudian berlari ke arah batu tersebut, lalu mendorongnya kembali ke atas gunung sebelum menggelindingkan kembali.

Demikian hukuman yang harus dilakukan oleh Sisifus seumur hidupnya sebagaimana diceritakan oleh Albert Camus. Pencarian makna pada dasarnya sia-sia kata Camus untuk menjelaskan peristiwa tersebut. Hidup ini, pada dasarnya adalah sebuah keabsuran dan kumpulah remah-remah kekecewaan serta luka.

Saat masih muda, banyak orang berjuang untuk seseorang yang mereka kagumi. Mereka mengeluarkan sagala daya dan upaya, tetapi pada akhirnya tidak semua orang mampu untuk menaklukkan hati orang lain.

Sedangkan, mereka yang berhasil bukan berarti tanpa masalah juga. Pertikaian, perbedaan pendapat, bahkan pengkhianatan merupakan hiasan nyata dari sebuah hubungan. Ada banyak orang yang kemudian kandas sebelum menyentuh pelaminan, tetapi harus kita ketahui bahwa ada banyak juga hubungan yang justru kandas di tengah-tengah bahtera rumah tangga.

Lantas, apa yang salah dengan pernikahan mantan? Tidak ada! Yang salah adalah ketika kau masih mencintainya. Bukanhkah konsekuensi utama dari pertemuan adalah perpisahan. Ia bisa saja hadir di dalam hubungan yang masih seumur jagung bahkan di dalam sebuah hubungan yang telah mapan. Setiap peristiwa pada dasarnya selalu bermuara pada perpisahan, lantas apa yang mesti disesali dari sebuah pesta pernikahan seorang mantan kekasih? Jika mereka berpesta, mestinya kita ikut merayakan.

Baca Juga: Humor sebagai Hiburan untuk Menertawai dan Sekaligus Menghinakan Orang Lain

Paragraf di atas adalah satu dari sekian banyak upaya untuk mengatakan bahwa ditinggal menikah bukanlah akhir dari sebuah hidup. Akan tetapi, ia hanya sebatas etalase rupa-rupa kehidupan. Bukan hanya kamu, tetapi banyak orang yang berada di barisan yang sama—ditinggal menikah oleh kekasih. Apakah dunia berakhir? Tidak!

Satu tahun yang lalu, seorang terkasih mengirimi saya surat undangan. Katanya ia akan menikah, tepat pada tanggal kelahiranku. Lantas harus saya maknai sebagai apa itu semua? Mereka merayakan pernikahannya, sedangkan saya, juga harus ikut merayakan—merayakan luka batin. Tetapi waktu adalah guru yang paling mampu untuk menjawab segala pertanyaan perihal keadaan. Luka itu kemudian perlahan berlalu dan hilang. Luka itu tidak membekaskan apa-apa, selama kau bisa merelakan dan memahami bahwa pada dasarnya, hidup ini adalah perjalanan menuju sebuah perpisahan yang tak perlu untuk ditangisi terlalu lama.

Kesalahan terbesar seseorang ketika diperhadapkan pada sebuah peristiwa perpisahan adalah sikap rasis terhadap hidup. Mereka memendam satu perasaan rasis akut bahwa orang tersebut tidak akan bahagia ketika tidak hidup bersama saya. Menganggap rendah orang lain, sesungguhnya adalah sikap rasis yang paling nyata. Padahal, kehidupan sungguh sesuatu yang tidak bisa kita tebak, bisa saja di dalam realitas, ia lebih hidup bahagia ketika bersama dengan orang lain, sedangkan bahagianya kita hanya ada dalam imajinasi.

Selanjutnya perihal perjuangan. Tidak semua orang yang diperjuangkan yakin bahwa perjuangan kita bermuara pada kebahagiaan. Maka dari itu, banyak orang merelakan hidupnya diatur oleh orang tua mereka ketimbang menentukan arah hidupnnya dengan seseorang yang ia cintai. Hal ini bukan tanpa sebab, tetapi bisa jadi di dalam pikirannya, sebenarnya ia sendiri tidak yakin dengan apa yang telah ia pilih, makanya lebih memilih untuk menuruti pilihan orang tuanya.

Apakah kemudian kita lantas menyalahkan orang yang meninggalkan kita? Kupikir itu sesuatu yang tidak adil. Semestinya, terlebih dahulu kita bercermin dan menatap diri dalam-dalam, kebahagiaan apa yang bisa saya berikan padanya selain kata-kata tanpa usaha pasti untuk datang bertemu orang tuanya dan meminangnya. Daripada menyalahkan orang lain, apalagi menyalahkan diri sendiri, ada baiknya kita berdamai saja dengan keadaan.

Saya membayangkan bahwa kawan saya yang hari ini hatinya patah sepatah-patahnya di beberapa purnama ke depan bisa tersenyum lega ketika melihat story mantan kekasihnya sedang berbahagia dengan lelakinya. Bukankah mengetahuinya bahwa ia tidak salah pilih merupakan hal yang lebih baik ketimbang harus memilih kita yang jutsru merupakan sebuah kesalahan. Anggap saja bahwa “bahagianya adalah bahagiaku jua”. Meski pun kata “bahagia” merupakan kata yang misterius, bahkan penciptanya sendiri mungkin tak pernah benar-benar merasakannya.

Sebagai penutup saya hanya ingin kembali kepada apa yang disampaikan Camus dalam Mitos Sisifus, “Perjuangan itu sendiri, sudah cukup untuk mengisi hati manusia. Kita harus membayangkan bahwa Sisifus bahagaia”. Kamerad, bukankah kau sudah berjuang, tak ada yang mesti kau sesalkan. Tak perlu memutar lagu “harusnya aku yang di sana”, mungkin saja saat orang lain berada di sana bersamanya, hidupnya lebih bahagia, dan juga dengan hidupmu.

Facebook Comments
No more articles