Kalau selama sebulan penuh kau membaca 643 artikel, 3 buku secara berulang, menonton habis 14 film, menulis satu dua artikel dan mengirimkannya ke epigram.or.id yang tidak sanggup membayarmu dengan uang tunai, merenung selama dua jam setiap hari dan sisa waktumu kau gunakan beristirahat. Tidak akan ada yang menganggapmu telah bekerja, meski kau bersumpah atas nama Tuhan mana pun.

Bekerja adalah berangkat pagi-pagi ke kantor; memotret laptop yang penuh dengan laporan keuangan; atau menyebarkan dogma-dogma tentang satu Tuhan saat mengajar di depan murid-murid yang tidak semuanya beragama sama denganmu.

Manusia yang memiliki dua kaki untuk berpijak dan dua tangan yang bisa digunakan bergantian menampar, berhasil tumbuh sebagai spesies yang mampu membuat pertanyaan sia-sia: “apa pekerjaanmu?” atau “apa agamamu?”

Dua pertanyaan itu berhasil membuat banyak pasangan muda-mudi berpisah karena keliru menyebut nama Tuhan, serta banyak pemuda yang harus undur diri dengan angka mahar seratus juta karena pekerjaannya hanya sebagai honorer rendahan yang tidak mampu membeli hati orang tua yang mengukur kebahagiaan anaknya dengan benda-benda mati.

Baca Juga: Cara Mengobati Tumit Keseleo Akibat Kebodohanmu Sendiri

Saya sedang membaca Don Quijote dari La Mancha, seorang hidalgo tua yang berusia sekitar lima puluh tahun. Pak Tua yang tergila-gila dengan kisah-kisah kesatria. Ia menghabiskan waktu selama bertahun-tahun mengendap dalam rumahnya dan membaca beratus jilid yang membuat hidalgo malang itu kehilangan otaknya. Ia seorang pembaca yang harus menjual tanahnya untuk membeli buku-buku kesatria bacaannya. Kisah kegilaan Don Quijote menjadikannya sebagai karakter tokoh yang lebih dikenal mengalahkan nama penulisnya sendiri, si Miguel de Cervantes.

Sebagai seorang pengangguran yang suka mendengar gosip, beberapa kali saya pernah mendengar kisah-kisah penulis yang pernah mengalami situasi seperti Don Quijote, pasang-surutnya kehidupan mereka dan proses mengendap dalam waktu lama untuk membaca bertumpuk-tumpuk buku. Ini adalah kepingan dari kisah-kisah yang saya pungut dari sekian banyak gosip yang berhamburan.

Dulu, Ibe S. Palogai, laki-laki yang suka mencuci piring sebelum memulai menulis apa pun di kamarnya, pernah melakukan pengendapan bertahun-tahun. Setelah ia menerbitkan buku puisi pertamanya Solilokui, ia mengasingkan diri di kamarnya. Memulai sebuah pembacaan panjang. Hasil endapannya membaca, membuatnya menemukan tema perang, tema itu yang kemudian ia garap dalam buku puisinya Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi. Masa-masa pengendapan itu yang membuatnya mengecilkan durasi pertemuannya dengan orang-orang terdekatnya. Di Munduk, dia pernah berhasil mendengar bunyi daun.

Saat Aslan Abidin, laki-laki yang punya segudang cerita humor tentang para pemabuk di Pasar Takalalla Soppeng, menemukan namanya terpajang di koran bekas—koran bulanan Identitas (Unhas)—yang temannya temukan di penjual sepatu cakar dalam keadaan sangat kusut. Ia ambil koran itu, kemudian pulang mendatangi Ibunya yang sementara memasak dan menyampaikan kalau dia lulus di Unhas. Ibunya menimpali, “di mana kau akan dipinjamkan uang?” Aslan Abidin berangkat ke Makassar dengan bekal pinjaman dari sanak keluarganya.

Saat menjadi mahasiswa baru, Aslan menghabiskan tahun pertamanya dengan membaca sebanyak mungkin buku-buku yang ada di perpustakaan FIB Unhas, hampir setiap hari. Pengendapannya selama setahun itu, membantunya menulis sajak-sajak yang kemudian diterbitkan Majalah Horison, majalah sastra terkemuka saat itu. Sajak-sajak itu yang kemudian membuat Sutardji Calzoum Bachri (Redaktur Majalah Horison saat itu) berteriak girang saat baru keluar dari taksi dan menemui beberapa penyair lain: “kita punya penyair baru”.

Di Kota Yogyakarta, hidup seorang laki-laki yang membuat seluruh keluarganya mengiranya sudah hilang selama rentan satu tahun karena tidak pernah bisa dihubungi. Saat pertama kali ia berkabar ke orang tuanya, ia hanya mengatakan kalau selama setahun penuh itu ia menghabiskan waktunya untuk membaca buku-buku. Orang-orang di Makassar mengenalnya dengan nama Ahyar Anwar, lelaki yang menidurkan cinta. Intelektual yang sangat periang. Semoga Tuhan memberinya tempat lapang dalam tidur panjangnya.

Peristiwa-peristiwa di atas merupakan pengalaman literer, pengalaman membaca beragam peristiwa dari buku-buku, meski ia sangat dekat dengan situasi kesunyian. Puthut EA pernah bilang, “tidak ada jaminan penulis yang membaca banyak buku lantas menjadi hebat dan berbobot. Tapi sepertinya tidak ada penulis yang baik, yang tidak membaca banyak buku.”

Baca Juga: Seekor Lalat dan Sang Raja

Aslan, Ahyar Anwar, Ibe, dan banyak orang lain yang telah melakukan pengendapan dengan bertumpuk-tumpuk buku bacaan sangat berpeluang memiliki pikiran terbuka dari beragam perspektif di dunia ini. Saat aparat kita semakin tumbuh keberaniannya menyita buku-buku dan guru-guru di sekolah menjejali kita untuk lebih banyak menghapal kitab suci ketimbang memahaminya, sepertinya kamar adalah tempat terbaik untuk mengendap dan belajar lebih banyak memahami peristiwa dari buku-buku.

Nina George, penulis Jerman yang berusia 46 tahun pada 30 Agustus ini. Dalam bukunyaThe Little Paris Bookshop yang telah diterjemahkan lebih dari 28 bahasa, memberi nasihat bahwa, “apa yang kamu baca jauh lebih penting dalam jangka panjang dibanding seseorang yang kau nikahi.”

Baca Juga: Mengapa Kita Enggan Membaca?

Kalau dalam sehari kau membaca 4 artikel, menonton 1 film, menulis dua sampai tiga status di dinding facebook, dan sisanya kau gunakan bergosip dan mengintip foto-foto mantanmu yang sudah menikah. Dan teman-temanmu menganggap itu bukan sebuah pekerjaan dan kau hanya sia-sia hidup di bumi ini. Jangan sedih, kau tidak pernah sendiri. Kita satu barisan, kamerad.

Facebook Comments
No more articles