LUKA

ha ha

(Sutardji Calzoum Bachri)

Luka tak lagi diratapi melainkan untuk ditertawai. Begitulah kondisi di era sekarang ini.

Masih hangat di ingatan kita atau barangkali akan terus kita ingat, sebab video dengan hastag “Janganko kasi nyala blitz-nya!”  Berdurasi 29 detik yang mempertontonkan aksi cabul sepasang remaja SMK, layaknya hubungan suami istri yang sudah tersebar, tersimpan di memori handphone para kolektor bokep dan celakanya bisa diputar berulang kali. Lebih parahnya lagi, wajah korban dijadikan sebuah stiker Whatsaap dengan tulisan yang melintang di bawahnya “Janganko kasi nyala blitz-nya!” yang membuatnya semakin tereksos dan semakin memperpanjang ingatan sekaligus derita korban kejahatan oleh hakim bernama “mayoritas”.

Begitu pula yang tampak pada salah satu film peraih Oscar 2019 untuk kategori film terbaik, The Green book (terlepas dari segala kontoversinya). Film ini berkisah tentang hubungan antara seorang pianis kelas dunia, Dr. Don Shirley yang berkulit hitam dan seorang preman dari Bronx, Toni Lip yang berkulit putih (kelak akan menjadi sopir sekaligus bodyguard bagi Shirley). Isu utama dalam film ini tentang rasisme, berlatar era 1960-an di Amerika serikat.

Jika kita melihat lebih dalam melalui film ini, betapa olok-olok_dalam situasi tertentu dapat digunakan sebagai humor, merupakan salah satu senjata yang digunakan sebagian kaum kulit putih untuk merendahkan kaum kulit hitam.

“Jangan tidur saat putriku sendirian bersama dua karung batu bara ini.” Atau “Aku punya alasan,” ketika Don Shirley meminta penjelasan, mengapa ia ikut dipenjara ”karena matahari terbenam di bokong hitammu”.

Di sisi lain, film ini cukup berhasil memperlihatkan dampak psikis Don Shirley berupa keterasingan dirinya dengan kekejaman dunia luar. Hidup mewah dan terkenal tak membuatnya bahagia. Apa yang ia butuhkan cuma satu hal: keadilan. Keadilan bahwa setiap orang berhak untuk dicintai tanpa melihat golongan, ras, atau agama apa orang itu berasal.

Masih banyak contoh lain yang terjadi di sekitar kita. Di lingkungan sekolah maupun kampus tidak terlepas dari namanya kasus bully, di mana humor dijadikan senjata utama untuk mengolok-olok.

Dalam salah satu cuitan Goenawan Mohammad, “Humor adalah ajakan untuk tertawa bersama, bukan menertawakan orang lain.” Yah, kita memang tertawa bersama, menertawai aib ataupun orang lain, tepatnya.

Humor tak lain, hanya sekadar hiburan. Dalam teori Manser, humor semacam ini dinamakan teori superioritas dan meremehkan, yaitu jika yang menertawakan berada pada posisi super sedangkan objek yang ditertawakan berada pada posisi degradasi (diremehkan atau dihina).

Padahal semenjak abad ke-20 humor telah menjadi salah satu objek penelitian penting. Berbagai tulisan mengenai humor telah diterbitkan para Ilmuwan dari berbagai cabang ilmu sosial, terutama dari perspektif psikologi. Charlie Chaplin, yang dilahirkan April 1889, merupakan seorang komedian terkenal di dunia humor modern. Film yang dibintanginya memberi inspirasi yang besar sekali dalam perkembangan humor pada umumnya. (Hendarto, 1990). Humornya banyak berupa komedi satir seperti pada film “The Great Dictator” sebuah film yang berisi kritik kepada Nazi.

Sayangnya humor-humor cerdas yang bisa bernilai edukasi ataupun kritik malah tak terlalu tanpak di era sekarang ini. Humor lagi-lagi hanya sebagai hiburan untuk menertawai sekaligus menghinakan orang lain.

Aib itu tak ubahnya api unggun tempat kita menari dan tertawa ria di sekelilingnya. Terus memberinya rating agar tetap berkobar, sampai di tepi pagi, yang tertinggal hanyalah setumpuk abu tak berharga, dicampakkan begitu saja.

Manusia akhirnya, seolah memiliki jarak untuk tidak berempati pada sesamanya. Tak berpikir apa dampak psikis yang dapat timbul pada diri korban. Si korban telah menerima hukum yang tidak dibuat oleh Tuhan melainkan oleh manusia.

***

Beberapa pekan setelah kejadian video viral itu, tersebar berita yang mengabarkan bahwa korban yang berinisial S itu meninggal, bunuh diri. meskipun akhirnya diketahui bahwa itu hanyalah hoax. Bunuh diri, Sebuah usaha untuk “menjagal diri sendiri” kata Shakespeare. Biasanya dilakukan oleh orang Jepang untuk menutupi aib atau derita yang tak bisa ditanggung lagi. Jadi, meskipun hanya hoax, hal seperti “bunuh diri” bisa saja terjadi. kita tentu tak mengharapkannya, tapi dengan memviralkan, menghakimi, dan menertawai, kita seolah melancarkan jalannya bunuh diri itu.

Penulis: Danil, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Aktif belajar di Institut Sastra Makassar (ISM).

Facebook Comments
No more articles