“Selama manusia menulis buku, selama itu pula musuh-musuh mereka akan menghancurkannya”, perkataan yang diutarakan oleh Utne Reader pada saat mengomentari buku Penghancuran Buku dari Masa ke Masa karya Fernando Baez, kemudian dikutip pula dalam buku antologi esai yang berjudul Agroliterasi karya Irsan.

Perkataan yang begitu mujarab dan tidak hanya berlaku di masa lalu melainkan masa sekarang pun seperti itu. Fenomena pelarangan buku, diskusi buku, bahkan pembakaran buku acapkali terjadi dengan alasan-alasan yang biasanya bernada ‘demi keamanan dan kesejahteraan’. Setiap pergantian estafet kepemimpinan, hal yang tidak pernah terlewatkan adalah adanya peristiwa pelarangan buku.

Peristiwa pada 2014 lalu, pembubaran paksa diskusi buku tentang Tan Malaka, sebuah buku yang ditulis oleh Harry A. Poeze, bertempat di Surabaya dengan alasan bahwa Tan Malaka merupakan sosok yang pernah menjadi petinggi Partai Komunis Indonesia (PKI). Kisah lain juga pernah dialami oleh salah satu sastrawan ternama Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Pada masa Orde Lama menuju Orde Baru, beberapa kali Pram harus merelakan buah pikirannya dalam bentuk buku harus disita dan dilarang peredarannya oleh pihak keamanan negara dengan alasan yang hampir sama, yakni keamanan dan stabilitas pemerintahan.

Baca Juga: Pemusnahan Ingatan, Bentuk-bentuk Api, dan Budaya Penghancuran Buku

Di Mesir, pil pahit juga pernah dirasakan oleh para cendekiawan dunia yang kehilangan perpustakaan yang menjadi tempat persinggahannya, perpustakaan Alexandria (sebutan bagi bangsa Barat) atau Iskandariyah (bagi bangsa Arab). Perpustakaan yang berdiri pada awal abad ke-3 SM ini, hilang bersama peristiwa pembakaran kota oleh Julius Caesar pada tahun 48 SM. Yang jelasnya, di balik kehancuran perpustakaan menyimpan memori kelam bagi perkembangan ilmu pengetahuan kala itu.

Masa Khalifah II Abbasiyah juga pernah terjadi kisah mengharukan tentang perpustakaan. Perpustakaan Bayt Al Hikmah yang dibangun oleh Abu Ja’far dihancurkan saat Baghdad ditaklukkan oleh bangsa Mongol dengan cara membuang semua koleksi buku-bukunya di sungai Tigris. Selanjutnya, cerita lain tentang buku juga terjadi baru-baru ini di Jawa Timur. Dua pemuda pegiat literasi yang merupakan anggota dari Komunitas Vespa Literasi terpaksa diamankan oleh pihak kepolisian Probolinggo karena memajang buku-buku D.N Aidit di lapakannya di alun-alun Kraksaan. Keduanya diamankan dengan alasan bahwa mereka dinilai pro komunis dikarenakan D.N Aidit merupakan salah seorang tokoh PKI.

Beberapa peristiwa di atas terkait buku secara tidak langsung melegitimasti komentar dari pada Utne Reader. Pelarangan dan penghancuran buku masih menjadi momok yang mengharukan di beberapa negara, khususnya di negera kita sendiri sampai saat ini.

Meskipun kita ketahui pada Oktober 2010 lalu, Mahkamah Konstitusi telah mencabut UU No.4/PNPS tahun 1963 mengenai penyitaan dan pelarangan penerbitan buku dikarenakan bertentangan dengan UUD 1945 pasal 28F yang mengatur hak warga negara untuk berkomunikasi dan menyampaikan informasi. Namun dalam range waktu 2010-2019 pasca pencabutan UU tersebut, peristiwa terkait pelarangan buku sampai diskusi buku yang dinilai menganggu kesejahteraan masyarakat tetap digalakkan oleh beberapa pihak. Artinya pencabutan UU tentang pelarangan buku masih kurang diindahkan sejauh ini, terbukti dengan beberapa peristiwa penyitaan dan pelarangan buku-buku yang dianggap ‘berbahaya’ masih marak terjadi.

Melirik fenomena penyitaan dan pelarangan buku-buku yang dianggap mengancam ketertiban dengan pandangan rasionalitas, kita bisa saja berasumsi bahwa tindakan seperti itu masuk dalam kategori ‘kesesatan’ logika dan minimnya wujud penghormatan kita terhadap persebaran khazanah ilmu pengetahuan. Hemat penulis, buku-buku yang dianulir akan mengganggu ketertiban dan menciptakan nuansa chaos di tubuh sebuah tatanan merupakan sebuah prediksi yang nampaknya jauh meleset apalagi mengoleksi atau membaca sebuah buku dianggap pro/kontra terhadap sebuah paham, misalnya membaca buku beraliran garis kiri-keras—seperti yang sering kita utarakan saat melihat buku-buku bersampul merah meskipun kerapkali kita belum pernah membacanya, hanya opini publik yang terbangun dari mulut ke mulut—dan setelah membaca buku itu kita akan menjadi ganas hingga merampas kehidupan seseorang.

Hal demikian tidak akan terjadi namun respon kita lah yang terlampau berlebihan karena pada dasarnya, pembaca buku yang baik adalah mereka yang memiliki alas pemikiran bijak dalam melihat fenomena, penuh pertimbangan yang matang dan tentu tidak keras kepala. Seorang dokter ahli bedah, meneliti obat sejenis narkoba dan membaca referensi yang terkait untuk dijadikan sebagai obat penenang atau penetralisir rasa sakit bagi pasien, lantas mungkinkah kita akan berkesimpulan bahwa dokter tersebut sedang dan atau akan menyalahgunakan dan memakai obat-obat terlarang?

Salah satu tujuan daripada buku adalah menjernihkan pemikiran pembacanya. Buku sebagai medium ‘menafsir’ dunia melalui teks menanamkan sebuah pandangan ilmiah tentang apa permasalahan di tubuh tatanan dan bagaimana dunia beroperasi dalam pikiran pembacanya sehingga tercipta bangunan paradigma untuk menggerakkan dunia berjalan di atas koridornya.

Baca Juga: Alusi Pendidikan dan Bagaimana Kebetulan Bekerja

Buku selalu menawarkan cahaya di tengah kegelapan yang melanda. Betapa indahnya sebuah dunia jika dihuni oleh manusia-manusia bibliofil (pencinta buku), hidup akan lebih berwarna dan terbangun dengan pertarungan ide/gagasan dan pikiran sehat seperti yang pernah terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah, para raja di masa itu hobi berdiskusi hingga berdebat sebagai bentuk latihan menuju pendewasaan diri.

Sebaliknya, jika dunia dihuni oleh apa yang dibahasakan Robertus Robert sebagai para pelaku librisida (pembunuhan terhadap buku) maka The Dark Age of The World akan kembali kita rasakan bersama, tapi semoga saja hal demikian tidak terjadi dengan tetap beriktiar dan belajar untuk memahami sesuatu daripada membenci sebelum memahaminya. Buku hadir untuk sebuah dunia yang penuh kedamaian.

Penulis: Askar Nur, mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

Facebook Comments
No more articles