Bagaimana membuka review ini agar kalian bersedia membacanya hingga tuntas? Tulisan ini mudah sekali diabaikan, bukan ramalan astrologi yang pendek-pendek dan penuh khayalan menyenangkan dan sedikit menegangkan. Atau pesan berantai WhatsApp yang selalu diakhiri dengan kalimat menggiurkan.

Tidak ada yang bisa dijanjikan, tidak ada hadiah promo atau paket wisata memperingati hari kemerdekaan, tidak akan bertambah saldo atau lembaran kertas berhargamu, apalagi perpanjangan usia. Memang itu saja yang ingin kuletakkan di hadapan kalian: tidak ada yang bertambah dan tidak ada yang ingin “berkurang” darimu. Semoga saja.

Saya ingin mengajak kalian mundur beberapa bulan lalu, ketika pertama kali mendapati kabar bahwa roman Bumi Manusia akan diangkat ke layar lebar. (Kau boleh saja langsung melompat ke paragraf ketiga). Balik lagi, saya tipikal orang ketika melihat sebuah film Indonesia yang punya potensi, segera berinisiatif menjadi bagian tim hore mengajak kenalan untuk merayakan “keberhasilan” perfilman negeri ini. (Jika kau seperti ini, angkat tanganmu dan katakan dalam hati, aku tidak sendiri). Semua orang tahu, film ini diadaptasi dari sebuah roman legendaris yang telah banyak dibaca dan didiskusikan oleh masyarakat Indonesia. Hmm, kecuali saya.

Betapa bahagianya mengetahui kalender telah berganti bulan memasuki Agustus. Kepada teman-teman, kukatakan, “Ada film kece. Nonton ya”, pesan yang sama kembali kusodorkan dua hari sebelum penayangannya di bioskop. Film ini digarap oleh sutradara yang juga membuat film “?” dan Ayat-Ayat Cinta. Saya mengapresiasi kedua film itu dan memasukkannya dalam tilikan rekomendasi film Indonesia. Barangkali itulah salah satu sebab yang memantik antusiasme penikmat film sepertiku.

Hari kedua penayangan, bersama kedua orang teman, mendatangi sebuah bioskop untuk melepaskan rasa penasaran yang sudah ingin meledak karena sehari tertunda. Layar besar di hadapan penonton perlahan-lahan melebar sembari cahaya ruangan diredupkan. 

(Karena film ini masih akan tayang berkali-kali di bioskop kesayangan kalian, akan kuusahakan seminimal mungkin mengobral jalan ceritanya.  Siapa tahu, kalian masih berminat membuang-buang uang.)

Durasinya cukup lama: tiga jam. Pengalaman terakhir menonton film selama itu saat menikmati The Hobbit, saking nikmatnya, saya sempat tertidur selama setengah jam saat menontonnya. Tapi tenang saja, saya tidak mengantuk sedikit pun menyaksikan kekonyolan film Bumi Manusia.

Baca Juga: Penyintas Pelecehan Seksual Tak Boleh Tinggal Bungkam

Di sini, kita bisa mengasah kemampuan atau bakat tahan tawa masing-masing. “Jangan sampai kotak tertawamu rusak,” nasihat Squidward. Kata-kata yang kupegang itu justru menjadi katalisator, derajat kekonyolannya meningkat cukup tinggi. Kami masih beradab dan mengaktifkan mode senyap tawa agar tidak mengganggu penonton lain. Kalian boleh melatihnya sebelum berencana mengontrak kursi dalam bioskop. Kursi malasmu di rumah atau kos bisa menjadi alternatif. Dan mulailah menyuplai otakmu dengan gambaran-gambaran konyol dengan judul persuasif yang banyak di YouTube.

Selain itu, film ini juga menyiapkan kejutan dalam alur ceritanya. Sangat kaya, sampai-sampai kau tidak membutuhkan usaha sedikit pun untuk memikirkan apa gerangan adegan selanjutnya. Seperti sekumpulan orang yang telah lama mengantre menjelang diskon besar-besaran, lalu gerbang mall dibuka dan duarrr. Semua berlomba-lomba memperlihatkan ketergesaannya.

Siapa cepat, dia dapat.

Tidak sempat, bodo amat.

Oh iya, siapkanlah alat tulis. Barangkali kau membutuhkannya, karena beberapa bagian memang memberikan kalimat-kalimat pamungkas yang quotable. Ya, meskipun kedatangannya sedikit dipaksakan dalam dialog, tapi tidak apa-apa kan. Selama ia bisa menambah pundi-pundi kutipan bekal menggaet gebetan atau mengumbar patriotisme nan intelektuil di seantero wajah dunia medsos kita. Mengapa bersusah payah menelusuri jejak pikiran lewat argumentasi dan tindakan tokoh yang tersirat dalam dialog dan proses penokohan para aktor? Tidak usah mencarinya kalau kau tidak tahan dengan kekonyolan (baca: ketaklogisan). Kalau ada yang instan, buat apa merenung dalam-dalam agar beroleh pengaruh yang menetap lebih konstan.

Sebelum kau memesan tiket, coba tanyakan pantulanmu dalam cermin dan barangkali juga di sela-sela dompetmu, apakah saya akan alergi dengan repetisi tidak berguna? Sebab, dalam dialog ia ada dan berkembang biak. Tingkah laku tokoh-tokoh sentral juga terjadi, di sinematografi juga hadir. Akan saya sampaikan empat contohnya.

Annelies membawa sekuntum mawar segar di awal dan akhir cerita. Mungkin saja mawar itu adalah simbol dirinya. Tetapi, yang membuat gusar adalah, mawar itu tidak bisa hadir begitu saja dalam genggamannya jika adegan sebelum itu ia dari kamarnya. Mengapa ia harus menyimpan cadangan mawar di dalam kamarnya? Atau barangkali di koper dalam kamarnya? Yang jelas tidak ada taman bunga di kamar Annelies. Dan bagaimana pula mawar itu tidak busuk? Kalau pun itu mawar imitasi, tetap saja, mengapa Annelies menabungnya? Apa jangan-jangan Annelies punya kekuatan supranatural menciptakan sekuntum mawar?

Tingkah laku tokoh Minke pun memperlihatkan keanehan dalam dialognya. Padahal dia adalah tokoh utama cerita ini. Kau akan dapati ia berujar, kira-kira seperti ini, “Baiklah. Perlawanan yang bisa kulakukan adalah dengan pena ini, meskipun aku harus menuliskannya dengan darahku”. Coba tebak adegan apa setelahnya? Minke mengetik tulisannya dengan mesin tik.

Keanehan tidak habis di sini, surat kabar begitu entengnya menerbitkan tulisan-tulisan Minke, padahal ia memuat kritikan terhadap pemerintah Hindia-Belanda, peran editor dikerdilkan ataukah ini keberuntungannya saja. Padahal saya menanti konflik kepentingan dalam redaksi surat kabar bersangkutan. Bahkan dia pun mendapatkan bantuan penerjemah tanpa kesulitan yang berarti. 

Adegan kereta api yang melaju dengan sudut pandang bird eye menampilkan panorama gunung dengan hamparan sawah-kebun dan danau yang elok. Dan keadaan itu berulang kali ditampilkan. Akibatnya, kau mungkin akan mendapati kejanggalan dari nuansa dan tekstur gambarannya. 

Jika disimpulkan dalam satu paragraf, kesan saya akan seperti ini: alur ceritanya lemah. Ditambah susunan dialog yang kurang matang. Salah satunya percakapan di ruang pengadilan Eropa, ketika Minke terlambat datang dan menemukan Nyai Ontosoroh dengan Annelies yang masih bertahan di ruang sidang.

Kata Minke, “Apa Mama tadi tidak berusaha melawan?” Kemudian Nyai menjawab, “Menurutmu apa yang tadi aku lakukan di ruangan ini?” Khalayak penonton dalam bioskop, dari dasar jurang batinnya terdengar keluhan, “Minke, Minke, pakai ditanya segala. Hadeuh,” yang menguap ke dunia konkret sebentuk helaan napas yang panjang dan dalam.

Beberapa adegan mau dibuat mendalam, tapi karena keaktoran yang tidak matang dan dialog yang belepotan, jadi kesannya tidak sampai. Cuma membawa penonton ke area “cieee cieee” atau “mantab soul” gagal membuka kemungkinan yang barangkali bisa menjadi perenungan di adegan-adegan penting. Porsi cinta-cintaan yg terlalu banyak dibandingkan kritik sosialnya. Menurutmu, apakah wajar seorang perempuan jatuh cinta dengan seorang asing yang tanpa izin menciumnya dengan sengaja? Bukankah itu pelecehan?

Padahal, jika muatan sosiopolitiknya diolah dengan baik dan rapi, film ini bisa menjadi bahan diskusi yang mencerahkan. Yang terjadi kemudian film ini menjadi film roman picisan yang dipaksa serius. Yang paling mengganggu adalah pilihan pemeran pendukung Belandanya yang terasa tidak serius mendalami peran. Penyampaian karakternya kaku, bahkan beberapa tokoh sentral tidak memperhatikan keseimbangan intonasi, mimik, dan gesturnya dalam berakting. Karakter tidak leluasa menemukan jalan keluar dari tubuh mereka yang tidak berani mengurung kepribadiannya untuk sementara waktu. Musik skoringnya juga terlalu “Eropa”, padahal film ini menampilkan dua budaya yang sedang berinteraksi.

Baca Juga: Tergusurnya PK5 dan Kenangan Kita

Terkadang kesunyian dalam sebuah adegan besar justru lebih bekerja daripada musik-latar yang “grandeur“. Tapi, dalam film Bumi Manusia ini masih mengandalkan suara untuk membangun suasana. Padahal pengalaman emosi dari sebuah film yang mampu menetap lebih lama dalam wilayah perasaan penonton adalah bagian-bagian subtil dari komunikasi nonverbal yang mentah, jujur, dan murni.

Meskipun, kekecewaan berseliweran, tidak patut jika dalam tulisan ini, tidak kusampaikan kekagumanku akan tata artistiknya. Busana serta riasan yang digunakan oleh masing-masing tokoh selain menonjolkan karakternya juga berhasil menciptakan perpaduan yang memanjakan mata dan batin bagi siapa saja yang mengejar nilai estetik dalam fashion. Penggunaan bahasa Belanda dan Jawa di beberapa dialog menjadi daya tarik tersendiri. Bagaikan kereta uap atau kereta kencana yang siap sedia kala mengantarmu ke alam pikiran khas dari masyarakat itu.

Bagi saya, film adaptasi dan novelnya itu, semestinya ditempatkan berbeda ketika kita hendak membedahnya dalam proses kritik. Karena bagaimana pun juga, film adalah hasil kreasi baru dengan medium lain. Tidak mungkin kita memproduksi ulang novel. Jadi, ketika diperkenalkan pertama kali dengan novel Bumi Manusia, saya memilih menangguhkan membacanya hingga ceritanya diadaptasi ke layar lebar. Sehingga, saya bisa memasuki dunia Bumi Manusia versi Hanung Bramantyo tanpa beban ekspektasi yang terikat dengan semesta kata Pramoedya. Tak bisa kita pungkiri keunggulan novel ini telah merasuk ke dalam common sense masyarakat Indonesia.

Penulis: Agung Wibawanto, mahasiswa Institut Sastra Makassar (ISM).

Facebook Comments
No more articles