I: Pemusnahan Ingatan

Saya berpendapat bahwa buku hancur bukan sebagai objek fisik, melainkan sebagai tautan memori, tautan pada kesadaran akan pengalaman masa lampau.

John Milton dalam Aeropagitica (1644) berpendapat bahwa yang dihancurkan dalam sebuah buku adalah rasionalitas yang dihadirkannya: “Barangsiapa menghancurkan buku bagus, ia sedang membunuh rasio itu sendiri…” Buku menjilid memori manusia.

Jangan dilupakan bahwa bagi orang Yunani, memori adalah ibu dari sembilan dewi, namanya Mnemosin. Maka, memorilah induk dari segala seni. Istilah Yunani itu dipertahankan maksudnya dalam bahasa Latin karena memori berasal dari “memor-oris” atau “ia yang mengingat.”

Ikatan kuat antara buku dan memori membuat teks harus dilihat sebagai patrimonium budaya utama suatu masyarakat, dan tentunya, umat manusia keseluruhan. Menarik untuk dicermati bahwa kata “patrimonium” berasal dari Yunani dan merujuk pada Padre (ayah) serta kata kerja “moneo”, yang diterjemahkan sebagai “mengetahui, mengingat.” Maka patromonium secara harfiah adalah “yang diingat oleh ayah,” berbeda dengan matrimoni (pernikahan), yakni “yang diingat oleh ibu.”

Perlu dipahami bahwa patromonium budaya dimaknai sebagai yang paling representatif secara kultural dari suatu negeri. Dalam dirinya sendiri, patromonium memiliki kemampuan untuk menggugah rasa afirmasi dan kepemilikan, memperkuat atau menstimulasi identitas diri masyarakat di suatu wilayah. Sebuah perpustakaan, arsip, atau museum adalah patromonium budaya dan semua bangsa memandangnya sebagai kuil-kuil memori.

Dengan demikian sebuah buku dihancurkan dengan maksud menghabisi memori penyimpannya, artinya warisan gagasan-gagasan dari suatu kebudayaan secara keseluruhan. Penghancuran diarahkan pada segala hal yang dipandang sebagai ancaman langsung atau tak langsung terhadap sebuah nilai yang dipandang unggul. Buku tidak dihancurkan karena kebencian terhadapnya sebagai sebuah objek. Segi materialnya hanya bisa dikaitkan dengan buku seturut situasi dan kondisinya: yang pertama adalah lempeng tanah liat bangsa Sumeria, tulang-belulang bangsa Cina, batu, lembaran kulit, plakat kuningan atau besi, gulungan papirus, kodeks, kertas, dan sekarang cakram magnetik (CD) serta perangkat elektronik yang rumit.

Mitos apokaliptis membangkitkan dalam diri tiap-tiap individu atau kelompok kebutuhan untuk mentotalisasi tanpa batas. Tiap-tiap budaya yang hendak bersikap total, dengan demikian, saling menolak totalitas tiap-tiap budaya lainnya. Beberapa tanda yang bisa dengan mudah diidentifikasi sebagai totalitarianisme apokaliptis termasuk: hasrat kolektivisme, klasikisme, pembentukan utopia-utopia mileniaris, despotisme birokratis, dan penghambaan [1].

Bahkan masyarakat demokratis pun bisa sangat totaliter dan melakukan penghancuran untuk memperkokoh penolakan identitas yang lain. Tak ada identitas tanpa memori. Jika kita tidak ingat siapa kita, kita tidak akan mengenal siapa diri kita. Selama berabad-abad kita telah melihat bahwa ketika satu kelompok atau bangsa berusaha menguasai kelompok atau bangsa lain, yang pertama mereka lakukan adalah menghapus jejak-jejak memori dalam rangka menata ulang identitasnya.

Yang menarik, para penghancur buku itu memiliki kreativitas tinggi. Para biblioklas (istilah untuk menunjuk para perusak buku) memiliki kitabnya sendiri, yang mereka nilai abadi. Seperti dititahkan oleh ritual destruktif kuno, penghancuran bisa menyingkirkan entitas yang terlibat dan mengembalikannya pada keabadian. Ketika semangat ekstremis menetapkan suatu kondisi kategoris sebuah buku (baik itu Al-Qur’an, Alkitab, atau program sebuah gerakan keagamaan, sosial, artistik, maupun politik), ia bertindak melegitimasi sifat ilahiahnya atau asal usulnya yang permanen (Tuhan sebagai penulisnya, atau kalau tidak, seorang visioner, seorang mesias).

Sekitar tahun 213 SM, Kaisar Shih Huang Ti membakar setiap buku yang mengingatkan pada masa lalu. Dalam novel 1984, George Orwell menggambarkan satu negara totaliter di mana sebuah departemen pemerintah dibentuk untuk menemukan dan menghapus masa lalu. Buku-buku ditulis ulang dan versi aslinya dihancurkan dalam perapian rahasia.

Baca Juga: Kartun yang Menggemparkan

Penghancur buku adalah seorang yang dogmatis, karena melekat padanya suatu pandangan dunia yang seragam, tak terbantahkan, bersifat absolut, autarkis, ada dengan sendirinya, serba cukup, tak terbatas, bebas dari batasan waktu, dan sederhana, yang tampil sebagai aktualisasi murni dan abadi. Sifat absolut ini menyiratkan sebuah kenyataan yang absolut. Ia tidak menjelaskan dirinya sendiri: ia hanya bisa dipahami secara langsung melalui wahyu.

Tentunya, ketika sesuatu atau seseorang menyanggah pandangan yang demikian, kecaman resmi yang bersifat tahayul pun langsung dikeluarkan. Pembelaan teologis sebuah buku yang dianggap defenitif, tak terbantahkan, dan tak tersangkal itu tidak menolerir adanya perbedaan pandangan. Sebagiannya karena penyimpangan atau refleksi kritis dianggap sama dengan memberontak, dan sebagian lagi karena yang sakral tidak mengakui spekulasi tersebut: inilah surga bagi pasukan kepolisian dan mimpi buruk bak neraka bagi yang melanggarnya.

II: Bentuk-bentuk Api

Pertanyaan menarik untuk dipertimbangkan pembaca adalah mengapa api menjadi faktor dominan penghancuran buku? Tentunya, ada banyak penjelasan atas fenomena ini. Saya membatasi diri pada satu penjelasan saja: api adalah unsur penting dalam pengembangan peradaban, elemen determinan pertama dalam kehidupan manusia, untuk mengolah makanan dan keamanan kolektif[2].

Api adalah penyelamatan, dan atas alasan itu, hampir semua agama mempersembahkan api kepada keilahiannya masing-masing. Daya untuk memelihara kehidupan ini juga mengandung daya yang menghancurkan. Ketika manusia menghancurkan dengan api, dia berlagak sebagai Tuhan, penguasa api kehidupan dan kematian. Dengan cara ini ia mengidentifikasi diri dengan kultus pemujaan matahari dan mitos besar penghancuran, yang hampir selalu terjadi melalui pembakaran.

Alasan untuk menggunakan api jelas: api mereduksi jiwa suatu karya menjadi materialnya. Jika Anda membakar manusia, ia akan tereduksi menjadi empat unsur pokok (karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen); jika Anda membakar kertas, rasionalitas yang tak lekang oleh waktu berhenti menjadi rasionalitas dan berubah jadi abu. Selain itu ada juga detail visualnya. Orang yang pernah melihat sesuatu terbakar akan mengenali warna hitamnya yang amat pekat. Terang pun berubah jadi gelap.

Baca Juga: Orang Bugis

Sekitar tahun 1953, novelis Elias Canetti menghukum salah satu tokohnya dalam Auto-da-fe dengan dibakar hidup-hidup bersama seluruh isi perpustakaannya. Kalimat terakhirnya menyebutkan: “Ketika api pada akhirnya menjilati tubuhnya, dia tertawa keras seolah belum pernah tertawa seumur hidupnya.” Pada 1953, dalam novel Farenheit 451 Ray Bradbury membayangkan sebuah masa depan di mana satu tim petugas kebakaran bertanggung jawab membakar buku-buku agar tak sampai mengganggu ortodoksi sistem kekuasaan.

Penyair Romawi Publius Papinius Statius, pada kematian ayahnya, meminta agar tulisan-tulisannya tak sampai musnah oleh api [3]. Hasrat itu kemudian menjadi lumrah dalam puisi. Ovid, dalam epilog Metamorfosis, menyatakan niatnya dalam menyelamatkan karya-karyanya dari api, pedang, tangan ilahiah, atau sang waktu [4].

III: Budaya Penghancuran

Merupakan suatu kekeliruan umum untuk mengaitkan penghancuran buku dengan orang-orang yang tidak berpengetahuan, yang tidak bisa menahan amarah mereka.

Setelah dua belas tahun mempelajarinya, saya berkesimpulan bahwa semakin terpelajar suatu bangsa atau seseorang, semakin besar keinginannya untuk menyingkirkan buku-buku di bawah tekanan mitos-mitos apokaliptis. Secara umum, biblioklas adalah orang yang berpendidikan, berbudaya, perfeksionis, dengan bakat intelektual yang tidak biasa, cenderung depresif, tidak mampu menolerir kritik, egois, mitomania, dan cenderung berada dalam lembaga yang mewakili kekuatan yang sedang berkuasa, karismatik, dengan fanatisme berlebihan pada agama atau paham tertentu.

Ada begitu banyak contoh filsuf, orang-orang terpelajar dan penulis yang melakukan penghancuran buku. Demi mengukuhkan metode pemikirannya, Renè Descartes (1596-1650) meminta pembacanya membakar buku-buku lama. Seseorang yang toleran seperti filsuf Skotlandia David Hume tidak ragu-ragu meminta agar semua buku mengenai metafisika diberangus [5].

Pada 1910, gerakan Futuris menerbitkan sebuah manifesto yang menyerukan penghancuran seluruh perpustakaan. Para penyair kelompok Nadaista di Kolombia membakar cetakan-cetakan novel Maria karya Jorge Isaac sekitar tahun 1967, meyakini bahwa perlu kiranya untuk menghancurkan kesusastraan masa lalu suatu bangsa. Vladimir Nabokov, yang saat itu profesor di Stanford dan Harvard, membakar Don Quixote di Memorial Hall, di hadapan lebih dari 600 siswa. Martin Heidegger mengambil buku-buku dari perpustakaan Edmund Husserl untuk dibakar oleh mahasiswa-mahasiswa filsafatnya pada 1933.

Di sinilah letak sebuah ritual, di mana perulangan siklus mitos dikukuhkan. Salah seorang tokoh Borges dalam “El Congreso,” cerpen yang dimuat dalam El libro de arena (1975), mengatakan demikian: “Setiap beberapa abad, perpustakaan Alexandria harus dibakar…” Dengan kata lain: membakar masa lalu untuk merombak masa kini.

[1] Bdk. Tzvetan Todorov, Memoria del bien, tentacion del mal, Penisula, Barcelona, 2002.
[2] Josef H. Reichholf, La aparicion del hombre, Critica, 2001, hal. 166.
[3] Statius, Silvae, 3.3.31-39.
[4] Ovid, Metamorfosis, 15.871f.
[5] David Hume, Enquiry Concerning Human Understanding (1748), Section XII, Part III, hal. 132.

Dicopy-paste dari Penghancuran Buku dari Masa ke Masa karya Fernando Baez, hal.13-18. Diterjemahkan oleh Lita Soejadinata; disunting berdasarkan edisi asli bahasa Spanyol oleh Ronny Agustinus; diberi kata pengantar oleh Robertus Robert. Diterbitkan oleh Marjin Kiri pada 2013.

Facebook Comments
No more articles