Beberapa hari yang lalu, saya baru membuka laman Tirto.id di gawai saya setelah berbulan-bulan berdebu. Saya dapat hal menarik, di bagian tengah antara berita dan infografik, terdapat poster hitam bertuliskan Nama Baik Kampus dengan gambar dua perempuan saling memunggungi. Ketika poster itu saya ketuk, halaman hitam besar lainnya muncul, bagian paling bawah terdapat kolom Cerita Penyintas dengan mengutip salah satu hasil wawancara laporan BPPM Balairung pada November tahun lalu.

“Aku enggak nyerah, aku enggak padam,” Agni (bukan nama sebenarnya), mahasiswa UGM.

Laporan Balairung itu telah saya baca berulang kali, dan kata-kata Agni di atas terus membuat saya tersentak. Masih lekat di ingatan kita, bagaimana Agni dan kawan-kawan BPPM Balairung UGM memperjuangkan hak Agni menghadapi pelecehan seksual yang dialaminya. Di sini saya sadar, para penyintas pelecehan seksual tak boleh tinggal bungkam. Sama seperti yang telah dilakukan Agni.

Pelecehan seksual bukan hanya berbentuk pemerkosaan, meskipun hanya menyentuh fisik berupa tangan, lontaran sensual, ataupun melakukan sesuatu hal berbau sensual di hadapan kita yang membuat korban tak nyaman, juga merupakan bentuk pelecehan seksual.

Seperti yang telah dirangkum oleh Komnas Perempuan, bahkan ada lima belas jenis pelecehan seksual yang di antaranya adalah “tindakan seksual secara fisik maupun non-fisik dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban. Ia termasuk menggunakan siulan, main mata, ucapan bernuansa seksual, mempertunjukan materi pornografi dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan martabatnya, dan mungkin sampai menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan.”

Pelecehan seksual dapat menimpa siapa saja, baik itu laki-laki maupun perempuan, secara langsung atau tak langsung, di tempat sepi atau ramai, bahkan oleh orang yang kita tak kenal ataupun yang sangat dekat dengan kita sekalipun.

Baca juga: Kami yang Keras Kepala atau Dia yang Tidak Mudah Menyesal

Penyintas pelecehan seksual pun tak melulu merupakan seseorang yang berpakaian terbuka dan sebagainya. Hal ini terbukti dengan adanya pameran baju para penyintas pelecehan seksual di Belgia pada Januari 2018 lalu. Pameran serupa juga dilaksanakan di Bandung pada Maret 2019, dari dua belas pasang baju yang dipamerkan, delapan diantaranya bahkan merupakan pakaian tertutup berhijab.

Saya adalah seorang mahasiswi normal pada umumnya, orang-orang cenderung mengenal saya sebagai pribadi yang periang dan supel. Sebab sedari kecil, saya memang lebih nyaman berteman dengan lawan jenis, sahabat saya juga kebanyakan laki-laki. Setelah lulus SMA pun saya memutuskan untuk konsisten berhijab. Tetapi yang tak banyak orang tahu, bahwa saya juga merupakan satu dari sekian banyak penyintas pelecehan seksual.

Kejadian ini saya alami sekitar setahun lalu, tahun itu saya mendapat kesempatan untuk belajar satu pekan di luar kota Makassar mewakili salah satu komunitas saya. Waktu itu, saya berangkat ke tempat tujuan bersama seorang lelaki yang juga lulus sebagai delegasi, kebetulan kami berdua satu komunitas, kami sudah kenal lama dan cukup akrab.

Singkat cerita, perjalanan pulang saya tempuh dengan kapal laut selama dua malam, karena bersamaan dengan arus balik lebaran, maka kondisi kapal laut cukup ramai. Kami dan dua kawan lainnya terpaksa menumpang kapal laut untuk mengirit ongkos pulang.

Kejadian berikutnya tidak pernah saya bayangkan akan terjadi, saat saya sudah terlelap, seseorang yang tidur di belakang saya (laki-laki yang saya sebutkan di atas) dengan sengaja merangkulkan tangannya ke pundak saya. Saya kaget, lalu menepis tangannya.

Malam kedua, saya berpindah tempat sebagai upaya untuk menghindar, tetapi kejadiannya bertambah parah, berulang kali saya terbangun karena merasa ada orang bernapas tepat di depan wajah saya. Pelaku tersebut bukan orang asing bagi saya, dia merupakan orang yang sudah saya percaya bisa menjadi sosok ‘kakak’ yang seharusnya melindungi saya. Melindungi bukan berarti dia bebas melakukan apapun terhadap tubuh saya.

Baca juga: Darah Itu Merah, Sayang: Tawaran lain Memahami Kasus Audrey

Setelah kejadian itu, saya tidak merubah sikap apapun kepada orang itu. Saya berusaha untuk menjalani hari-hari saya seperti biasa. Tetapi jauh dalam diri saya, saya mulai membenci diri saya sendiri. Saya depresi, itu terjadi selama kurang lebih dua bulan. Saya membenci semua orang, saya merasa semua orang tidak menyukai saya. Saya tak lagi begitu nyaman menjalin hubungan dengan lawan jenis, saya cenderung menjauh dari keramaian, saya tak ingin tampil mencolok lagi, saya sangat membenci diri saya sendiri.

Ketika saya mencoba untuk mencari teman bercerita, hal lebih besar seperti menghantam kepala belakang saya. Saat seorang sahabat mengatakan pada saya, ‘bukankah memang kalian dekat? Terus apa yang salah?’ Lalu yang lain mengatakan ‘Ah, tidak mungkin. Dia (pelaku) kan orang yang baik sekali. Saya tahu kamu membencinya, tapi tidak perlu mengarang cerita seperti itu.’

Harapan saya hilang.

Bisa jadi, mungkin kita memiliki hubungan dekat dengan seseorang, tetapi hubungan tidak bisa membenarkan perlakuan tak menyenangkan terhadap kita. Mungkin saja seseorang itu adalah orang yang sangat baik di mata masyarakat, tapi tidak serta-merta menjadikan orang tersebut suci seperti malaikat. Lagi-lagi, “seseorang yang dekat sekalipun, tak selamanya bisa kita percayai begitu saja.”

Ketika mendengar seorang penyintas bercerita, hal yang sering dilakukan sebagian besar orang-orang adalah menyalahkan ‘si penyintas’ tersebut. Padahal yang diperlukan penyintas hanyalah sebuah dukungan, sebuah harapan untuk melanjutkan hidup, dan penenang. Tak mudah bagi seorang penyintas untuk membuka diri mengenai hal yang menimpanya, tak semua orang juga dipilihnya untuk berbagi hal tersebut, dan bagaimana pun keadaannya, penyintas tetaplah penyintas.

Saya bersyukur bisa melewati fase pergulatan batin dan bisa menenangkan kondisi kejiawaan saya sendiri, tetapi tidak semua penyintas bisa mengatasi hal itu.

Beberapa bulan lalu, seorang adik tingkat dua tahun di bawah saya bercerita, bahwa ia mendapat perlakuan tak menyenangkan saat berada di terminal, saat itu ia berencana kembali ke kampung halamannya. Seseorang yang mengantarnya menuju terminal, sesaat sebelum dia menaiki bus, memeluk dan mencium keningnya di muka umum, ia takut dan tak tahu harus berbuat apa.

Baca juga: Menyelami Fluiditas Gender dalam Film Kucumbu Tubuh Indahku

Peristiwa itu yang membuatnya mengurung diri dan ketakutan selama beberapa pekan di dalam rumah. Saya sangat paham apa yang ia rasakan, tapi yang membuat saya semakin terpukul dan marah adalah ketika saya tahu bahwa hal tersebut dilakukan oleh pelaku yang sama.

Pelecehan seksual dapat dihentikan, jika penyintas berani mengatakan apa yang dilakukan pelaku merupakan hal yang tidak benar. Tidaklah mudah bagi penyintas untuk melakukannya, apalagi kejadian tersebut memberi efek traumatis baginya. Kita perlu menciptakan rasa aman dan nyaman bagi penyintas agar mereka berani untuk berbicara dan melawan.

Jika ada penyintas yang bercerita mengenai peristiwa traumatis yang dialaminya kepada Anda, jangan pernah menyudutkannya. Yakinkan dia bahwa hal yang dialaminya bukanlah kesalahannya, dengarkan dia dengan baik, dan berusahalah mengerti apa yang dia rasakan. Karena jika Anda menjadi tempat penyintas untuk bercerita, maka Anda adalah orang yang paling dia percayai dari sekian banyak orang yang dia kenal di dunia ini.

Dengan segala peristiwa yang saya alami, saya tahu, saya tidak dapat mengubah hal yang telah terjadi pada saya yang menjadikan saya seorang penyintas. Tetapi saya dapat menjadi seseorang yang dibutuhkan penyintas dan saya bisa menghentikan kemungkinan orang lain menjadi seorang penyintas pelecehan seksual berikutnya, dan itulah alasan mengapa saya tidak ingin tinggal untuk dibungkam. Saya sadar, menulis peristiwa di atas juga merupakan salah satu bentuk perlawanan menghadapi pelecehan seksual.

Menjadi penyintas bukan hal yang mudah, karena persoalan paling besar yang dihadapinya adalah penolakan atas dirinya sendiri. Pelaku pelecehan seksual, tak pernah sekali pun memahami hal itu.

Penulis: Tirta Ningtyas Alifia, mahasiswa tingkat akhir Sastra Inggris FBS UNM.

Facebook Comments
No more articles