Waktu menunjukkan pukul 5.40 di Springfield—salah satu kota di Missouri, Amerika Serikat—di sebuah meja belajar, di samping pembaringan tempat saya kesulitan untuk tidur, kepala saya menyentuh sebuah ingatan.

Kurang lebih satu dekade silam, kalau tidak salah, saya pernah membuat status alay di laman facebook yang kurang lebih seperti, “jangan lihat saya sekarang, tunggu sepuluh tahun ke depan, akan saya buktikan apa yang bisa saya lakukan.”

Kalimat itu benar-benar memualkan untuk dibaca–bahkan ketika harus mengetiknya di sini, padahal ketika mengetik itu saya seolah-olah, ah sudahlah, setiap hal memang akan alay pada waktunya. Lagipula, sejujurnya itu hanyalah hasil menyadur dari google. 

Saya tiba-tiba mengingat itu, sambil menertawai diri saya yang membias di dalam cermin.

“Seperti ini cara kebetulan bekerja?” Tanyanya. 

Saya benar-benar tidak pernah merasa akan tiba di sini, di tempat ini, Amerika Serikat. Sebuah negara yang dalam banyak hal berpengaruh atas kompleksitas perputaran dunia ini. Negara yang hanya saya saksikan lewat film, game, media, dan bacaan. Negara yang pernah menyihir pikiran saya untuk jadi Spiderman dan membayangkan diri berciuman dengan Maddy Jane dengan posisi terbaik. 

Semua benar-benar terasa seperti serangkaian kebetulan yang tidak saya duga. Analogi sederhananya adalah saya seorang penonton di acara pertunjukan sulap, lalu bum! Seketika pesulap itu menghadirkan mawar di tangannya dan yang saya lakukan hanya tercengang tanpa satu pun tepukan tangan. Iya, seperti itu, bahkan ketika menulis ini pikiran saya masih berusaha meyakinkan diri bahwa saya telah tiba di luar negeri.

“Ini luar negeri kan? Berapa banyak selamat yang kau dapat?” Tanya bayang bias itu lagi. 

Banyak, terima kasih atas ucapan selamatnya, tapi ini bukan pencapaian, percayalah! Kebetulan saja ketika itu saya turut nimbrung mengikuti gelar wicara yang diadakan oleh sekelompok pemuda yang tergabung dalam satu organisasi penerima beasiswa Kemenpora di sebuah perpustakaan dan ruang kreatif bernama Katakerja. Kebetulan selanjutnya, pembicara adalah seorang yang akrab dengan saya. Ia pernah mengajar paruh waktu, bahasa Inggris di tempat saya menamatkan sekolah menengah. Saya percaya, bahwa pertemuan dengan kawan akrab, orang baru atau apa pun semacamnya adalah upaya kecil memahami kefanaan waktu. Itulah mengapa saya memutuskan untuk datang.

Mengikuti gelar wicara soal beasiswa sebenarnya sudah saya hapus dalam upaya saya mencari jalan untuk keluar dari diri dan masyarakat tempat saya tidak menemukan kewarasan (ini akan saya ceritakan di bagian lain). Para pembicara dalam forum seperti itu hanya fokus pada kesan-kesan pribadi, perjalanan mendaftar yang dibumbui cerita inspiratif yang sebenarnya, bagi saya sendiri, tidak memberi esensi pada pendengar untuk benar-benar menyiapkan diri menghadapi sebuah realitas dan kausalitas.

Apa efek penting dari mendengar hal semacam itu? Bukankah itu hanya akan terdengar seperti ceramah-ceramah yang membuat seseorang terjebak dalam alusi-alusi yang tidak mampu dijangkau oleh penalaran dan justru menumpulkan pisau berpikir kritis? Ini hanya kesan pribadi, jangan ditanggapi dengan serius. 

Mungkin saya juga akan melakukannya juga sepulang dari sini, tapi biarlah tulisan ini menjadi alarm pengingat pribadi saya untuk tidak menawarkan apalagi sampai menjual mimpi, kepada para orang-orang yang berniat untuk ke luar negeri. 

Sejauh penglihatan saya, di Indonesia, iming-iming luar negeri masih menjadi barang dagangan yang laris selain agama dan politik. Ada banyak sekali organisasi atau kelompok yang memanfaatkan alusi belajar atau jalan-jalan ke luar negeri kepada pelajar di Indonesia. Sebut saja misalnya; event hunter Indonesia yang seringkali membuat lomba-lomba berhadiah jalan-jalan ke luar negeri. 

Dengan iming-iming seperti itu, banyak sekali pelajar yang entah bodoh atau telah terjebak dalam polarisasi mimpinya sendiri, sukarela mengeluarkan uangnya untuk membayar biaya pendaftaran. Tentu saja, tanpa pernah mau atau hendak bertanya soal legitimasi penjurian lomba apalagi menyadari bahwa itu lomba berkedok bisnis. 

Produk sosial kita memang telah membuat sebuah jasa berpikir bahwa yang masuk dalam kategori sukses atau keren adalah orang yang ke luar negeri. Jika ini adalah alasan saya mendapat banyak selamat, tentu ini menyedihkan.

Ayolah, kita telah memiliki banyak sekali orang yang menyelesaikan studinya di luar negeri. Mengapa kita tidak mengumpulkan mereka semua, berkolaborasi membentuk sebuah gagasan atau tindakan, untuk meruntuhkan kebodohan lalu menggantinya menjadi keinginan untuk berpikir? Karena bodoh bukanlah lawan kata dari pintar, tapi bodoh adalah musuh terbesar dari keinginan untuk berpikir. Tiba-tiba bias itu menampar saya dan berkata; kau sadar toh pemerintahmu seperti apa?

Kembali ke status facebook, jauh kini saya sadari, setelah mulai hendak duduk merenung dan sedikit berpikir. Ternyata, ada fase di mana kita benar-benar ingin sekali untuk mendapat pembuktian dari banyak orang. Lalu pada akhirnya, kita tidak akan pernah atau pun perlu membuktikan apa-apa selain kepada diri kita yang malang ini. 

Saya tiba di sini, bukan karena benar-benar bermimpi ke luar negeri dan sedang membuktikan status alay itu. Hanya saja, ini bentuk pemberontakan kecil-kecilan atas ketidakwarasan yang terjadi di sekitar saya. Saya muak dengan sistem yang seringkali membentur dengan keinginan dan upaya saya melihat masa depan.

Ketika saya membicarakan kebijakan pemerintah, saya dituduh masyarakat tidak tahu diri. Ketika saya membicarakan cinta mereka melabel saya melankolis. Ketika saya berbeda, itu menjadi hal yang salah.

Bukan hanya saya yang mengalami hal seperti itu, ada banyak saya yang lain ditempatkan pada keterpisahan ketika berseberangan. Iksan Skuter memang benar soal “menjadi manusia adalah masalah buat manusia”. Bisakah kita tetap duduk melingkar menyeruput minuman kesukaan masing-masing, tanpa harus bersitegang lidah untuk mengatakan minumanku lebih nikmat dibanding minumanmu? 

Mau jadi apa kuliah sastra? Pertanyaan sampah ini juga sebenarnya yang telah mengantar saya untuk berpikir dan mencari jalan untuk menghentikan stigmatisasi tidak seimbang terhadap sebuah jurusan dengan jurusan lainnya. Ke luar negeri adalah pilihan terbaik saya sejauh ini, meski saya tetap sangsi ini akan berpengaruh. Kedokteran, teknik, hukum, ekonomi masih tetap akan menjadi jurusan paling diminati anak-anak SMA di kampung saya. Dan pertanyaan mau jadi apa kuliah sastra akan terus beranak pinak.

“Kuliahmu karena gengsi ya?” Tanya bayang bias itu lagi dengan wajah yang sedikit mengejek. 

Pemberontakan kecil lain saya adalah; saya ingin mengencani perpustakaan yang buka 24 jam dengan akses seluas-luasnya, lingkungan akademik yang hidup dialektis, dan tentu saja orang-orang yang mau diajak untuk berpikir, berdiskusi untuk menyadari betapa esensi dari pendidikan adalah menciptakan manusia masa depan bukan mesin, menawarkan gagasan lain untuk berpikir bukan mengangguk-angguk dalam kelas, bahwa pendidik dan didikan bukan sebuah bisnis apalagi kepentingan.

Penulis: Fadil Adiyat, mahasiswa jurusan Sastra Indonesia di FIB Unhas, saat ini sedang kuliah di Missouri State University dalam program belajar dari kementerian luar negeri Amerika Serikat.

Facebook Comments
No more articles