Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta

Begitulah kata Chairil. Setiap saat, di sekitar kita, begitu banyak kabar kematian yang terdengar. Entah itu kabar kematian yang menimpa orang-orang sekitar kita atau yang menimpa diri kita sendiri. Kematian itu terasa sangat pedih dan menyakitkan. Tak ada yang bisa menanggung beban kematian. Terlebih kematian seseorang yang sangat kita cintai.

Sejak 2006 silam, Pramoedya Ananta Toer mati. Saya percaya, orang baik akan mati dengan cara baik dan selalu dikenang dengan cara yang baik pula oleh orang-orang yang ditinggalnya pergi. Sebelum Pram menghembuskan napas terakhir, ia sempat meminta menikmati rokok kretek kesayangannya untuk kali terakhir: Pram mati dengan cara bahagia.

Kepergian Pram diantar oleh keluarga besar, sejumlah aktivis, dan para penulis. Mereka mengobarkan semangat di tempat peristirahatan terkahirnya dengan mendengungkan lagu Internationale dan Darah Juang. Lagu yang paling mengharukan sekaligus menakutkan dalam masa-masa perjuangan melawan kediktatoran Soeharto.

Sejak kepergian Pramoedya Ananta Toer, tepatnya satu dasawarsa lebih, tak banyak di antara para aktivis dan penulis yang tulus menyumbangkan ide demi tercapainya cita-cita yang kita sebut sebagai revolusi. Meskipun kita tahu bahwa revolusi akan terjadi ketika semua elemen menginginkannya. Selama revolusi belum tercapai, berarti di sisi lain ada elemen yang kontrarevolusi.

Sebelum pergi, sumbangan terbesar Pram kepada Indonesia: membantu menyelesaikan revolusi. Sayangnya, revolusi itu terhambat pada tahun 1965. Pram dipenjara dan diasingkan selama berpuluh-puluh tahun tanpa pengadilan. Sementara di tahun tersebut eskalasi revolusi sudah tampak terlihat yang telah diperjuangkan beratus-ratus tahun lalu sejak kali pertama penjajah melakukan ekspansi di Bumi Manusia kita.

Pram tentu ikut terlibat mengangkat senjata melawan kolonialisme sampai kediktatoran orde baru. Ia turut membantu Bung karno menyerukan “revolusi belum usai” dan bergabung bersama Lekra. Tidak ada pilihan lain, hanya Lekra yang dapat mewadahi Pram mengungkap kejahatan sosial, luka-luka kemanusiaan, dan ketidakadilan yang merajalela. Meskipun Indonesia telah merdeka. Saat itu tak banyak penulis yang mau menceburkan dirinya mengungkap segala kejahatan-kejahatan bahkan sampai sekarang.

Baca Juga: Cinta Buta dalam Politik

Membaca karya-karya Pram pada masa lalu, sama halnya kita sedang menodongkan senjata kejidat kita sendiri. Dipenjara, diasingkan, bahkan dibunuh oleh rezim berkuasa. Satu-satunya cara hanya membacanya secara sembunyi atau membungkus sampulnya dengan koran.

Bumi Manusia dan Segala Polemiknya

Indonesia nyaris memiliki penulis Nobel Sastra. Dalam biografi Pram yang ditulis adiknya sendiri, Pram sudah enam kali berturut-turut mendapatkan nominasi peraih Nobel Sastra. Kali pertama yang diusulkan sebagai karya yang representatif ialah Keluarga Gerilya, tetapi seiring perjalanan kepenulisan Pram, pada akhirnya Bumi Manusia yang mewakili keseluruhan karya Pram untuk bertarung di kancah dunia. Dan beberapa hari lagi akan tayang di layar bioskop kesayangan Anda.

Namun, saya percaya, kegagalan Pram mendapatkan nobel sastra bukan karena kualitas karyanya. Bahkan Ben Anderson pernah menulis, “tidak ada panorama dahsyat seperti ini dalam fiksi-fiksi lain oleh penulis dari Asia Tenggara dalam 50 tahun terakhir.” Desas-desus yang beredar, Pram gagal karena ada campur tangan dari penulis Indonesia yang sengaja membunuh karakter Pram (mereka: para penulis yang dipandang tak memihak kepada revolusi).

Belakangan ini, orang ramai memperbincangkan Bumi Manusia. Karya yang sempat dibredel tahun 1981 oleh Kejaksaan Agung RI. Yah, hanya karena faktor tayangnya di layar bioskop dan mungkin juga karena sosok Minke yang akan diperankan oleh Iqbaal Ramadhan. Akhirnya perempuan pada keranjingan, mungkin menganggap kalau Bumi Manusia itu seperti kisah cinta Dilan dan Milea. Film yang disutradari oleh Hanung Bramantyo itu menuai banyak polemik. Sebagian orang pesimis, apakah Hanung akan berhasil menggarap film ini tanpa menghilangkan spirit yang ada pada Bumi Manusia. Tanggung jawab Hanung sangat besar, ia harus berhasil mendobrak narasi sejarah klasik yang terus dikonsumsi masyarakat.

Suatu pelajaran sejarah alternatif yang tidak kita temui dalam diskursus sejarah secara resmi. Proses peciptaan Bumi Manusia beserta sekuelnya yang kita sebut Tetralogi Pulau Buru, di awali ketika Pram menugasi mahasiswanya untuk membuat kliping koran, ia menyuruh mahasiswanya untuk mengumpulkan koran-koran transisi akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dari hasil tugas mahasiswanya Pram menemukan Raden Mas Tirto Adhi Suryo: Sang Pemula pembentuk nasion dan penghancur kasta.

Ketika kita bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu, maka jawabannya Pram. Semua yang ditulisnya merupakan sejarah itu sendiri. Semua yang ditulisnya menitikberatkan pada sejarah yang tersembunyi. Sepak terjang Tirto yang membuat Pram melahirkan Tetralogi Pulau Buru, nama itu hampir dan bahkan tidak pernah disebut-sebut dalam diskursus sejarah pergerakan Indonesia. Pram berhasil menggabungkan fiksi dan fakta dalam Tetralogi Pulau Buru. Bagaimana Pram menggambarkan Raden Mas Tirto Adhi Suryo dengan tokoh Minke yang diciptakannya.

Minke keturunan priyayi yang berani melawan kolonialisme. Minke, pribumi pertama yang membentuk pers dengan nama Medan Prijaji. Minke, pribumi pertama yang membentuk organisasi: Sarekat Priyayi. Setahun lebih setelah Budi Utomo berdiri. Membentuk organisasi sebagai alat untuk mengubah masyarakat.

Nasion, Kasta, dan Kelas

Tetralogi Pulau Buru menggambarkan konflik antara penjajah dan pribumi dalam mencari bentuk masyarakat yang baru. Dalam Tetralogi Pulau Buru, ada unsur yang penting dalam proses pembentukan sebuah nasion. Unsur itu ialah bahasa. Minkelah yang memulai proses berkembangnya sebuah bahasa bersama: bahasa Melayu. Ia sadar kebutuhan-kebutuhan nyata masyarakat akan sebuah interaksi yang lebih luas demi menggerakkan roda perlawanan di Bumi Manusia ini.

Pram menggambarkan proses bahasa Melayu berkembang menuju bahasa bersama lewat sosok Minke, sebuah embrio bahasa nasional. Bagaimana gagasan-gagasan Minke digurat di atas kertas dengan terus-menerus menggunakan bahasa melayu lewat Medan Prijaji sebagai propaganda perlawanan yang dapat di akses seantero Hindia Belanda masa itu. Kita tidak menemui proses bahasa melayu sebagai alat penyambung perdagangan, melainkan sebagai bahasa sastra yang menggambarkan kehidupan.

Baca Juga: Relasi Bahasa dan Identitas

Sisi lain, sebuah kasta baru muncul bentukan kolonial: kaum priyayi. Priyayi diwakili oleh figur bupati. Dalam Bumi Manusia, priyayi adalah kasta yang dibentuk oleh kolonialisme untuk dijadikan kacung administrasi juga dalam meraup seluruh kekayaan bangsa kita. Penghidupannya bergantung pada kolonial. Itulah mengapa Sarekat Priyayi gagal sebagai alat perlawanan.

Minke melihat masyarakat sudah terbelah menjadi dua. Priyayi dan gologan bebas, ialah para pedagang yang hidup secara mandiri dan bebas. Sejalan dengan ideologi marhaen yang diperjuangkan Soekarno setelah kematian Tirto yang sudah mengerti konsep kelas menurut Marxisme. Marhaen dianggap bukanlah sebuah kelas proletar ala masyarakat industri, melainkan sebuah lapisan sosial yang tetap menghadapi realitas kemiskinan dan penindasan. Golongan atau kelas inilah yang berpotensi untuk melakukan revolusioner dengan bantuan kaum terperintah: para buruh dan tani.

Kaum dagang atau kaum manusia bebaslah yang menjadi pelaku dinamis di abad ke 20, bukan kaum priyayi atau kaum terdidik. Dari situlah Sarekat Dagang Islamiyah terbentuk yang dipelopori oleh Minke. Minke alias Raden Mas Tirto Adhi Suryo ialah sang pemula sesungguhnya dari kebangkitan nasional Indonesia. Barulah disusul Haji Misbach, Mas Marco, Semaun, Soekarno, dan seterusnya.

Membaca Tetralogi Pulau Buru, membuka mata hati dan pikiran kita betapa melelahkannya jalan revolusi Indonesia. Kita harus belajar dari Pram. Salah satu sumbangan pram: membantu memulai proses revolusi.

Sekarang Pram telah pergi dan Indonesia sedang meratap. Membaca karya-karyanya, melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan pram dan memahami kepedihannya salah satu cara menghargai manusia luar biasa ini. Kepedihan yang membakar dirinya karena melihat Negara ini tak lebih dari Negara yang gagal.

“Lihatlah apa yang dilakukan Negara kepadaku, setelah segala yang kuberikan untuk Indonesia. Berpuluh-puluh tahun dipenjara tanpa pengadilan.”

Selamat jalan Pram, hal yang mesti kita lakukan melanjutkan apa yang telah dimulainya. Silakan mengambil barisan tanggal 15 Agustus 2019, kamerad-kamerad!

Facebook Comments
No more articles