Ketika seseorang terlihat miskin, mungkin banyak orang berpikir bahwa itu semua karena orang tersebut malas. Akan tetapi, mereka yang secara universal memandang kemiskinan hanya karena persoalan kemalasan semata, sepertinya mereka tidak pernah merasakan hidup di tengah-tengah keterbatasan kesempatan.

Di kampung halaman, saya memiliki enam teman dekat. Mereka merupakan teman semasa bangku sekolah menengah dan semuanya berjenis kelamin laki-laki. Tahun 2012 yang lalu kami berkelana ke tempat berbeda untuk mengejar gelar sarjana. Seiring berjalannya waktu, tepat pada bulan Juli yang lalu, stok terakhir yang belum sarjana dari enam orang teman saya akhirnya sarjana juga. Kami bertujuh kemudian secara resmi menyandang gelar sebagai seorang sarjana.

“Kami semua mencintai kampung ini”, ujar seorang teman pada percakapan beberapa tahun yang lalu saat kami sedang berkumpul. Serentak, kami menyepakati hal itu. Kami bermaksud untuk “berbuat” untuk kampung halaman, atau sebutlah bahasa sederhananya “mengabdi”.

Tetapi apa yang kemudian terjadi, meski berstatus sarjana, kami tak kunjung mendapatkan pekerjaan di kampung halaman. Instansi-intansi yang memungkinkan untuk menggunakan ijazah kami, kemudian lebih memilih keluarga dekat mereka ketimbang kami yang juga sesekali sering menjadi ujung tombak kritik terhadap pemerintah.

Sebagai seorang sarjana, pasal utama yang mesti dipahami adalah “tidak lagi boleh meminta uang kepada orang tua”, hal itu membuat kami kelimpungan dan mengerjakan apapun yang bisa menghasilkan demi uang nongkrong.

Baca Juga: Mengapa Kita Mesti Melawan? 

Kami memiliki cara yang berbeda untuk mencari uang. Beberapa teman memilih untuk menjadi buruh bangunan, ada pula yang mencoba peruntungan dengan cara menjadi pengawas proyek (pengawas yang diminta oleh pengawas yang sebenarnya), satu orang menjadi tukang kayu, ada yang bekerja di pom bensin, dan saya sendiri menjadi makelar skripsi. Kemudian, saat musim bercocok tanam tiba, sebagai orang yang lahir dari keluarga petani kami serentak turun ke sawah untuk menjadi seorang petani.

Apa yang kami lakukan ternyata tidak membanggakan siapa-siapa. Orang-orang di sekitar kami justru bergunjing “sarjana kok kerjanya petani”. Kami dicap gagal sebagai seorang sarjana hanya karena kami tidak memakai pakaian yang rapi, berdasi, dan yang lebih menyedihkan kami tidak bekerja di kantor.

Harapan orang-orang terhadap mereka yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi dan menjadi seorang sarjana adalah pekerjaan yang menghasilkan uang. Pedidikan kemudian seolah seperti sebuah investasi yang outputnya adalah pekerjaan dengan segudang rupiah setiap bulannya.

Pada persoalan itulah saya kadang merasa sedih dan bertanya-tanya, apakah tujuan pendidikan pada dasarnya adalah pekerjaan yang menghasilkan banyak uang? Bukankah menyadari tentang tanggung jawab sebagai manusia, menyadari pentingnya menjaga alam, menghormati dan menghargai sesama manusia, toleran terhadap perbedaan, sudah merupakan keberhasilan yang luar biasa bagi seorang sarjana?

Tetapi hidup memang selalu penuh dinamika. Meski kami tak pernah merugikan mereka, tetap saja gunjingan terhadap pekerjaan serabutan sebagai seseorang bergelar sarjana terus berlanjut. Yang paling menyedihkan dari sekian banyak hal, bahwa mereka kemudian mengatakan kepada anak-anak mereka “tidak perlu kuliah, banyak sarjana hanya pulang untuk menjadi petani bahkan menjadi seorang pengangguran”.

Tanggung jawab sosial kami untuk tidak menjadi contoh yang buruk membuat kami berpikir ulang tentang apa arti seorang sarjana. Untuk menyelamatkan masa depan adik-adik kami, agar kami tidak menjadi alasan bagi orang tua untuk tidak mengizinkan anak-anaknya melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, kami terpaksa ikut arus.

Kami kembali berpencar untuk mengejar pekerjaan yang lebih baik. Beberapa dari kami terpaksa meninggalkan kota kelahiran demi sebuah pekerjaan dan agar tidak disebut sebagai seorang sarjana gagal. Bukan hanya itu, beberapa teman terpaksa menggiring diri mereka jauh menyeberangi lautan hanya demi menjadi seorang sarjana yang berhasil: dengan ukuran segepok uang yang ada di kantong.

Kisah kami sebagai seorang sarjana ternyata tak berakhir pada persoalan bagaimana mendapatkan pekerjaan dan memenuhi kehidupan sehari-sehari. Sarjana kemudian menimbulkan persoalan sosiokultural yang baru.

Baca Juga: Puisi dan Politisi

Satu dari kami bertujuh akhirnya mengalami patah hati yang sepatah-patahnya. Bagaimana tidak, setelah bekerja di perusahaan tambang sekitar hampir setahun, ia kembali ke kampung halaman untuk melamar kekasihnya. Tetapi apa daya, lagi-lagi sarjana menimbulkan pesoalan sosial yang baru di tengah-tengah masyarakat.

Ia gagal mempersunting pujaan hatinya setelah mengalami deadlock dalam negosiasi uang panaik. Salah satu alasan mengapa panaik yang diminta orang tua kekasinhya tidak seperti dugaan teman saya karena perempuan tersebut juga berstatus sarjana.

Jika dahulu, salah satu variabel tinggi rendahnya panaik seseorang karena keturunannya. Maka, kini muncul berbagai macam variable baru. Dulu jika ia bergelar bangsawan, maka ia memiliki nilai sosial untuk memasang panaik yang tinggi. Di era modern kemudian memunculkan satu variable baru yaitu kesarjanaan seseorang. Tinggi rendahnya pendidikan seseorang kemudian menjadi salah satu tolok ukur dalam menetapkan uang panaik. Padahal, bukankah tujuan utama pendidikan adalah memanusiakan manusia, bukan bagian dari embel-embel penetapan uang panaik.

***

Fragmen-fragmen di atas adalah hal-hal yang terasa langsung di sekitar saya. Hal-hal yang membuat saya mengambil satu kesimpulan sederhana, menjadi seorang sarjana tidak lantas menyelesaikan masalah yang ada, tetapi justru terkadang menambah kerumitan masalah yang dihadapi. Semakin kita menjadi dewasa, akan semakin banyak masalah mengerikan yang kemudian harus dihadapi. Maka, sungguh mengerikan hidup sebagai seorang dewasa yang sarjana.

Facebook Comments
No more articles