Bapak Rektor yang terhormat, semoga Anda dalam keadaan baik. Sehat lahir dan batin. Sebab ada orang yang sehat lahirnya saja, tapi batinnya tidak, begitu pun sebaliknya. Atau bisa dikatakan mereka hanya setengah sehat. Itu kondisi yang tidak baik untuk seorang rektor, dan akan membingungkan seluruh mahasiswanya jika tahu punya pemimpin yang setengah sehat.

Akhirnya kami harus juga mengirimkan surat terbuka untuk Bapak Rektor. Setelah mempertimbangkan banyak hal, kami yakin apa yang baik untuk disampaikan tetap perlu disampaikan. Anda pasti tahu, bagaimana internet akhir-akhir ini membuat banyak orang cepat tahu apa yang terjadi di tempat-tempat lain. Tiba-tiba internet dapat menunjukkan perlakuan Anda ke orang lain dalam waktu cepat.

Portal berita nasional berkali-kali menyebut nama Anda yang diduga sebagai pelaku pemukulan salah seorang jurnalis kampus. Banyak orang kecewa dan tidak menyangka bapak bisa melakukan hal seperti itu. Selain itu, portal berita juga mengabarkan dari pernyataan aliansi jurnalis bahwa Anda sampai-sampai melakukan intimidasi ke korban. Korban yang salah seorang jurnalis itu akhirnya harus melaporkan Anda ke pihak berwajib, meski belum genap sehari, ia mencabut kembali laporannya. Dan berita tentang dugaan kasus pemukulan Anda tidak pernah lagi diungkit.

Baca Juga: Kami yang Keras Kepala atau Dia yang Tidak Mudah Menyesal

Kami tidak tahu, kenapa kasus seperti itu, yang sangat membutuhkan klarifikasi tiba-tiba beritanya berhenti seketika. Karena di berita terakhir, Bapak dan pihak berwajib telah menyampaikan klarifikasi, menurut kami setidaknya masih ada tiga orang yang musti memberi klarifikasi mendalam. Pertama adalah korban (jurnalis) yang melapor, ia mesti mengklarifikasi kenapa ia akhirnya menarik laporannya dan apakah kronologi pemukulan yang dilaporkan alinsi jurnalis tepat atau keliru. Saat kami mencari seluruh berita terkait kasus tersebut, tak ada satu pun pernyataan dari korban. Berita terakhir yang terbit juga mengatakan korban tidak memberikan klarifikasi apa pun saat ditelepon sebanyak empat kali.

Portal-portal berita milik lembaga di kampus tersebut pun, yang sering diakses oleh sebagian mahasiswa, tak ada satu pun yang berhasil mendapatkan pernyataan langsung dari korban. Lembaga tempat korban berprofesi sebagai jurnalis kampus, juga tak memuat satu berita terkait kasus tersebut. Jika korban tidak mengklarifikasi, orang-orang bisa berpikir bahwa itulah bentuk intimidasi yang sedang berjalan.

Kedua, karena Bapak Rektor menyebut waktu itu hanya menasihati si jurnalis alih-alih memukulnya, orang berikutnya yang harus memberi klarifikasi adalah saksi yang berada di tempat itu. Ketiga, tak lain adalah aliansi jurnalis yang telah merilis kronologi pemukulan, sumber utama yang membuat berita tersebut tersebar secara nasional. Kami yakin, aliansi jurnalis tidak serta-merta hanya merilis kronologi tanpa melakukan klarifikasi awal, terutama kepada korban. Aliansi jurnalis, juga harus mengklarifikasi lanjutan kasus tersebut, apakah mereka yang keliru merilis kronologi atau ada hal lain yang belum diketahui.

Jika tak ada satu pun media pers mahasiswa yang dapat mengurai kasus tersebut sampai ke akar-akarnya, hal itu sudah menunjukkan betapa lemahnya pers mahasiswa sekarang, betapa mudahnya mereka diintimidasi atau dibungkam. Nyawa sekerdil itu yang akhirnya membuat banyak pers mahasiswa diarahkan hanya untuk berakhir menjadi humas kampus alih-alih sebagai lembaga pers mahasiswa.

Bapak Rektor yang terhormat, kami harus menyampaikan hal di atas agar bapak tahu, betapa rumit mahasiswa sekarang untuk sekadar berbicara apa adanya. Bapak tahu, dulu orang tua kami mendidik kami untuk belajar tidak berbohong, tapi ternyata seringkali hal tersebut susah diterapkan. Kenyataan menggiring banyak orang untuk lebih banyak menggunakan “kebohongan” agar mereka bisa selamat. Selamat dari pelaporan, selamat dari ancaman drop out, atau selamat dari hal-hal lain. Ternyata banyak orang yang tidak mengharapkan orang lain berbicara jujur apa adanya. Artinya, ada sebagian orang yang bisa menerima kebohongan. Kebohongan memang hanya disampaikan manusia kepada manusia lain. Kebohongan tidak akan berlaku untuk hewan atau tumbuhan. Bahkan tidak ada gunanya kita berbohong kepada batu-batu kali. Atau kepada batu-batu cincin yang kita gunakan di jari-jari kita.

Andai suatu waktu bapak membaca surat ini, kami ingin bilang, bahwa sudah sangat sering kami mendengar bapak dikecam. Kampus Anda terlalu sering mendemo bapak sendiri, media sosial merekam baik dugaan-dugaan terkait yang Anda lakukan. Misalnya saat sebagian orang meributkan tingkah laku bapak yang keranjingan memajang foto diri di spanduk-spanduk mahasiswa yang sedang ber-KKN. Asumsi kebanyakan mahasiswa sangat berdasar, menurut mereka: hanya caleg yang suka memasang foto dirinya di spanduk-spanduk. Kami yakin bapak tidak punya niat untuk melakukan hal itu, meski dulu secara terang-terangan video bapak beredar dan menunjukkan bapak menjanjikan akan menerima calon mahasiswa yang bersedia memilih caleg yang bapak dukung waktu itu. Anda telah menyampaikan permintaan maaf atas kasus itu.

Baca Juga: Prahara Hotel Mumbai

Bapak Rektor yang kami hormati, kami ingin mengutip kembali pernyataan George Orwell, dulu dalam sebuah tulisannya ia pernah bilang, “kebodohan itu massal”. Meski sudah berpuluh-puluh tahun ia sampaikan, hal tersebut masih terjadi sampai sekarang. Bukan hanya di lingkungan masyarakat, tapi juga telah menyentuh lingkungan kampus-kampus. Bapak dan seluruh jajaran kampus berkewajiban untuk membabat habis kebodohan itu, meski kemungkinannya hanya kecil.

Kami yakin, bapak tidak akan setega itu melakukan pemukulan ke mahasiswa bapak sendiri. Kekerasan tidak menyelesaikan masalah. Ia hanya akan menambah dan membuat kita menyesali diri sendiri di kemudian hari. Dulu ada pepatah yang mengatakan, “tangan dipakai untuk bekerja, bukan untuk memukul,” kami rasa pernyataan itu masih relevan untuk masa sekarang. Semoga bapak juga berpendapat demikian.

Kami ingin memberi sedikit saran. Ini mungkin terdengar baik, tapi susah untuk dilakukan. Kedua tangan kita bisa bermanfaat, jika digunakan dengan tepat. Kami mendengar kabar bahwa, akhir-akhir ini kampus yang bapak pimpin sekarang, terlalu banyak menebang pohon. Meski pohon tersebut ditebang, jajaran bapak lebih banyak menggunakan kata “memangkas”. Padahal “memangkas” dan “menebang” adalah dua perlakuan yang berbeda. Barangkali yang mereka sebut sebagai menebang adalah mencabut pohon secara menyeluruh.

Alih-alih menggunakan tangan untuk memukul, lebih baik bapak dan seluruh jajaran menggunakan tangan untuk menanam kembali pohon-pohon baru. Kami yakin, semua mahasiswa akan mendukung gerakan kecil itu, kasihan mahasiswa-mahasiswa bapak, tempat mereka berteduh dan berdiskusi dibabat satu per satu.

Ini hanya surat terbuka biasa, bapak bisa terbuka membacanya, bisa juga menutup diri untuk mengabaikannya saja.

Facebook Comments
No more articles