Penyesalan terpampang sebagai marka jalan. Trotoar membatasi suara-suara minor, gitar pengamen, dan bunyi klakson. Lampu-lampu jalan tertunduk dengan cahaya yang samar. Ketakutan itu realitas terdekat dari manusia, lalu keberanian selalu datang terlambat seperti polisi India di film-film bollywood. Setelah kemenangan, kebebasan hanya tinggal melatih manusia untuk tidak kehilangan diri sendiri. Bisu penyesalan menjadi saksi atas penguasa yang merubah tubuh jadi pembunuh atas ingatan-ingatan kami, mempreteli masa lalu, dan merancang museum di kepala sebagai masa depan sekaligus sejarah yang tidak bisa diubah dengan cara apapun, oleh kami yang multi-identitas.

Kami yang keras kepala atau dia yang tidak mudah menyesal, sebagai pleidoi, perlawanan yang sporadis, atas tatanan masyarakat primordial yang hidup di masa depan yang kini terjadi. Dengan iming-iming oposisi biner, baik dan buruk, surga dan neraka, halal dan haram, kafir dan beriman.

Baca Juga: Belajar Bagai Sufi dari Umpatan dan Transgender Panaikang

Tetapi ada fakta yang bisa ia bantah, sebagai orang tua pengganti, narasi-narasi yang moralis, sarat dogma, dibungkus cerita-cerita kegagalan menjadi manusia, lebih kuat menenggelamkan harapan kami yang keras dan panas, dibanding bogem, pentungan, dan peluru dari selongsong senjata menjadi bahasa dengan makna yang praktis, pragmatis, dan tunggal.

Sebagai apapun ia, manusia adalah subjek bagi penderitaan. Dalam banyak hal, sampai pada titik tertentu, sekeras apapun melawannya—ia akan melekat sebagai fakta yang sulit untuk kita bantah, seperti bayangan atau dosa yang berbentuk kesialan dan penyesalan. Perkataan itu serupa yang pernah terjadi dalam hidup Franz Kafka, salah satu penulis fiksi ternama abad ke-20 yang lahir dan besar di lingkungan keluarga Yahudi kelas menengah di Praha. Kita mungkin menduga, sebagian besar penderitaan umat manusia adalah kemiskinan, kesepian, ketertindasan, dan rasa tidak bahagia. Tapi agama, langit maupun bumi punya andil di sana, bisa sebagai sebab, bisa sebagai penyelamat.

Kafka sendiri dikenal sebagai manusia yang humoris dan cerdas. Tapi, seiring dengan itu, kehidupan ganda yang dialaminya, antara pekerjaan rutin pada pagi hari dan menulis di malam hari dianggapnya sebagai sebuah penderitaan, penyiksaan terhadap dirinya, ditambah lagi dengan hubungan pribadinya dengan wanita. Imbasnya, meski tak benar-benar mutlak, berpengaruh bagi penurunan kualitas hidup dan kesehatannya. Pada tahun 1917, ia memutuskan untuk berhenti bekerja dan menulis, karena didiagnosis terkena tuberculosis dan harus menghabiskan waktu terapi pengobatan di sanatorium.

Selain penderitaan, tak mudah menyesali diri telah punah dalam tubuh kita. Tak ada pilihan, katanya, padahal ia bisa diciptakan. Kita lebih memilih merendam diri, larut dalam hegemoni dan narasi-narasi pasar yang besar, merepresi identitas kita sebagai produk teknologi mutahir yang bisa mengubah hidup, dijual dengan menukar kepercayaan, kebijakan yang  transenden hingga memaksa kita menandatangani kontrak kerja seumur hidup.

Penyesalan hanya tinggal ditransfer, sedangkan kebahagiaan menjadi pajak yang harus disetor kepada negara. Dari pajak, kesenjangan dibangun sebagai hunian murah dan idaman banyak orang. Berlomba-lomba kami mengumpulkan kesuksesan, menjaring rasa benar yang individualis, membakar rasa bersalah di bawah kemaslahatan. Atas nama kemanusiaan dan kesejahteraan, apakah mereka yang tidak bahagia mampu menjamin kebahagiaan banyak orang?

Usia tidak bisa berhitung mundur. Tapi ia dapat mengurangi waktu hidupmu di dunia yang memiliki sifat tetap pada dirinya sendiri, lepas dari pikiran manusia, kata Markus Gabriel, seorang professor filsafat epistemologi dan modern. Orang-orang terdekat saya, sebut saja yang kini beradu dengan waktu dan bekerja di epigram.or.id, saya tidak akan menyebut nama mereka, kita bisa membaca penderitaannya sebagai tanda dan penanda. Beberapa diantaranya mengkhawatirkan usia hingga pada level di mana ia cemas, mempertanyakan akan menjadi apakah ia kelak, seperti ungkapan Shakespeare dalam masterpiecenya, Hamlet, To be or not to be, ditulis sekitar tahun 1600-an, menggambarkan keraguan yang selalu berlangsung dan tak pernah berhenti.

Ketidakpastian adalah hal yang pasti, dan kepastian adalah keraguan yang membuncah menembus kenaifan realitas. Teman saya itu menganggap semua orang yang ia ajak bicara adalah motivator untuk menjawab beragam persoalan hidupnya. Tuntutan hidup yang perlahan material, pekerjaan idaman, gaji lebih dari 8 juta sebulan, menikah dengan perempuan pilihan, merasa cukup, dan berbahagia hingga kematian mengakhiri semuanya, termasuk penderitaan.

Dari situ, Gabriel, pada titik yang sejajar dengan penderitaan teman saya, menerapkan cara pandang yang menjadi dasar dari fenomenologi, bahwa manusia selalu melihat dunia dan realitas dari satu titik tertentu yang tidak pernah mutlak. Cara pandang manusia selalu terikat pada tempat-tempat atau lingkungan (Orten). Perspektif yang melihat dunia dari sudut pandang keseluruhan tidaklah mungkin dilakukan. Ketika ilmu pengetahuan mengatakan, bahwa ia telah mencapai pengetahuan yang utuh dan benar tentang dunia, maka ia terjebak pada kesalahan cara berpikir.

Teman saya itu bisa saja semakin takut dan larut dengan perkataan professor filsafat di atas, itu jika dia tidak menggunakan pikirannya. Masyarakat kita, mungkin karena kebijakan-kebijakan yang dogmatis, atau iming-iming jaminan hidup yang lebih menghidupkan, menyisakan cerita bahwa kita tak akan pernah puas mengkonsumsi cerita-cerita tentang kesuksesan dan kekayaan. Tanpanya, manusia akan menderita dan cemas. Narasi serupa, tentu berefek pada kepatuhan hidup yang manipulatif, kenaifan penuh obsesi, pamrih dan panduan—seperti instruksi atau panduan kerja, menafsir hidup kita, membangun satu ruas jalan. Dari titik inilah pikiran kita dituntut, dipenjara, atau terperangkap pada kemutlakan bahwa hanya ada satu cara untuk menjalani hidup.

Baca Juga: Mengapa Mahasiswa Tidak Lagi Menyukai Aksi Demonstrasi

Kita yang keras kepala atau dia yang tak mudah menyesal. Lantas, keras pada batu atau kepala jangan membuat pikiranmu tumpul. Dan dia yang tak mudah menyesal adalah pikiran dengan batu, pikiran membatu. Menyerang bila ia tahu akan kalah, agar tak nampak benar-benar kalah, bertahan bila ia tidak tahu akan diserang, agar tak nampak benar-benar kelihatan lemah.

Apa yang kita pegang hari ini, bisa hilang pada esok hari. Di luar kekuasaan, ketidakpastian merajalela menjadi teka-teki dan tempat yang berbahaya bagi masa depan kita. Manusia yang bebas hanyalah mata-mata, persis seperti penggalang puisi WS Rendra, Aku Tulis Pamflet Ini. Ia merontah sepenuh hati, “dalam pandangan yang kabur, semua orang marah-marah, semua marah lantaran tidak punya mata, semua mata sudah disabotir.” Rendra betul-betul keras kepala, puisi yang ditulis di Bandung pada 1978 itu, benar-benar punya banyak mulut. “Mata yang bebas beredar hanyalah mata-mata.” Tak tanggung-tanggung, membuat rezim kala itu mengingat cara terbaik untuk menyesal.

Facebook Comments
No more articles