Tidak pernah ada yang menduga, berabad-abad lalu, saat manusia masih menjadi pemburu-peramu, berabad-abad kemudian, manusia mulai berpindah menjajal dunia pertanian, kemudian tergila-gila dengan rempah-rempah, melakukan perang dan pembunuhan massal, kemudian mempetakan diri berdasarkan warna kulit atau panjang-pendeknya janggut; Sampai mereka membayangkan sebuah kebebasan bernama demokrasi. Sementara hewan-hewan ternak hanya memikirkan padang hijau yang penuh dengan halaman rumput: makan; tidur; beranak; dan mati bahagia.

Buaya muara, tidak mungkin bisa diberi kebebasan berkeliaran di pusat perbelanjaan kota dengan membisikkannya petuah: “sekarang kau bebas, nikmatilah kemerdekaanmu.” Buaya muara lebih membutuhkan tempat aman di sungai, dan sudah sangat berbahagia bisa beranak-pinak tanpa merasakan gangguan dari pengerukan tanah berlebihan yang kini marak terjadi di sepanjang sungai di desa-desa.

Baca Juga: Kota dan Kenangan

Hanya manusia yang mampu mendefenisikan bahwa hidup bahagia berarti harus menikah; beranak-pinak; dan menghabiskan seluruh lahan di muka bumi ini dengan menjadikannya tempat tinggal. Maka tetangga saya, yang keperawanannya belum juga terenggut hingga memasuki umur 56 tahun sejak tali pusarnya terpotong, harus mengutuk dirinya sebagai manusia yang tidak akan masuk surga berdasarkan salah satu kitab suci yang ia percayai.

Keluarga saya di Kabupaten Gowa yang selama tujuh belas tahun pernikahannya tidak juga dikaruniai seorang anak, percaya bahwa mereka dikutuk oleh Tuhan, karena dulu semasa mereka masih pacaran, terus-menerus melakukan hubungan badan tanpa menyandang status pernikahan. Kata orang-orang, “ia tidak layak punya seorang pun anak.” Tapi mereka terlihat lebih bahagia ketimbang orang-orang yang memiliki anak. Mereka berdua sangat baik hati, sehingga beberapa anak-anak dari keluarga besar kami sudah menganggapnya sebagai orang tua sendiri.

***

Akhirnya Rinjani menerima lamaran Purnomo, laki-laki yang berprofesi sebagai Tukang Ojek Pengkolan itu berhasil meyakinkan kedua orang tua Rinjani dengan hanya bermodal kata-kata biasa: “pekerjaan saya tukang ojek, tapi saya akan membahagiakan Rinjani.” Sementara di dua tempat berbeda, Kota Para-Pare dan Kabupaten Gowa, dua sahabat saya Arlin dan Alamsyah, laki-laki yang sekarang telah berprofesi sebagai guru sepertinya tidak akan lama lagi mengikuti jejak Purnomo. Mereka berdua telah memiliki pekerjaan tetap dan peluangnya untuk melegalkan penderitaan—menikah—terbuka lebar.

Saya rasa, mereka bertiga memang sudah harus berhenti melakukan kebiasaan lamanya: tak berhenti berpindah hati, meski hatinya terus-menerus dipatahkan. Saya ingin bilang ke mereka, jatah patah hatinya semestinya sudah habis, tapi saya takut bilang.

Baca Juga: Pribadi Sekeping Koin

Seringkali saat mendengar Arlin dan Alamsyah bergantian menduga-duga masa depannya, saya suka terdiam. Tidak menimpali sedikit pun. Tiba-tiba saya merasa sudah mulai berbeda dunia dengan mereka. Tapi pembahasan mengenai pernikahan selalu saja menarik ketimbang membahas RPP.

Saya tidak tahu, apakah Arlin dan Alamsyah yang baik hati itu setelah menikah juga akan ikut seperti arus kebanyakan laki-laki lain: menjadikan pasangan hidupnya sebagai robot yang seharian bekerja membersihkan rumah, tanpa sedikit pun mereka ingin membantunya. Saya mau bilang ke mereka, ayah dan ibu yang bergantian mencuci piring dan membacakan dongeng untuk anak-anaknya adalah suami-istri yang selalu membahagiakan keluarga kecilnya. Tapi saya tidak punya ayatnya. Nanti mereka tidak akan percaya.

Barangkali dua hingga lima tahun ke depan, ketika Arlin dan Alamsyah masing-masing sudah berkeluarga, istri-istri mereka akan melahirkan anak-anak yang suatu saat siap membaptis mereka berdua sebagai: orang tua yang baik atau ayah yang jahat. Mereka akan menghadapi situasi betapa sulitnya membiasakan anak-anak untuk membaca buku dan menghargai beragam perbedaan. Betapa sulitnya menghadapi beragam pertanyaan dari anak-anak.

***

Purnomo dalam film Tukang Ojek Pengkolan, membutuhkan 1.800 lebih episode, mengembara mencari pasangan hidupnya, mengantar-jemput puluhan perempuan. Terus-menerus ditolak, dicampakkan, dan ditinggalkan. Tapi seperti kata Dumas, “semua kebijaksanaan manusia dapat diringkas dengan dua kata: penantian dan harapan.” Purnomo hanya mengunakan dua perkakas itu dan penantiannya terjawab oleh perempuan bernama Rinjani. Saya rasa RCTI sudah harus berhenti memainkan hati Pur. Purnomo, meski hanya tukang ojek juga berhak berkeluarga dan berbahagia.

Saya senang seandainya nanti, Arlin ataupun Alamsyah sedikit bisa belajar dari Purnomo. Setidaknya saat mereka melamar calon istrinya di depan calon mertuanya, mereka tidak perlu malu untuk mengatakan: “saya hanya seorang guru biasa, gajinya tidak tinggi. Tapi saya akan membahagiakan anak Anda.” Saya rasa kata “membahagiakan anak Anda” harus diucapkan lebih dulu sebelum betul-betul dibuktikan.

Mereka yang telah bersusah-payah membangun keluarganya dengan kebahagiaan, tidak akan lagi menemukan dirinya dalam kesendirian. Kau tahu, seorang Pak Tua dari Meksiko bernama Octavio Paz pernah mengatakan bahwa kesendirian adalah fakta terdalam dari kondisi manusia. Manusia adalah satu-satunya yang tahu, bahwa dia sendirian. Akhirnya saya mau bilang, Mas Purnomo, kamerad Arlin, kamerad Alamsyah, jatah kesendirianmu sudah hampir habis. Mari berbahagia.

Facebook Comments
No more articles