“Jika kau harus menggeser pintu gerbang pabrik setinggi tiga meter, selebar dua tiang gawang normal dengan engsel roda yang macet dan mencicit seperti tikus kelaparan. Maka jangan mendorongnya dalam keadaan penuh percaya diri bahwa tanpa kekuatan buah setan kau bisa mengatasinya. Apalagi waktunya tepat malam Jumat.”

Malam Jumat akan membuat otot tumitmu robek. Hubungannya? Tentu saja ada. Achilles kau tahu? Manusia setengah dewa itu, yang badannya baja anti codet. Kegemarannya berperang dan tak pernah kalah. Sampai ia jatuh cinta dengan Breseis. Wanita cantik yang membuatnya kalah di perang Troya. Pada malam Jumat karena tumitnya tembus terkena panah saat dia berusaha melindungi Breseis. Hanya pada titik itu dan bukan kebetulan.

Manusia yang bisa jadi dewa sepenuhnya harus jadi setengah pada malam Jumat. Jadi hati-hatilah dengan tumitmu setiap kali Kamis telah tenggelam dan kau bersama perempuan. Jangan senasib Achilles, hanya karena satu anak panah menembus tumitnya, anak panah yang lain menembus bagian tubuhnya yang lebih vital. Kisahnya berakhir di situ.

(Dalam kasusku, tumitku terkilir setelah terjepit besi penopang pintu gerbang pabrik. Ketololanku, karena aku mendorongnya dari bagian tengah pintu. Kau tahu apa yang terjadi di pikiranku saat sensor rasa sakit itu tiba pertama kali. “Aku tahu sekarang aku bukan lagi anak kecil.” Batinku. “Walau sudah rank mythic sakitnya, aku tidak boleh menangis.” Lalu aku terjatuh, lututku berhasil menopang tubuhku. Aku lalu bangkit, menendang pintu sialan itu dengan sisa tenaga yang kumiliki, kemudian aku memperhatikan sekitarku. Untung saja, para pekerja sedang sibuk sehingga aku tidak harus berusaha memasang wajah tampan seperti wajah para remaja penggemar musik emotion hardcore, tapi aku berhasil selow. Padahal ingin lanjut kuteriak “Kampret, suntili, anying, pintu telaso.” Tapi hati kecilku berkata “jaga harga dirimu bro sebab kau adalah calon raja bajak laut.” Jadi aku menahan pedihnya dan aku tetap harus meneruskan mendorong pintu pabrik itu sambil terus mengumpat dalam hati.)

 Jika otot tumitmu sudah robek, bengkak dan warnanya akan merah merona. Kau jangan percaya bahwa rasa sakit dapat hilang karena rasa sakit yang lebih sakit. Seperti membawa tumit brengsek bengkakmu itu ke dukun urut. Proses pemijitannya memang ngeri-ngeri sedap. Apalagi dengan minyak urut, iringan mantra dan semprotan air liur. Kau akan dibuat ketagihan dengan sensasi aromanya dan seperti itulah caramu sembuh.

Baca Juga: Gambaran Sukses Pilpres 2019: Politik Memang Kejam

Ilusi tertanam di otakmu. Rasa sakit yang terus terulang-ulang akan menimbulkan kebiasaan. Hingga sensor rasa sakit di pikiranmu jadi lag. Ototmu kau kira sembuh padahal ia mengalami trauma dan kau merasa baik-baik saja. Seandainya kau bisa mendengar tumitmu berbicara maka ia akan berkata “Tuhan mengapa kau berkehendak menciptakan kaki bagi orang bodoh ini.” Tetapi kau tak mampu mendengarnya.

Hal yang sama bekerja saat hatimu patah. Jangan membawanya kepada siapapun. Sebab perasaanmu tidak punya sendi. Hanya kau yang mampu mengerti maknanya. Patah hati adalah rasa yang tidak tepat dibunyikan. Kau akan jauh lebih memahami konteks paragraf ini jika telah membaca karya Ivan Illich, filsuf yang taat beragama itu.

Cukup kompres area yang bengkak dengan es batu. Tentu saja kau ambil dari lemari es mu. Jangan ambil dari gelas es teh orang cilaka. Jika kau tak punya es batu sebab kau tak punya lemari es. Kau harus ke luar membeli. Es batu itu penting untuk pertolongan pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Jika tidak ada orang yang bisa menolongmu, kau harus berjalan sendiri untuk membelinya. Merangkak atau ngesot sekalian.

Tapi jangan tertipu. Es batu masih seharga lima ratus rupiah sebiji, cari tempat lain kalau dia jualnya dua ribu rupiah sebiji. Air yang dibekukan toh berasal dari air PAM bukan dari air terjun Niagara. Lagi pula keuntungan usaha penjualan es batu tidak cukup membuatnya naik ke Tanah Suci.

Jika kau sudah memiliki es batu. Jangan dipegang saja. Bukan tanganta’ yang terkilir to? Jadi segera letakkan pada ligamen tumitmu yang sudah nyut-nyut itu. Perlakukan tumitmu secara halus. Ia sudah cukup menderita. Lakukan selama 20 menit, dua kali dalam sehari. Jangan lewat. Sebab sesuatu yang berlebih akan mengurangi fungsi yang lainnya.

Dalam hal ini kinerja aliran darahmu bisa beku, jadi darah batu. Dan tentu saja darahmu yang beku tidak bakal laku dijual lima ratus rupiah. Itu juga tidak cukup membuatmu memiliki gelar haji. Jadi ikuti saja standar prosedurnya dan ngomong-ngomong soal haji, apa kau setuju bahwa ibadah haji itu memang candu apalagi bagi yang tidak mampu?

(Setelah itu santai saja. Ikuti caraku. Tiduran di kasur saat pengkhutbah sholat Jumat terus berteriak-teriak menjaga kesucian surga. Menarasikan sifat-sifat Tuhan kultur, bahwa dari budaya pembentuk-Nya, Dia dapat mengabulkan doa yang mereka perbanyak pada hari Jumat tanpa pernah berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan semesta. Agar tidak membuat kau penasaran, akan kujelaskan siapa Tuhan Kultur dan Tuhan Semesta. Tuhan Kultur adalah tuhan-tuhan yang bisa kau dapati dalam setiap teks suci, teks-teks populer seperti status di media sosial, citra, iklan, gambar, patung, pohon, orang-orang yang mengaku sebagai diriNya dan juga dapat menjadi alasan para kaum beragama untuk melakukan tindak banalitas, seperti poligami dan berjuang di jalan Allah dengan melakukan bom bunuh diri. Sedangkan Tuhan semesta adalah apa yang dikatakan Derrida sebagai Tuhan yang menunda finalitas. absolutisme dan Tuhan yang tidak dapat dibunyikan dengan perangkat bahasa. Tuhan Semesta, kau mengalaminya dalam pengalaman pribadi dan abadi. Percakapan denganNya adalah diam dari kata sehingga kau tak mampu mengucapkannya kepada siapapun kecuali dirimu sendiri. Dan jalan menuju kepadaNya adalah jalan yang tidak kau dapati di luar dirimu tapi semua ada di dalam dirimu. Cukup begitu saja kuliah filsafatnya.

Sementara itu, aku yakin Tuhan dalam diriku akan mengerti keadaanku. Atau entahlah. Tapi dengan kaki terkilir aku akan sulit untuk duduk di antara dua sujud. Tapi kau tahu kewajiban sholat itu melebihi anjuran untuk buang air besar saat perutmu mules. Sebagai pendaftar masuk surga, kau tidak punya alasan untuk tidak sholat wajib. Selama kau masih punya kesadaran, kau harus sholat meski kau tak mengerti mengapa kau harus melakukannya. Dengan susah payah aku sholat dengan posisi duduk bersila. Tapi sholat dengan posisi ini menyenangkan juga. Tak perlu banyak variasi gerakan. Cukup memilih posisi senyaman mungkin, mulailah dengan takbiratul ihram sampai salam, selesai, begitu saja.)

Angkat bagian kakimu yang bengkak. Lebih tinggi dari letak anatomi jantungmu. Kau jangan bodoh melakukannya saat berdiri. Tumitmu keseleo, bengkak, nyeri dan kau bukan penari balet atau pendekar kungfu sholin. Lakukanlah sambil berbaring dan alaskan kakimu dengan bantal. Jika kau tidak punya bantal, ambil saja kepala mantan pacarmu, yah ambil saja, tak perlu minta izin dan letakkan kakimu di atasnya. Itu jauh lebih nyaman. Tapi jika kau jomblo sudah sejak tali pusarmu diputus. Kau jangan sengaja memiliki pacar hanya demi memiliki mantan pacar. Itu pengecut dan seluruh dunia membencinya.

Perlahan rasa nyerinya akan hilang, percaya padaku, terus begitu saja. Biarkan kakimu rileks. Jangan terlalu banyak tambahan gerakan seperti melakukan kayang, sit-up, tari perut atau kesetanan karena mendengar Burning Love nya Elvis Presley. Lebih baik kau jauhkan dirimu dari pengaruh buruk Rocker itu. Rileks.

Baca Juga: Sexy Killers: Kita Ingin Marah pada Siapa, Selain pada Diri Sendiri

Ketika berbaring, kau bisa memegang ponselmu dan menulis tulisan seperti yang Anda baca saat ini. Jika kau tak suka menulis, kau bisa membaca buku. Jika kau tak suka membaca buku. Semoga kakimu keseleo selamanya, dasar pemalas. Begini saja, cukup mainkan ponselmu sesuai dengan kenyamananmu. Jika kau nyaman melihat media sosial mantan pacarmu. Maka lakukanlah. Aku melakukannya juga dan aku dapat koleksi satu kata kotor lagi. “Ajfouhfoajsdnvkjrboaernvabdvaeradb” satu kata kotor yang panjang dan ini tidak baik bagi tumbuh kembang kesopananku. Jadi kau tak perlu melakukannya. Kau hanya perlu move-on cika. Buku bisa membantumu. Jadi rajinlah membaca.

Jika bengkaknya masih merana. Kau bisa melilitnya dengan kain yang dibasahi air dingin. Jangan melilitnya seperti induk Anaconda, tumitmu bisa kehabisan nafas dan kau harus memberinya nafas bantuan. Selain kau sadar kakimu bau, kau juga tidak memiliki tulang punggung yang bisa membawa mulutmu ke kakimu. Jadi regangkan saja ikatan kainnya. Jangan merepotkan dirimu.

(Perutku mules. Panggilan alam seperti panggilan Ibu. Dan kau tahu bagaimana menyeramkannya Ibu dari suku Makassar. Seramnya seperti “jika dia tahu kakimu keseleo sebab kebodohanmu sendiri. kau dibiarkan sembuh untuk dibuat keseleo lagi. Jangan berharap mereka mengasihanimu.” Untung saja sudah kukarang baik-baik kepada ibuku bahwa kakiku bengkak karena tertindih dua buah galon Aqua. Dan ibuku percaya. Menyeramkan bukan. Maka panggilan alam tidak bisa ditunda-tunda. Aku wajib menunaikan hajat. Tapi kau tahu sendiri, kakiku terkilir dan kamar mandiku hanya menyediakan toilet jongkok. Sialan.)

— (Sensor)

— (Sensor itu berisi umpatan dan makian kasar yang bahkan penciptanya tidak akan suka mendengarnya.)

Tuuut. (Bunyi kentut)

Plung. (Kau tahu bunyi ini)

Gubyar. (Bunyi segayung air)

Semua berjalan kacau. Aku tidak bisa menunaikan istinja dengan baik. Tidak ada posisi yang benar-benar nyaman saat tumitmu keseleo. “Lihatlah aku baik-baik Nietzsche. Manusia itu lemah, kau tahu apa soal kekuatan, hah? Kau pikir semua manusia itu dianugrahi kekuatan haki raja. Alah omong kosong itu Ubermensch.”

***

Pesan moral yang tidak sopan: Kupesankan kepada kau. Kau jangan terlalu percaya diri menebar keyakinan bahwa kau bisa menjaga hati orang lain. Tumitmu keseleo dan kau takluk di dalam kamar mandi. Cukup kau jaga dirimu sendiri.

Facebook Comments
No more articles