Seekor lalat tiba-tiba mengusik ketenangan seorang raja. Serangga yang biasanya mencari kotoran sebagai tempat hinggap itu, dalam sebuah kesempatan yang istimewa tiba-tiba mendarat di kening baginda. Waktu itu baginda sedang mengumpulkan para punggawanya di balairung istana. Mereka diminta menghadap karena sang raja mulai khawatir: di wilayah kerajaan mereka, ada seorang ulama yang kian masyur dan memiliki banyak pengikut.

Kehadiran lalat di tengah-tengah rapat penting itu tentu saja menjengkelkan sang raja. Tapi setiap kali ditepuk, binatang menyebalkan itu selalu bisa menghindar dan hinggap lagi di bagian tubuh baginda yang lain. Berpindah-pindah ia menempel pada ujung hidung, bibir, dagu, atau terbang mendengung-dengung di sekitar telinga.

“Mengapakah geragan lalat diciptakan?” Suara baginda menggetarkan balairung. Ia mengarahkan pertanyaannya kepada seorang ulama yang juga diundang untuk menghadiri persidangan. Ulama inilah yang kemasyurannya menghawatirkan sang raja.

“Secara sederhana,” sahut sang ulama dengan suara tenang, “Seekor lalat diciptakan untuk meredakan kesombongan angkara murka.”

Raja itu bernama al-Mansur, seorang raja dari dinasty Abbasiyah. Dan sang ulama bernama Ja’far Sadiq Fatimiyah, ilmuwan yang enggan mendekati kekuasaan. Karena itu, ia memang seperti lalat yang tiba-tiba saja bisa menjadi gangguan bagi seorang raja. Ia tidak pernah menghormat kepada raja ketika menghadap baginda pada sebuah pertemuan. Ia menolak kenikmatan-kenikmatan yang ditawarkan istana kepadanya.

Baca Juga: Penghianatan Kaum Intelektual

Pada masa hidupnya khalifah-khlifah dari dua dinasti, Abbasiyah dan Umayyah, berebut menarik simpatinya. Tapi sang ulama tetap saja menjaga diri dan mempertahankan pendiriannya yang teguh. Ia tidak pernah berusaha meminta kemurahan hati agar disayang para khalifah Abbasiyah dan Umayyah yang memang ingin mendapatkan perhatiannya.

“Satu-satunya permintaan saya kepada baginda, jangan lagi saya diminta hadir di balairung ini.” Ujarnya kepada khalifah al-Masyur ketika untuk kesekian kalinya sang raja menawarkan kemurahannya.

Sang ulama memang memilih di luar tembok istana, seperti seekor lalat yang memilih tempat-tempat kotor dan onggokan sampah. Ia tidak mau menjadi burung piaraan sang raja. Ia menolak menjadi piaraan sang raja yang ditempatkan pada sangkar yang bagus, dan setiap waktu harus bernyanyi untuk menyenang-kan hati baginda.

Ya, ulama itu hanya memilih menjadi lalat. Sesekali ditunjukkannya tempat-tempat kotor di lingkungan kerajaan. Sesekali ia hinggap pada koreng, dan borok-borok kekuasaan. Atau sekedar mengusik ketenangan raja ketika ia mulai terkantuk-kantuk di kursinya.
Seekor lalat memang tidak pernah bisa diatur, bahkan oleh seorang raja besar sekalipun. Seorang raja besar tidak mungkin memerintahkan seekor lalat untuk cuci kaki sebelum nempel di kening, hidung atau dagunya. Raja tidak bisa memaksakan sabdanya kepada seekor lalat untuk hinggap hanya di tempat-tempat yang dia kehendaki. Maka, ia memang hanya bisa dibasmi kalau raja merasa terganggu oleh kehadirannya-dengan tepukan tangan atau dengan racun serangga. Dan inilah resiko bagi seekor lalat, seperti yang dicatat sejarah berabad-abad.

Dicopy-paste dari buku AS Laksana Podium Detik: Esei dan Perlawanan. Diberi kata pengantar oleh Goenawan Mohamad dan terbit pada tahun 1995 oleh Penerbit Sipress.

Facebook Comments
No more articles