Saya sama sekali tidak melihat diri saya sebagai seorang penulis nasionalis. Saya tidak percaya berlakunya nasionalisme dalam sastra. Khususnya sekarang, saya pikir sastra adalah sebuah peristiwa internasional. Saya tidak berpikir bahwa seseorang membaca Gabriel Garcia Marquez karena ia seorang Kolombia. Jadi, saya pikir tulisan adalah imajinasi, dan tulisan itu menjadi titik perhatian ketika kita membaca serta menghakimi seorang penulis. Saya setuju bahwa sebagian imajinasi dan bahasa berasal dari sumber-sumber nasional. Namun, saya tegaskan, sumber-sumber nasional bukanlah unsur yang paling memenuhi syarat dalam pelbagai buku.

Saya lebih memikirkan kaitan antara penulis dan penyikapan atas keadaan politik yang tengah berlangsung. Saya pikir di masa lalu terdapat tuntutan yang jauh lebih besar untuk menjadi juru bicara rakyat dan berpartisipasi aktif dalam politik, karena masyarakat sipil sangat lemah di Amerika Latin. Ketika kita tidak memiliki parlemen, maka penulis dipilih untuk menjadi juru bicara sebagaimana seorang deputi.

Namun, bagi saya, karena masyarakat di Amerika Latin sudah tumbuh lebih kuat dan terindustrialisasikan secara lebih rumit, maka penulis pun akan lebih berperan menjadi peserta dalam kehidupan politik. Ia berperan sebagai warga negara biasa. Saya kira Mario Vargas Llosa menjadi kandidat presiden Peru bukan karena ia seorang penulis, melainkan karena ia seorang warga negara yang mengambil tanggung jawab sendiri.

Baca juga: Karya dalam Kisah Cinta de Beauvoir dan Sartre

Saya tidak akan pernah mencalonkan diri sebagai presiden Meksiko. Saya tidak gila. Dan, saya merayakan kekalahan Mario karena saya merasa siapa pun dapat menjadi presiden Peru, tetapi hanya Vargas Llosa yang dapat menjadi penulis bagi novel-novel besarnya. Saya pikir tanggung jawab riil seorang penulis terhadap masyarakat adalah meletakkan kekuatan imajinasi dan kemampuan komunikasi bahasanya. Kita punya tanggung jawab melalui bahasa karena sikap merendahkan bahasa terus-menerus dilakukan, yang mengakibatkan informasi tidak tersampaikan atau hanya tersampaikan secara distortif.

Yang saya maksud dengan bahasa yang terus-menerus direndahkan adalah penggunaan bahasa yang buruk seperti terdapat dalam bidang politik dan informasi. Kata-kata yang diucapkan justru disampaikan secara buruk, dan kata-kata yang tidak terucapkan malah muncul melebihi apa yang sudah terang benderang disampaikan secara buruk. Saya pikir kita dikelilingi oleh hiruk-pikuk suara semacam ini. Suara itu cenderung menjadi infomasi buruk dan tidak pernah menjadi pengetahuan. Oleh karena itu, misi penting bagi penulis adalah berusaha menunjukkan bahwa bahasa dapat melakukan sesuatu dan dapat ditempatkan sebagai sesuatu. Ada banyak kerugian bahasa yang ditimbulkan oleh media dan tulisan-tulisan di bidang politik. Penulis harus membersihkan kembali deretan kata-kata.

Saya juga merasa perlu menggali begitu banyak gaya dalam karya-karya saya karena saya pikir dunia terbentuk dari pelbagai gaya. Saya menangkap suara hiruk-pikuk dalam kehidupan Meksiko modern, dan pada dasarnya saya adalah seorang penulis urban, seorang penulis kota… dan kita harus mengakui adanya disonansi hebat dalam bunyi dan suara kota.

Selain menulis, saya juga terlibat dalam produksi film. Namun, bukan persoalan seperti yang disebutkan di atas yang mendorong saya terjun ke dunia film. Saya terlibat dalam film karena mendapat bayaran mahal dari Columbia Pictures. Ambil uangnya lantas pergi, itulah hubungan penulis dengan film. Relasinya tidak pernah beranjak dari asumsi tersebut. Ada kemungkinan-kemungkinan kreatif (dalam film), tetapi bukan untuk penulis. Seorang sutradara memang tidak punya banyak kemungkinan untuk mengembangkan filmnya, tetapi bahkan seorang penulis adalah tokoh yang sangat sekunder dalam film: ia hanya berperan sebagai sosok dan kemudian dibuang, inilah visi sang sutradara yang jelas mengambil alih peranan penulis dengan mengikutsertakannya dalam produksi film.

Suara yang menjadi tujuan saya dalam film adalah suara polifonik. Saya datang dari generasi yang membaca Faulkner, dan secara pribadi bagi saya adalah Dos Passos, serta suara-suara besar dari masa lalu semisal Cervantes, Diderot, dan George Stern. Para novelis itu berusaha memberikan alternatif dan suara terhadap novel modern dan pembentukannya. Saya menjadi bagian dari tradisi dalam cara tersebut. Saya tidaklah unik.

Saya mulai menulis pada usia tujuh tahun—dapatkah Anda membayangkannya? Ketika itu, saya bahkan tidak tahu apa yang menarik bagi saya untuk menulis.

Pada usia tujuh tahun, saya sudah mulai mencorat-coret apa pun, dan saya menerbitkan sebuah majalah pribadi sekali dalam sebulan—ditulis dan digambar oleh saya sendiri. Saya meletakkannya di bawah pintu apartemen di tempat tinggal saya di Washington DC, menyuruh orang banyak untuk mengembalikannya kepada saya ketika mereka lewat. Bagaimanapun, saya pikir, selain saya tidak ada seorang pun yang pernah membacanya.

Dicopy-paste dari buku Menulis Itu Indah: Pengalaman Para Penulis Dunia hal. 17-20. Diterbitkan oleh penerbit Octopus, Yogyakarta. Diterjemahkan oleh Adhe dan disunting Dewi Kharisma Michellia, cetakan I, 2016. Esai berjudul Penulis Punya Tanggung Jawab ditulis oleh Carlos Fuentes, penulis asal Meksiko.

Facebook Comments
No more articles