Film Indonesia yang tengah ramai dibicarakan adalah film produksi Four Colours film karya Garin Nugroho, Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body) yang mulai masuk pasar komersil pada pertengahan April lalu. Sebelum ditayangkan secara komersil, film ini telah mendapat sambutan hangat di kancah internasional dengan meraih penghargaan dari ‘Bisato D’oro Award Venice Independent Film Critic (Italia, 2018), Best Film pada Festival Des 3 Continents (Perancis, 2018), dan Cultural Diversity Award under The Patronage of UNESCO pada Asia Pasific Screen Awards (Australia, 2018) (Putsanra, 2019).

Selain film Kucumbu Tubuh Indahku, terdapat sejumlah film yang disutradai Garin terasa “asing”. Pada saat industri perfilman menawarkan lekuk keindahan modernitas dalam visualisasinya atau, ketika atmosfer perfilman Indonesia sedang gandrung dengan horor esek-esek, Garin justru lebih bergairah menampilkan cerita yang jauh dari realitas modernitas dalam karyanya. Sebut saja film Setan Jawa, film bisu hitam-putih yang mengeksplorasi area mistis dan sensualitas dalam format cine-orchestra. Dapat dikatakan bahwa Garin secara intensional menampilkan keberpihakannya pada kehidupan kelompok/suara yang termarginalkan melalui karya-karyanya. Inilah yang menjadi alasan utama untuk mengulas karya terbaru Garin karena bagi saya, sesuatu yang dianggap “asing” senyatanya adalah yang paling dekat dengan realitas kehidupan kita sehari-hari, bukan sebaliknya; yang datang dari asing dirasa sangat tidak asing.

Film Kucumbu Tubuh Indahku berangkat dari sejarah hidup Rianto, seorang penari Lengger yang kini berdomisili di Jepang, yang terartikulasikan melalui tokoh Juno. Rianto sendiri berposisi sebagai narator film di bagian awal, tengah, hingga akhir cerita untuk memudahkan pembacaan realitas kehidupannya secara dekat. Selanjutnya, melalui Juno sejarah hidup Rianto mulai dihidupkan kembali dengan periodisasi Juno kecil dan Juno dewasa.

Garin dalam film ini tidak hanya menawarkan narasi kehidupan Rianto sebagai penari Lengger, bukan pula narasi tentang kehidupan Juno yang mengurus rumah beserta sang Ayah, kesedihan hidup tanpa kasih sayang, kegusaran merekam peristiwa melalui lubang, adegan bercumbu, maupun proses perindahan dari satu tempat ke tempat lain yang dialami Juno, melainkan penyuguhan potongan gambar yang secara terang-terangan mendeskripsikan kecairan feminitas dan maskulinitas, adegan demi adegan.

Adegan film Kucumbu Tubuh Indahku

Potongan gambar pertama adalah ketika Juno sedang menyiapkan makanan untuk dirinya dan Sang Ayah sembari mempraktikkan tarian Lengger yang didapatnya dari seorang laki-laki tua pemilik sanggar yang pada saat itu memergoki Juno mengintip sesi latihan para penarinya. Sang Ayah dilanda trauma karena kehilangan anggota keluarganya saat peristiwa pembantaian 1965. Trauma tersebut menyebabkan sepanjang hari hanya merenung dan meraung, sehingga Juno mengambil alih seluruh kegiatan domestik.

Adegan film Kucumbu Tubuh Indahku

Gambar kedua menunjukkan adegan ketika Juno memegang bagian dada guru penari Lengger di sekolahnya saat berada di rumah sang guru. Ekspesi wajah Juno menunjukkan kegetiran dan kerinduan di saat bersamaan; barangkali kita perlu mengingat bahwa Juno hanya tinggal berdua dengan sang Ayah yang sepanjang hari hanya menangisi kematian orang-orang yang dicintainya, menyiratkan kehampaan ruang afeksi dalam diri Juno.


Adegan film Kucumbu Tubuh Indahku

Gambar ketiga sebagai penutup periodisasi Juno kecil menampilkan adegan Juno bersembunyi di bawah meja ketika dijemput sang bibi tidak lama setelah melihat pembunuhan yang dilakukan laki-laki tua kepada anak buahnya yang kedapatan ‘main belakang’ dengan istrinya. Kalimat “separation, moving house, death… they are normal” yang diucapkan sang bibi adalah petanda fase awal perpindahan yang dialami Juno.

Setidaknya ketiga potongan gambar tersebut merepresentasikan dekonstruksi yang dialamatkan pada norma yang bias gender, iklim berpikir dikotomis yang memisahkan secara tegas antara laki-laki/perempuan, perkasa/lemah-lembut, publik/privat, rasional/emosional. Juno (laki-laki) mengurus rumah, berlatih tari, perasaan yang dilingkupi ketakutan dan kerinduan akan kasih sayang yang cenderung diasosiasikan pada perempuan menunjukkan bahwa, gender sebagaisuatu hal yang tidak linear dengan jenis kelamin. Artinya, gender merupakan sebuah pembagian peran sosial, di mana pada posisi ini baik peran dan identitas antara laki-laki maupun perempuan, menjadi sangat mungkin dipertukarkan.

Narasi Performativitas


Adegan film Kucumbu Tubuh Indahku

Fase peralihan dari Juno kecil ke Juno dewasa ditandai dengan perpindahan Juno ke tempat pamannya. Oleh pamannya, Juno menjadi penjahit khusus busana pengantin dan meninggalkan aktivitasnya secara total pada tari Lengger. Di tempat sang paman pula Juno bertemu pertama kali dengan seorang petinju yang memesan baju pengantin, berikut dengan kali pertama Juno merasakan jatuh cinta. Saat Juno mengantarkan pakaian pengantin sang petinju, sang petinju meminta untuk diajari cara memakai baju tersebut.

Mula-mula adalah bajunya sendiri kemudian meminta Juno juga memperagakan cara memakai baju pengantin wanita, sekarang nampak keduanya seperti sepasang pengantin. Juno mengisi hari-hari petinju pada bagian selanjutnya. Sampai ketika petinju menceritakan asal-usulnya, sebuah tragedi hidup yang ia alami sebagai anak tertua dan seorang laki-laki. Hidup yang keras memaksanya selalu tampil perkasa, tetapi karena keberadaan Juno, sang petinju akhirnya merasakan kasih sayang, sama halnya yang dirasakan Juno.

Perpindahan dan kehilangan sangat lekat dengan kehidupan Juno. Sang paman meninggal tidak lama setelah mengatakan, “bodies often carry traumas.” Menyiratkan tiap-tiap tubuh menyimpan tragedi hidup yang tidak dapat ditangguhkan, muskil ditolak. Sesakit dan sepahit apapun hidup, tubuh akan selalu mampu beradaptasi. Setelah sang paman meninggal, Juno berpindah lagi. Perpindahan yang tanpa disengaja membawanya pada kesenangan tari Lengger menyulut kembali.


Adegan film Kucumbu Tubuh Indahku

Potongan gambar di atas menangkap realitas kontekstual kehidupan Juno sehari-hari sebagai penari Lengger. Laki-laki yang berdandan, wajah yang dilukis semirip mungkin dengan perempuan. Seni pertunjukan Lengger yang merupakan warisan budaya, belakangan hampir tidak lagi terdengar gaungnya. Tidak lain karena stigmatisasi masyarakat yang menganggap aneh laki-laki yang berdandan. Lengger dicederai oleh masyarakatnya sendiri, regenerasi penari Lenggerpun berkurang drastis. Cemohan dan bullying dari masyarakat senyatanya mampu menjadi alat opresi bagi para pelakonnya juga tersirat pada film ini.


Adegan film Kucumbu Tubuh Indahku

Adegan bercinta di atas merupakan transisi dari perpindahan hati Juno. Ia kembali jatuh hati pada seorang warok di komunitas Lengger tersebut. Hampir sama dengan sang petinju, sang warok terlihat gagah dan secara kasat mata tidak menunjukkan ketertarikannya pada laki-laki. Bersama Juno, keduanya tidak merasa asing menikmati setiap jengkal tubuh masing-masing.

Visualisasi keempat potongan di atas merupakan narasi cair feminitas dan maskunitas yang merupakan penggambaran konsep performativitas dari Judith Butler. Sebuah konsep yang, menjadi counter atas kenaifan teori sosial yang membakukan gender dan seksualitas. Judy menolak prinsip identitas yang memiliki awal dan akhir karena menurutnya identitas (gender, seksual) tidak bersifat final dan stabil, maka tidak ada keharusan untuk memadankan keduanya.

Film Kucumbu Tubuh Indahku adalah medium penyampaian narasi performativitas tersebut, di mana Juno, lengkap dengan seluruh pergolakan batinnya yang membentuk identitasnya. Bahwa benar ia mencintai laki-laki dan berparas perempuan di balik kesenangannya pada Lengger, namun kenyataan yang tidak bisa dielak adalah baik feminitas dan maskulinitas hidup bersama dalam tubuh insane dan telah menjadi kesatuan.

Butler dalam Gender Trouble (Feminism and The Subversion of Identity) mengatakan bahwa gender dan seksualitas bukan esensi/ekspansi dari jenis kelamin dan identitas itu sendiri adalah apa yang mampak pada perilaku sehari-hari, dilakukan secara berulang-ulang.

Catatan Refleksi

Bagaimana pun, karya Garin Nugroho yang mengangkat kehidupan penari Lengger tentu tidak tercipta dari gagasan imajinatif, melainkan sesuatu yang lekat pada kondisi aktual warisan budaya Indonesia. Dalam Keberagaman Gender di Indonesia karya Davies S.G menulis bahwa jauh sebelum Barat mencoba menawarkan diskursus gender, kita telah lebih dulu mengakui keberadaan lima gender di Sulawesi Selatan (Urane, Makkunrai, Calalai, Calabai, dan Bissu). Pada titik ini secara terang peradaban kita (meski tidak semuanya) sudah mengenal adanya pelbagai variasi gender dan seksualitas yang muskil didefinisikan secara tunggal.

Namun pro/kontra yang dialamatkan pada komunitas penari Lengger baik dalam visualisasi cerita dalam film maupun realitas dunia nyata terus-menerus mengalami goncangan, membuat kelompok minoritas ini tersisih ke luar panggung. Tercederainya Lengger sebagai simbol budaya Nusantara oleh kelompok tertentu terjadi setelah menguatnya sentimen identitas.

Kegilaan pada kebenaran tunggal menjadikan kita terasing dari budaya sendiri. Kita tidak (bisa) menerima budaya sendiri karena dianggap tidak sesuai ajaran agama maka agama Tuhan perlu dibela. Namun, ujaran kebencian dan aksi berjilid-jilid  nyaris terjadi di waktu bersamaan. Terlepas dari semua itu, di balik pro-kontra tentang mana yang boleh/tidak, mana yang benar/salah, Garin menyulut semangat kita. Betapa pun, keberagaman harus terus dirayakan!

Penulis: Ainun Mutmainnah, alumnus sosiologi UNM Makassar. Sementara menempuh studi magister bidang sosiologi di UGM Yogyakarta.

Facebook Comments
No more articles