Empat buku di bawah ini saya suka, meski tak benar-benar berpengaruh tunggal atas hidup saya yang jamak ini. Lewat sudut pandang tokoh atau pengarangnya, saya kira itu penting untuk mahasiswa seperti Anda—yang mestinya lebih sering kamu baca berulang-ulang daripada status teman kamu atau seniormu, nantinya, yang sebenarnya sangat buruk, tak penting, bikin mual, tapi karena kamu junior dan pengecut, akhirnya tak tega mengakuinya.

Beberapa hari waktu lalu, di pertengahan bulan Mei, saya resmi menanggalkan status mahasiswa dan menyandang status sarjana dengan Indeks Prestasi Kumulatif sangat memuaskan. Ya lumayan, rasanya numero uno, caro. Barangkali, meski tak benar-benar merasa terpuaskan. Waktu mencapainya yang memakan waktu cukup lama, empat tahun dua puluh satu bulan—bisa jadi semacam ledakan yang cukup mencairkan hasrat dan ego saya terhadap kampus dan ketidakpuasan.

Kiranya, apa yang bisa dikenang dari akhir suatu fase, kini—nantinya, menjadi permulaan untuk hidup baru yang lain. Saya kira setiap orang akan tiba di akhir yang sama, dengan orang-orang, dan perasaan yang berbeda dan berlainan. Bagian yang lain, saya merasa senang dan yakin sepenuh lambung, setelah makan malam dua kali, tempat asing yang masih abstrak di kepala saya akan menghampiri, laload ataupun gercep.

Apa yang mendasari saya menulis ini tidak jauh dari orang-orang seperti kamu yang masih tengah berjuang merengkuh gelar kesarjanaan, mencaritahu, menjawab persoalan sosial yang lebih ruwet, atau semacam pertanyaan yang buat kamu kelabakan, siapa kamu sebenarnya dan mengapa kamu hidup di dunia ini, atau barangkali, kenapa kamu tidak menjadi pacarku, dulu. Alasan lain, ini akan sedikit—mengharukan.

Seminggu yang lalu, saya bersama enam teman berlabel mahasiswa kawakan hampir veteran, teman sekelas di jurusan Sastra Inggris dan seperjuangan di Jalan Pettarani, kami menghabiskan pekan di sebuah pulau, sebelah barat daya kota Makassar. Singkat kisah, setelah bercerita no secret, kami bernyanyi bersama-sama, bersama deburan pasir, unggunan api, dan hembusan angin, mungkin juga Avatar. Disaksikan gerombolan bintang dan kesendirian bulan, sang gitaris yang manis dan mirip artis Korea Utara, memainkan lagu tak asing. Betul-betul tidak asing, simbol peletup batin, ia memetik senar dengan mata tertutup, terasa dalam. Sontak, darah saya mendidih, menjadi ungu, dada saya bergetar, dan ingatan saya memuai.

**

Sebagai mantan aktivis abal-abal yang lebih banyak melakukan kerja-kerja verbal, negosiator, diplomator, atau semacamnya, dengan penuh pertimbangan atas dasar pengetahuan, intelektualitas, dan penyesalan—yang sekaligus bisa menjadi semacam pelarianmu untuk tidak berlama-lama, terus-terusan membaca status palsu teman-teman atau bahasa tubuh seniormu. Berikut buku-buku rekomendasi yang bisa dibaca oleh kamu yang tergolong mahasiswa segar tak perlu sangar, berjiwa muda dan menyukai tantangan, dan berapi-api, agar kamu bisa mengendalikan api dalam dirimu.

Sabda Dari Persemayaman, T.M Dhani Iqbal

Di kampus saya, buku ini masih sangat jarang diperbincangkan, bisa jadi karena tak ada yang membacanya. Terakhir, hanya Andre Arisandy, senior saya yang mengangkatnya jadi subjek penelitian tugas akhirnya. Garis besarnya, novel ini menceritakan perjuangan mahasiswa penuh prinsip nan idealis bernama Satar, menentang berbagai bentuk kebijakan dari institusi pendidikan yang bertentangan dengan kondisi sosial-ekonomi masyarakat.

Tidak asal menentang, Satar memiliki pola pikir yang seimbang dari beragam perspektif, berupaya membahasakan gagasan atau ide-ide revolutif, demi mengubah hidup ke arah yang lebih adil, bijak, lewat peletakan labelisasi mahasiswa yang tidak tenang, gelisah, dan bereaksi terhadap suatu konsensus yang irrelevan.

Oh iya, novel ini juga cukup mendidik, mencerahkan, dan jika beruntung, mengubah pola pikirmu mengenai sistem pendidikan di Indonesia, bahwa kesenjangan sosial seperti kemiskinan, kelaparan, ketertinggalan, kejahatan, dan korupsi berakar dari bobroknya sistem pendidikan kita. Bacalah selagi masih muda, bung!

Catatan Seorang Demonstran, Soe Hok Gie

Banyak yang mengidolakan Soe Hok Gie, termasuk beberapa senior-senior saya. Mereka sering menyebut nama itu disela-sela diskusi, orasi, hingga rapat yang berakhir debat pseudo. Waktu itu, kami hanya menyimak dan menerima semua argumennya tentang sosok pendiri Mapala UI itu. Mungkin banyak aktivis mahasiswa yang ingin seperti Gie, tapi yang pasti tak ingin berakhir sama. Mati muda. Apalagi masih lajang, hahaha. Tenang saja, ini hanya spekulasi biasa.

Sosoknya mudah, sudah dikenal lewat berbagai corong, diskusi, film, kutipan, ataupun gosip murahan. Tapi lewat buku ini, pembaca akan dibawa pada sosok Gie yang lebih dekat, tidak spekulatif, sejalan dengan napas buku ini adalah catatan harian sang aktivis—pembaca akan mendengar catatan-catatannya yang tegas, lugas, serta sarat akan kritik, kepada apapun dan siapapun, paling banyak tentu saja mengarah ke pemerintah orde lama.

Meskipun cara berjuang mahasiswa pada medio 1942 – 1969 tidak bisa disamakan dengan bagaimana cara mahasiswa sekarang, akan tetapi prinsip tentang peran dan partisipasi mahasiswa harus mampu diemban teguh. Dari saya, janganlah bermimpi menjadi Gie, jadi diri sendiri saja sudah setengah mati, kawan.   

Kuliah kok Mahal?, Panji Mulkillah Ahmad

Pertama kali saya mendengar nama Panji, ketika rutin menghadiri bincang-bincang seputar undang-undang pendidikan tinggi (UU Dikti No. 12 Tahun 2012) dan sistem uang kuliah tunggal (UKT) yang saat ini dijadikan dasar pemungutan biaya pendidikan/kuliah menggantikan sumbangan pembinaan pendidikan (SPP).

Alumnus Universitas Soedirman, Purwokerto Jawa Tengah itu, dalam merancang bukunya, betul-betul sarat ilmiah, berbasis riset, investigasi, dan tata kelola data yang mumpuni, runtut, kritis, dan dalam, sebagai referensi aktual untuk mahasiswa dalam memahami privatisasi, komersialisasi, dan liberalisasi pendidikan tinggi.

Saya yakin ketiga istilah tersebut masih teramat asing, tapi tahu kah kamu, ini ada hubungannya mengapa biaya kuliah setiap tahun semakin mahal. Kamu tak percaya, om? Coba tanya, seniormu!

Buku Nikah, Aku dan Kamu

Tapi,

undanganmu tersebar, namaku tertulis di label tamu. Skip!

Tunggu dulu. Aku baru ingin menulis Konspirasi Dalam Semesta. Akan populer, bung!

Bergeraklah Mahasiswa, Eko Prasetyo

Sampulnya provoaktif. Konteks persoalan inti mahasiswa hari ini ada di dalamnya. Segeralah baca dan janganlah terus-terusan seperti itu. Isinya lumayan frontal menyindir kondisi mahasiswa di manapun berada, negeri dan swasta, yang lebih doyan popularitas bagai selebritas, daripada bergerak menjauhi zona nyaman dan amannya.

Buku ini patut dikatakan sebagai autokritik bagi kita semua, termasuk saya, pribadi. Bung Eko cukup sukses mendeskripsikan bagaimana tumpulnya mahasiswa era revolusi industri 4.0 ini, tergerus oleh perubahan zaman yang berlari, terdinamisasi, arogansi kultur, restrukturasi, sehingga paradigma mahasiswa kian hari menjadi pragmatis di jaman yang serba kapitalis. Maaf, darah saya mendidih. Ada megaphone?

Facebook Comments
No more articles