Ia menyimpan kesedihannya dalam-dalam. Meletakkannya pada lubuk yang paling kelam dengan cara yang rapi. Ia harus rela melepas segala sesuatu tentang kota yang telah ia huni kurang lebih sepuluh tahun. Pulang ke kampung halaman untuk memulai sesuatu yang baru.

Demikian kesimpulan hasil perbicangan saya dengan seorang teman yang lebih tua tiga tahun dari umur saya. Kami bercerita tentang bagaimana perasaan kami harus meninggalkan kota Makassar. Sebuah kota yang awalnya sebagai tempat menuntut ilmu, tetapi kemudian serasa menjadi rumah kedua.

Katanya, waktu untuk “bertarung” di kota Makassar telah usai. Setelah sepuluh tahun, dengan berbagai macam dinamika, ia memilih untuk pulang kampung dan memulai usaha. Berbagai hal telah ia perhitungkan. Semua akan baik-baik saja kecuali satu hal, betapa sulitnya melepaskan diri dari bayang-banyang kehidupan kota Makassar.

“Dalam hidup, salah satu hal yang mesti kita perjuangkan adalah masa depan. Dan kau tahu, masa depan hanya ada dua, karir dan seseorang yang kau inginkan bersamamu sepanjang hidupmu,” katanya menutup percakapan malam itu.

Selepas percakapan itu, saya merasa sedang bercermin. Keresahan demi keresahan yang dia rasakan persis seperti keresahan yang juga bergejolak di dada.

Setelah tujuh tahun berada di kota Makassar, lima tahun untuk belajar dan dua tahun saya gunakan untuk terluntang-lantung, pada akhirnya saya harus bersiap juga melepaskan diri dari segala suatu perihal kota Makassar.

Baca Juga: Pikiran Minimalis Ala Anak KKN

Dada saya berkecamuk. Bulan April yang lalu saya mendapatkan sebuah pekerjaan di kota Parepare. Selama hampir tiga bulan, saya bekerja dengan raga yang di sana tetapi perasaan saya masih tertinggal di kota Makassar. Tetapi terkadang pilihan dalam hidup memang sesederhana itu “meninggalkan tanpa bisa melupakan”.

“Juni saya harus ke Makassar”, kataku dalam hati saat tahu bahwa Makassar Internasional Writers Festival (MIWF) akan diadakan bulan Juni. Saya mempersiapkan segalanya dengan baik, termasuk menyelesaikan tugas-tugas dalam pekerjaan saya. Tetapi apa daya, MIWF bertepatan dengan hari kerja saya. Tetapi, dengan segenap keberanian yang tersisa di dalam kepala, saya memilih bolos kerja selama dua hari demi berkunjung ke MIWF di Benteng Roterdam Makassar.

Di MIWF saya menyimak dengan baik apa yang dikatakan Sabda Armandio saat diskusi peluncuran bukunya Dekat dan Nyaring. Katanya, kota yang ia tempati semasa sekolah selalu melekat di dalam ingatannya. Setelah sekian tahun, akhirnya ia memutuskan untuk menulis kembali kota tersebut ke dalam bukunya Dekat dan Nyaring yang berbicara soal pertarungan ruang di kota urban.

Baca Juga: Mengapa Kita Mesti Melawan?

Kota yang dimaksudkan Dio—sapaan akrab Sabda Armandio—tentu saja adalah kota Bogor. Meski telah menjalani hidup dan mendapatkan pekerjaan di ibukota Jakarta, ingatannya tentang kota Bogor—kota masa remajanya—merupakan ingatan yang paling lekat. Selain buku terbarunya Dekat dan Nyaring, buku pertamanya KAMU Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya sedikit banyak juga berbicara tentang Bogor.

Hal ini menyiratkan satu hal sederhana. Setiap orang bisa meninggalkan suatu kota, tetapi tidak dengan segala kenangannya.

Saya membayangkan bahwa, ingatan Dio terus melekat meski ia telah berkelana ke mana-mana. Saat itu, saya semakin percaya bahwa kota pada dasarnya adalah sebuah etalase tempat memajang kenangan-kenangan. Setiap kali kita berjalan menyusurinya, perasaan kita akan menjadi lahan subur ingatan tentang apa saja yang kita namai sebagai kenangan.

Selama beberapa hari di kota Makassar, saya berusaha mendefenisikan ulang tentang kota. Tetapi lagi-lagi defenisi saya selalu berulang, kota bukan saja tentang ruang, tetapi kota merupakan sebuah etelase raksasasa di mana kenangan-kenangan terpajang, bukan untuk dijual tetapi untuk dikenang.

Saya sebenarnya kadang begitu membenci kota Makassar dengan kesumpekan, polusi, dan macetnya. Tetapi, di sisi lain saya selalu merindukan kota itu. Serasa selalu ada sesuatu yang mesti saya kunjungi di sana. Rumah, kampus, warung kopi, warung makan, keluarga, teman, dan mungkin juga mantan pacar. Mereka menjadi satu dari sekian banyak alasan untuk kembali.

Pikiran saya jauh melayang. Saya teringat ketika sesekali menonton tivi dan menyaksikan orang-orang tergusur dari kota dan rumah mereka. Bagaimana perasaan mereka? Pertanyaan itu muncul dan tak berani untuk saya pikirkan jawabannya.

Saya mecoba melihat ke dalam diri. Meninggalkan Makassar dan menjadikan kota lain sebagai tempat mengadu nasib merupakan pilihan yang sudah saya pertimbangkan sejak dulu kala. Saya bahkan memiliki waktu sekitar setengah kalender untuk mempersiapkan diri merayakan perpisahan dengan kota Makassar.

Tetapi, apa yang kemudian terjadi pada diri saya. Saya merasa seperti sedang menjalani sebuah langkah yang berat dengan kepala yang terus menoleh dengan perkataan di dalam hati: apakah rencana hidup ini bisa saya susun kembali?

Saya mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk pergi, tetapi tidak pernah merasa benar-benar pergi. Bagaimana dengan mereka yang tergusur, dipaksa pindah, dan kenangannya harus ia tukar dengan uang yang tak pernah cukup untuk hidup?

***

Lantas apa yang semestinya kita lakukan? Saya percaya bahwa hidup pada dasarnya sebuah pilihan, tetapi terkadang hidup hanya memberikan kita satu pilihan saja. Maka dari itu, jauh-jauh hari, saya hanya ingin mengingatkan kepada siapa pun agar mempersiapkan diri dengan baik untuk meninggalkan apapun itu. Yah meninggalkan, bukan untuk melupakan. Sebab meninggalkan dan melupakan, dua perkara yang sungguh benar-benar berbeda. Jika tidak percaya, silakan rasakan.

Facebook Comments
No more articles