Satu-satunya hal yang bisa kita curigai, mengapa guru-guru atau dosen kita, gagal mengajarkan banyak hal dari berbagai bidang ilmu, karena mereka telah berhenti membaca.

Dulu, saat belajar di bangku sekolah, selama dua belas tahun dan hampir setiap pekan kita mempelajari bahasa Inggris. Dua belas tahun itu, tetap saja tak memberi efek sama sekali. Kita keluar dari bangku sekolah tanpa tahu menggunakan bahasa Inggris itu. Mata pelajaran lain mengikuti, pelajaran agama tidak berhasil membuat kita berhenti menyulut kebencian dan matematika gagal memahamkan kita apa arti memperlajari integral atau mengapa segitiga tidak selamanya iluminati.

Selama dua belas tahun duduk menghadap papan tulis, kita hampir tidak pernah mendengar bahwa selain kantin, perpustakaan juga bisa menjadi surga tersendiri bagi kita. Bahwa surga kecil itu, mampu membawa kita berkeliling membayangkan tempat-tempat jauh dan menumbuhkan harapan bahwa kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih baik. Lingkungan yang tidak melulu menyulut kebencian.

Barangkali karena seluruh perpustakaan dijaga oleh orang-orang yang tidak pernah membaca, orang-orang yang tidak mengharapkan surga kecil itu ada, jadi kita lebih sering mendapatkan penjaga perpustakaan yang lebih banyak bermuka masam dan sepertinya tidak pernah ingin membuka pembicaraan dengan pengunjung. Selama mengunjungi perpustakaan, sepertinya kita tidak pernah menemukan penjaga perpustakaan yang setiap waktu bisa merekomendasikan kita bacaan-bacaan terbaik. Saya bahkan yakin, sebagian besar penjaga perpustakaan kita lebih bahagia seandainya mereka tidak mendapatkan pengunjung setiap waktu.

Baca juga: Ingatan tentang Menjaga Toko Buku

Saya tidak menaruh kecurigaan lain, Eka Kurniawan pernah menulis, dalam salah satu penelitian  pernah mengungkap bahwa orang tua yang membaca kemungkinan besar juga akan melahirkan anak-anak yang juga membaca. Mungkin karena guru-guru atau dosen kita telah lama berhenti membaca, sehingga mereka terus berhasil melahirkan murid-murid atau mahasiswa yang juga sama sekali enggan membaca. Setelah berpindah dari masa budaya lisan ke budaya tulis, apa yang bisa kita bayangkan dengan anak-anak didik yang berupaya menghindari buku? Apakah kita bisa mencurigai, di balik pembuatan jembatan akhir-akhir ini yang mudah ambruk dibuat oleh mereka yang tidak pernah membaca peraturan, bahwa jembatan yang dibuat minimal harus bertahan selama sepuluh tahun. Kita bisa mengurutkan kecurigaan lain, dengan memaparkan persoalan pelik lainnya.

Saya rasa, kita sudah mulai harus berhenti mengatakan, bahwa kita tidak membaca karena persoalan tidak mampu membeli buku. Sebab keadaan, perlahan telah membukakan ruang seluas-luasnya. Lapakan baca dan perpustakaan beberapa tahun ini telah menjamur hampir di semua wilayah. Negara kita juga memiliki perpustakaan daring yang memuat banyak bacaan-bacaan terbaik (Anda bisa mencoba membaca puluhan ribu buku di aplikasi Ipusnas misalnya)—Kuota internet yang Anda gunakan untuk membaca di aplikasi itu, berkali-kali lipat lebih sedikit ketimbang kuota internet yang Anda gunakan untuk bermain game seharian atau membaca webtoon.—Kita telah memiliki perkakas pengetahuan itu, tapi entah kapan kita mau memanfaatkannya.

Kemarin, saat membaca kembali tulisan-tulisan A. S. Laksana, ia mengatakan dalam salah satu artikelnya, “murid-murid sekolah (saya tambahkan, juga mahasiswa) yang tidak suka membaca buku biasanya lebih suka membicarakan orang, membicarakan ponsel, membicarakan marmut dan selebriti, surga dan neraka, atau apa saja. Mereka akan membicarakan semua hal kecuali buku. Lalu bertengkar apakah bumi bulat atau datar. Lalu sibuk menyuarakan kebencian terhadap satu sama lain.”

Jika Anda masih yakin bahwa Anda sama sekali tidak mampu membaca. Anda salah, setidaknya sampai paragraf delapan ini, Anda telah membaca 517 kata. Saya yakin, jika kita tidak membiasakan anak didik kita membaca sejak dini, ia akan seperti yang dikatakan AS Laksana, mereka akan sibuk membicarakan semua hal dan tidak berhenti menyuarakan kebencian. Anda tentu tahu, kebencian yang dipupuk terus-menerus hanya akan menimbulkan kebencian baru yang tidak akan ada habisnya. Kebencian itu yang akan menimbulkan sikap kuasa kita terhadap kelemahan orang lain.

Suatu hari, saat saya bertemu dengan seorang teman yang mengajar di wilayah pelosok Kabupaten Mamasa, kami berbincang tentang berbagai persoalan pendidikan di Indonesia, terutama persoalan membaca. Ia mengatakan bahwa defenisi buta huruf sekarang sudah bergeser menjadi “orang yang mampu membaca tetapi enggan menggunakan kemampuannya untuk membaca”. Tepat yang dikatakannya, kita bahkan memiliki kebiasaan baru (entah dari peradaban mana kita memulainya) dengan sering membeli buku, memotret, tapi tidak pernah membacanya. Saya malah sering berpikir, kita sebenarnya tidak kekurangan orang-orang yang sering membeli buku, kita hanya kekurangan orang-orang pembaca.

Andai kita mengajukan pertanyaan, mengapa kita enggan membaca? Satu-satunya jawaban yang bisa saya berikan adalah karena memang kita tidak mau membaca. Kita merasa dunia ini baik-baik saja dengan terus melahirkan anak didik yang lebih banyak diam dan mengangguk, dibanding murid yang setiap saat memperbaiki perkakas pikirannya dengan terus membaca dan bertanya. Kita senang melihat mahasiswa yang selesai dengan pulang membawa seluruh perabot pakaian, ijazah, dan pernak-pernik kota, selain buku. Kita enggan membaca, karena kita merasa, seluruh waktu kita akan lebih berguna jika digunakan untuk membicarakan semua keburukan orang lain. Mark Twain, penulis seri Petualangan Tom Swayer dan Huckleberry Finn pernah mengatakan, bahwa orang yang tidak pernah membaca, tidak lebih baik sedikit pun dibandingkan dengan orang yang buta huruf.

Facebook Comments
No more articles