Akhir Juni, di Makassar, orang-orang bersaput antusiasme, kebahagiaan, perasaan warna-warni, dengan berbagai latar kultur, berkumpul di Fort Rotterdam, salah satu tempat yang sarat dan lekat dengan masa lalu orang-orang Sulawesi selatan. Bukan tanpa alasan, atau hanya sekadar duduk kosong menatap langit jingga berubah warna, mereka tengah menyambut pagelaran yang selalu ditunggu-tunggu, benar sekali, Makassar International Writers Festival atau yang dekat dikenal dengan MIWF, kembali dilangsungkan terhitung dimulai sejak kemarin, Rabu hingga Minggu 29 Juni 2019.

Bagaimana festival sastra menjadi cermin perkembangan sastra kontemporer sebuah kota saat ini? Tanya Masrifin di tengah-tengah program a cup of poetry sore ini, ia tak berani menanyainya langsung pada direktur sekaligus penggagas MIWF, Lily Yulianti Farid. Bukan karena takut, lelaki bertubuh romantis itu berdalih tak punya kesempatan, lagipula apa pentingnya pertanyaan itu jika dibanding kerumunan orang-orang yang sedang menikmati festival, duduk membaca buku, berjalan mengunjungi boot, swafoto di taman baca, membeli produk-produk festival, dan melihat orang-orang yang ia tahu lewat buku-buku yang sudah dibacanya duduk berbincang sesama penulis atau penyair.

Berjumpa dengan orang-orang asing bukan peristiwa asing dalam kesehariaanya. Barangkali, kaupun seperti dia. Seperti buku-buku baru, setiap buku punya sisi lain dan keistimewahan yang tidak bisa dideskripsikan oleh pengarangnya, setiap buku memiliki tantangan tersendiri bagi pembaca. Pengalaman bekerja sebagai penjaga toko buku dan pengemudi ojek online membuatnya belajar banyak hal, bertemu dan menerima paradigma asing.

Masrifin bukan satu-satunya orang sekaligus teman yang memilih menghabiskan hari menikmati program-program andalan MIWF yang tahun ini mengusung tema people. Saban waktu, teman saya, Marlin mengabari kami via grup Whatsapp, ia berdalil dengan penuh percaya diri bahwa ia sudah tiba di Makassar. Jauh-jauh dari kota Pare-pare, sosok pelahap buku-buku Milan Kundera dan penikmat puisi-puisi Emily Dickinson sekaligus Aparatur Sipil Negara (ASN) guru bahasa Indonesia rezim Jokowi-JK menimpali bahwa ia rela bolos kerja dua hari demi sebuah pertemuan di festival ini. “Semoga besok ada acara yang menarik. Saya bolos kerja dua hari demi MIWF”, tulisnya.

“MIWF sudah menarik banyak orang-orang lebih dari keragu-raguanmu,” saya menjawabnya dengan harapan dan membayangkan diri saya tengah berada di tengah-tengah kerumunan. Mengikuti beragam talk show, Book Launch, Menyimak secangkir puisi di waktu sore bersama Ibe S. Palogai yang sangat nyata, bertemu dan berbincang dengan Giovani Arum, salah satu emerging writers tahun ini yang sempat saya kenal di sebuah festival di pulau seberang, dan penulis/penyair lain yang saya kenal. Semuanya terasa nyata dan tanpa paksaan sama sekali.

Media sosial telah ramai dipenuhi imajinasi orang-orang, tagar/hastag, cerita, swafoto dengan buku, dengan penulis dan penyair idola, sesi diskusi, panggung hiburan, dan tembok-tembok monumental Fort Rotterdam dengan segala entitas tak terlihatnya. Bayangan lain berjalan, saya membayangkan diri saya telah tiba sebelum berangkat, persis seperti novel anregurutta Faisal Oddang.

Seorang kawan mengirim jadwal disertai inovasi program-program MIWF tahun ini. Tak ada yang mengubrisnya. Saat itu, perhelatan telah berjalan tiga hari, beberapa program yang hendak kuikuti terlewatkan, Celebrating Poetry Books, beberapa agenda launcing buku seperti kumpulan cerpen Bertarung Dalam Sarung, Struktur Cinta yang Pudar, Novella Raymond Carver Terkubur Mie Instan di Iowa, A Cup of Poetry, dan masih banyak lagi. Saya menyesalinya, diam-diam. Saya tiba di Makassar sesaat menjelang matahari terbenam dengan konsekuensi kemacetan di dalam kepala.

“Sudah otw di jalan yang macet.” Saya membalas pesannya di atas motor, jalan yang begitu padat tepat di sabtu malam sudah cukup menyiksa dan menyita waktu. Saya sedikit bergumam, jika dibanding teman yang bolos kerja dan yang meninggalkan pekerjaan sampingannya menjaga toko buku tak ada apa-apanya, barangkali, dibanding penyesalan yang dirasa berlebihan ini.

“Oke, kutunggu.” Balasnya.

Begitu tiba di lokas festival, penyesalan itu sirna. Seperti lampu kerlap-kerlip yang meremang, berwarna pudar, memutus cahaya. Sama seperti yang ada di bayangan saya sehari sebelumnya, tak ada yang benar-benar jauh berbeda dari yang sebelumnya. Hanya ada sekumpulan orang-orang berjalan bergerombol, duduk di atas rumput, berfoto ria, dan mengutak-atik ponsel pintarnya. Itu yang nampak setelah memasuki gerbang Fort Rotterdam, begitu berjalan sekitar sepuluh langkah ke depan, dan menoleh ke segala arah, titik-titik merah dan asap-asap yang mengepul halus hampir tak terlihat, terasa.

Pun senada dengan yang dikatakan Masrifin tepat semalam setelahnya. Saya sengaja lupa membeli sebungkus LA Bold, mungkin tepatnya dirundung malas. Saya yakin kawan yang menunggu saya itu punya tiga empat batang yang ia simpan untuk obrolan kami di jam-jam berikutnya.  

Ia duduk berdua dengan seorang perempuan asing. Tangannya melambai, lalu berdiri, berjalan menghampiri dan meminta rokok. Sialan. Sirna lagi harapan. Bayangan kami berkesimpulan sama, saya membawa rokok. Sejak sore sebatnya sudah ia habiskan untuk kebersamaannya, hingga dia berinisiatif menghubungi orang yang ia kenal perokok, barangkali. Mungkin tidak hanya saya yang ia tanyai “di mana? Tidak ke MIWF?” dengan maksud “di manako? Ada rokokmu?”. kami tertawa bersama. Pacarnya hanya diam memainkan gawai. Laki-laki jangkung itu mengabari dan membicarakan pertemuannya tadi sore dengan Gio, salah satu dari lima penulis emerjin, yang berasal dari Kupang, kami bertiga bereuni, bertemu kembali, mengenang perjumpaan kami setahun yang lalu.

Di hari terakhir, saya berusaha datang lebih cepat dan menikmati festival, selain karena semalam saya telah berjanji kepada Gio untuk mengikuti panelnya bersama keempat penulis yang dipandu Shinta Febriyani dan Aan Mansyur, saya ingin seperti orang yang di sana itu, meski sendiri—nampak bahagia sekali wajahnya. Sesekali tersenyum menatap layar besar di depan matanya, buku-buku bacaan dan jualan sudah berjejer rapi menghiasi area taman baca, menanti pengunjung berhenti membaca ataupun membelinya.

Pernak-pernik lain pun tak kalah, diiringi para volunteer berbaju kuning tak diam, terus bergerak, mereka berjalan cepat, seperti gerombolan semut, ke mana-mana. Panggung utama menjadi bagian yang paling banyak menyita keringat mereka, memperbaiki, mendekorasi ulang, menyetel bagian-bagian penting dan yang dialiri listrik, demi memuaskan hasrat dan animo pengunjung di malam perpisahan.

Tidak lama, saya tidak sendiri, Marlin menelepon saya, menanyakan posisi berdiri, “saya di chapel, bangunan yang tepat di tengah itu”. Tak lama ia datang dengan kaos oblong berwarna abu rokok gudang garam, di tangannya tercapit buku berukuran kecil berwarna kuning bersampul mie instan dan sebotol air mineral. Saya mengambil dua benda itu lalu bergegas berpindah ke taman baca.

Tak lama, seseorang duduk tepat di belakang saya, seluruh bagian kepalanya tertutup, saya tak bisa mengenalnya. Rasanya dia bukan siapa-siapa, hanya manusia yang numpang. Ia lalu membuka tutup kepalanya, namun wajahnya masih tertutup masker, tangannya menyentuh pundak, suaranya pelan sedikit serak. Perangai yang tak asing, spontan saya menyalaminya. Kami pun berbicara banyak hal, dari mulai popularitas festival dan imbasnya pada masyarakat, celah dan kekurangan festival, komparasinya dengan agenda serupa, hingga pentingnya pendidikan literasi dalam sebuah keluarga. Meski kami semua belum berkeluarga, tak ada yang tidak setuju dengan wacana itu.   

Tak lama, bersama mereka lagi, kami bergeser ke bagian veranda, teras museum La Galigo. Setengah jam lagi, akan ada Launcing Buku Novella yang ditulis oleh mantan rekan sejawat Dea Anugrah, Dekat dan Nyaring yang diterbitkan Banana. Dipandu langsung oleh Direktur Katakerja, Arkil Akis.

Seperti mengulang apa yang Dio katakan seputar proses kreatifnya dalam berbagai kesempatan wawancara, salah satunya yang ditulis Faisal Fathur, 27 September 2018 lalu di jurnalruang.com, saya lantas memilih posisi duduk paling belakang. Moderator membuka sesi pertama dengan memperkenalkan dirinya dan rutinitasnya sebagai pustakawan Katakerja. Lalu memaparkan hasil pembacaannya, panjang lebar, memantik pendengar yang penasaran. Seorang kawan yang duduk tepat di depan saya bersahut, “saya ke sini memang untuk mendengar moderatornya bicara”. Kami tertawa kecil sesaat setelah ia mengambil foto dan merilisnya ke story Instagram.

Dengan berlinang cemas, bayangan, dan harapan, di lima paragrap pertama, saya menulis reportase ini saat MIWF tengah berlangsung dan berada jauh dari Makassar. Bagian selanjutnya sesaat setelah Lily Yulianti Farid menggungah pengunjung dengan pidato penutupannya di hadapan orang-orang yang tumpah ruah di pekan terakhir bulan Juni, menutup pagelaran MIWF tahun ini dengan manis, kemeriahan, dan kebanggaan. Menjawab sekaligus menginterupsi sebagian harapan-harapan kecil pertanyaan dan gugatan terhadap kesusastraan kita di Sulawesi selatan.

Kita mungkin bertanya-tanya, pengaruh apa yang ditularkan festival sekelas MIWF, atau bagaimana MIWF berimbas pada persoalan primer masyarakat luas terlebih di kota Makassar. Seperti virus yang sengaja diciptakan sekelompok subjek tertentu yang tercerahkan, melek terhadap sejarah, aktivisme membaca, dan rutinitas menulis yang dibalut rekonsiliasi identitas kultural, saya kira belum cukup untuk meruntuhkan ketidaksadaran kolektif, sebagai jawaban tunggal atas masyarakat kita yang multi-identitas dan banyak mau, lalu lupa dirinya dibesarkan oleh apa.

Tentu saja, kita patut menaruh keinginan sekaligus interupsi untuk sama-sama bergerak tidak hanya terus maju dengan lajur tunggal kelompok tertentu yang afiliatif, namun juga kontekstual dan demokratis ke segala arah dan subjek lainnya, untuk mampu melihat, mengenang, dan belajar dari beragam perbedaan yang kita punya sebagai kenyataan yang mengikat.

Festival yang beberapa waktu lalu, masuk dalam ajang International Excellence Award 2019 sebagai salah satu festival sastra terkemuka bersanding dengan Book Arsenal Literature Festival (Ukraina) dan International Literature Festival Utrecht (Belanda). Lalu, apa yang menjadi imbas dari festival sekelas MIWF untuk kita? Adakah yang kau sesalkan?

Facebook Comments
No more articles