Setidaknya dalam setahun, seringkali kesialan sekaligus keberuntungan bertemu secara bersamaan. Saya mengalaminya. Saya rasa itu terjadi di tahun 2015, tahun kedua saya berkuliah. Dalam rentan empat belas hari, dua barang berharga titipan orang tua saya dicuri, laptop dan motor.

Kesialan itu terasa lengkap ketika saya baru sadar bahwa sewa kosan saya berakhir bulan depan. Andai tidak ada seorang laki-laki bernama Yusman (semoga ia terus sehat walafiat dan berumur hingga 83 tahun), saya tidak tahu masjid mana yang bisa menampung orang yang sekafir saya. Yusman menawari tempat tinggal, sekaligus mempekerjakan saya sebagai penjaga toko buku. Wah, itu adalah keberuntungan yang berlipat ganda. Saya bisa makan seadanya tanpa membayar, saya bisa memiliki kamar tanpa pusing membayar uang sewa, dan saya digaji. Toko buku yang pernah saya jaga adalah Pelangi Ilmu, sekarang tokonya di Jl. Malengkeri No. 81, setelah berpindah-pindah sebanyak empat kali.

Saat menjaga toko buku—lebih dari satu tahun—saya menemukan hampir semua jenis manusia aneh yang bergantian datang membeli buku. Saya juga kadang-kadang musti menghadapi perangai menyebalkan para pembeli buku. Misalnya, seorang mahasiswa yang sedang mencari buku tanpa tahu judul, penulis, atau penerbit buku. Jenis pembeli ini, sudah bisa dipastikan, bahwa ia adalah mahasiswa yang dipaksa oleh kampusnya untuk menyumbang buku. Mereka cenderung mencari buku murah tapi tebal dan suka memaksa penjaga toko menganti label harga di angka setatus ribu.

Yang paling aneh adalah jenis pembeli yang mau menjadikan buku sebagai kado ulangtahun, tapi tidak tahu harus memberinya buku apa. Pembeli semacam ini, membuat saya seringkali harus mengulik, jenis manusia seperti apa pasangan mereka? Kalau pacarnya aktivis, saya sarankan Animal Farm, kalau baru hijrah tentu saja Lalya Majnun, kalau guru selalu saya merekomendasikan buku Totto Chan. Kalau penjahat, Tuntunan Memandikan dan Salat Jenazah.

Ada juga jenis pembeli buku, yang terus memesan buku tanpa henti dan berjanji akan datang mengambilnya andai bukunya telah tersedia. Tapi tiba-tiba hilang kabar ketika pesanan bukunya tiba. Atau mereka datang membawa alasan bahwa mereka benar-benar lupa membawa uang. Orang jenis ini mudah sekali untuk dikenali, mereka selalu datang dengan omongan besar dan mengelilingi seluruh rak buku tanpa membeli satu pun buku.

Mereka juga punya kebiasaan menumpuk buku pesanannya, satu-satunya cara menghadapi pembeli semacam ini adalah dengan menunggunya pulang dan mengembalikan seluruh buku pesanan yang telah ia tumpuk ke rak buku semula. Anda tahu, jenis pembeli buku semacam ini merasa dirinya sudah sangat berguna dengan hanya memesan dan tanpa membeli.

Namun pembeli yang paling sering berkunjung adalah mereka yang ingin mengetahui seluruh isi cerita dalam buku-buku yang ia tanyakan. Mereka cenderung ingin menguji, seberapa tahu penjaga toko dengan buku-buku yang ia jual. Hal itu, membuat saya memiliki kebiasaan setiap hari membolak-balik buku hanya untuk menghapalkan seluruh inti sinopsis buku-buku. Karena saya yakin tidak akan mampu dan tidak akan bisa menamatkan seluruh buku yang dijual, jadi satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan membaca sinopsis belakang buku atau membaca ulasan bukunya di internet. Itu adalah pekerjaan yang melelahkan. Tapi tentu saya lebih memilih menyiksa diri seperti itu ketimbang kehilangan pelanggan.

Hal yang membuat saya senang saat menjaga toko buku, bahwa sedikit sekali orang yang mau mencuri di toko buku. Selama menjaga toko buku, seingat saya hanya dua buku yang berhasil dicuri pembeli, Dunia Sophie Jostein Gaarder dan Sayap-Sayap Patah Kahlil Gibran. Yusman tidak terlalu merisaukannya, ia malah punya pikiran, bahwa orang sejenis itu barangkali mereka yang mau sekali membaca buku tapi sama sekali tidak memiliki uang. Saya juga bahagia bisa menjalin banyak pertemanan dari para pembeli buku yang suka berdiskusi di toko buku dan memang betul-betul tahu buku-buku bagus. Jenis ini yang paling sedikit mendatangi toko kami.

Apakah saya pernah berpikir untuk terus menjual buku atau mendirikan toko buku? Jawabannya tidak. Tentu saja terlepas dari kebaikan hati pemilik toko buku yang pernah mempekerjakan saya. Saya menemukan banyak alasan untuk hal itu. Menjadi penjual buku membuat saya memiliki waktu membaca lebih sedikit, saya harus berhenti membaca setiap kali pelanggan datang. Dan seringkali tidak memiliki waktu membaca di malam hari karena harus beristirahat lebih awal. Saya juga menjadi lebih jarang menulis dan konsentrasi saya mudah sekali buyar.

Saya tiba-tiba sering membenci banyak orang karena menemukan fakta bahwa terlalu sedikit orang-orang yang datang membeli buku bagus. Bahkan buku-buku penulis sastra dunia yang seringkali diagung-agungkan di belahan dunia, menjadi jenis buku yang lama tinggal di rak-rak buku jualan. Trauman Capote yang menulis dengan bagus buku In Cold Blood, bahkan meski diobral murah tidak membuat pembeli mau menyentuh apalagi memilikinya. Buku itu bernasib sama dengan buku-buku kumpulan cerpen kompas. Saya musti mengakui, di toko buku, bukan buku puisi yang paling jarang laku, melainkan buku cerpen.

Saya bahkan melewati masa-masa ketika seringkali membenci melihat ribuan buku-buku tersusun di rak dengan debu-debu yang tiap hari menempelinya. Buku-buku itu bahkan sama sekali tidak berhasil membuat saya berminat untuk membacanya sedikit pun. Saya juga berhenti mencintai kebiasaan lama saya, menciumi buku-buku setiap membukanya pertama kali.

Kini saya membeli buku yang hanya betul-betul akan saya baca dan tidak bisa saya pinjam di teman lain. Paragraf ini adalah kenyataan yang paling menyakitkan, saya curiga, jangan-jangan saya menjadi seperti itu karena setiap malam, sebelum tidur saya telah membayangkan bagaimana setiap hari harus menghadapi beragam pembeli buku yang menyebalkan. Dan itu selalu berhasil membuat saya ketakutan. Ternyata, saya tidak setabah Yusman.

Facebook Comments
No more articles