Andai saya presiden, mungkin saya sudah dikudeta, kalau saya buruh mungkin dibunuh seperti Marsinah, dan kalaupun saya aktivis mungkin bernasib sama dengan Wiji Thukul dan kawan-kawan aktivis 98 yang diculik tim Mawar. Beruntung saya karena terlahir sebagai orang yang biasa-biasa saja, hidup datar dan tidak punya dinamika kehidupan yang dahsyat. Pagi berangkat ke sekolah, sore lanjut mengajar lagi, dan malamnya ngopi, itupun kalau sempat dan tidak capek.

Ngeri sekali Indonesia ini yah! Tapi sekarang saya masih optimis kalau Indonesia bisa berbenah dari desas-desus yang dikabarkan orang atau yang dilansir berbagai media. Bahkan yang digambarkan Mas Puthut di dalam karya termutakhirnya Enaknya Berdebat Dengan Orang Goblok yang baru saja saya tamatkan. Sebagian dari tulisan itu juga sudah saya nikmati di Mojok.

Mas Puthut sedang berdakwah dalam bukunya, membacanya, membuat kita jadi wawas diri, membuat kita lebih paham penyakit sosial yang sedang diderita Indonesia, dan buku ini menjadi inspirasi saya menulis tulisan ini. Ah betul-betul Mas Puthut jadi penceramah yang baik dalam bukunya. Saya yakin kalau Mas Puthut membentuk kelompok pengajian pasti banyak yang hijrah dan punya banyak jamaah, seperti Cak Nun. Hijrah sesungguhnya, bukan yang seolah-olah, kayak mereka itu!

Hijrah jadi kiri itu seksi. Terkadang saya sering diolok-olok oleh teman saya berkaitan dengan judul yang saya bubuhi di atas. Teman saya bertanya begini “kenapa, buku itu dibaca?” Saya lantas bertanya balik sambil mengernyitkan dahi dan menatap heran teman saya “memangnya kenapa?”

“Buku itukan mengandung paham komunis, kamu tahulah komunis bagaimana, ateislah, iblislah, perusak negaralah, makanya banyak tokoh-tokoh komunis yang ditembak mati. Apa kamu mau bernasib sama?”

“Begini kawan, masa hanya karena membaca buku ini saya dituduh komunis. Tidak adil menurut saya kalau kita menilai seseorang tampak dari sampulnya. Kalau kamu pernah menonton PK, film drama komedi satir India, pasti pola pikirmu tak seperti ini. Film itu punya simplifikasi yang bisa menjawab keresahan kamu. Satu lagi, pola pikirmu seperti ini menganggap orang yang anti Arab juga anti Islam.”

Saya melanjutkan “di era sekarang kita gampang menyalahkan orang, parahnya, orang yang tidak membaca menghujat orang yang telah membaca bertumpuk-tumpuk buku dan orang yang tak punya karya menghujat orang yang sudah menulis beberapa buku. Dan soal kematian tragis yang kamu maksudkan itu, saya lebih mau mati dalam keadaan tragis dan dikenang banyak orang, daripada mati biasa-biasa saja tapi cepat dilupakan, atau mati dengan gelar pemimpin terkorup di dunia. Kamu mau bangsat?” Astaga, tuhkan keluar kata-kata kotor lagi.

Olok-olokan kedua datang dari kamerad saya, ia seorang gusdurian, sangat manusiawi, tapi soal sepakbola ia kadang tak berlaku adil sejak dalam pikiran apalagi perbuatan, dan ia penganut Messi FC. garis keras, eh salah Barcelona. Kamerad saya mengeluarkan pendapat saat sedang menyaksikan final Liga Champions antara Liverpool dan Tottenham, ia mengatakan, “Kapan  MU seperti ini, kamu tidak bosan menikmati romatisme sejarah?”

Saya tertawa saja mendengarnya, saya menyarankan kepada seluruh wanita di seantero dunia, hati-hati menikah dengan orang macam kamerad saya itu karena sewaktu-waktu kamu bisa saja dicampakkannya begitu saja tatkala kamu sedang mengalami keterpurukan seperti yang dialami MU. Kamu mesti menaruh curiga kepada orang yang menyukai klub sepak bola, seperti Barcelona dan Madrid, klub yang terus berada di pucuk prestasi.

Tak ada yang menjamin kalau mereka tetap kukuh pada Barcelona atau Madrid ketika klub itu mengalami fase seperti apa yang dialami MU. Kalau sayakan sudah terjamin haha. Saya tak pernah meninggalkan MU dalam suka maupun duka. Maaf kamerad, hanya dalam tulisan ini saya bisa membalas kamu dengan telak karena saya tidak bisa mengimbangimu berdiskusi ketika kita sedang menyeruput kopi. Saya akui kamu cerdas.

Olok-olokan yang terakhir datang dari sahabat saya yang katanya pakar cinta, betapa sombongnya orang itu. Ia ngomong seperti ini, “Berhenti menyakiti hati perempuan, jangan jadi penjahat dalam hal cinta karena tiap kali kamu jadi penjahat, kamu pasti menuai kegagalan.”

Saya hanya manggut-manggut saja mendengarnya. Sia-sia menjawab pertanyaan orang macam itu. Seseorang yang merasa dirinya paling baik di antara orang-orang baik sulit untuk mengajaknya ngobrol. Ia tampaknya melampaui Tuhan. Gampang melabeli orang penjahatlah, kafir cintalah, atau apapun semacamnya. Kawan, hal seperti itu adalah lika-liku dalam kita bercinta. Kalau tak mau disakiti atau menyakiti, jangan sekali-kali terjun dalam dunia silat percintaan. Sahabat saya tidak tahu kalau saya juga pernah berkali-kali patah karena perempuan.

Cinta itu sebuah misteri, maka tak heran sebagian orang mengatakan cinta itu buta karena cinta dapat membuat kita jadi malaikat atau iblis. Beda lagi kalau kita mengaitkannya dengan mazhab cinta Haidar Bagir yang penuh dengan ketenangan dan kedamaian. Cinta yang dipaparkan oleh beliau sudah sangat begitu kompleks. Nah, saya tegaskan sekali lagi cinta yang saya bahas ialah perseturuan antara hati laki-laki dan perempuan.

Tipe orang seperti sahabat saya ini sudah masuk dalam kategori egois tingkat akut. Mengapa demikian? Seseorang yang tak mau menyakiti, secara langsung juga tak mau untuk disakiti, dan kalau ia disakiti, ia menjelma bak harimau ganas yang akan menerkammu kapan saja. Percayalah! Pada dasarnya kita semua sama, sama-sama penjahat juga sekaligus pencuri. Memikat hati perempuan sama saja mencurinya dari orang tua mereka.

“Hanya ada satu kejahatan di dunia, yaitu mencuri. Selebihnya ialah variasi dari kejahatan tersebut.” Begitulah kita belajar dalam kutipan dialog film The Kite Runner. Oh iya, saya juga pecinta film bollywood. Film yang selalu menguras emosi. Hati saya juga peka, kawan. Tak sebejat yang kamu kira. Hiks!

Facebook Comments
No more articles