Di waktu bersamaan, ada satu konten dari salah satu channel YouTube lokal yang menarik sekaligus mengendurkan perhatian saya. Kejadian itu bermula ketika kami tengah berlibur, berusaha menghabisi pekan dengan jejak filosofis, atau ala manusia filantropi—menunggu pertandingan pekan kedua Shopee Liga 1, PSM Makassar melawan Perseru Badak Lampung FC, bersama kawan-kawan, sambil mengakhiri pekan yang begitu membosankan. Pertandingan Ayam Jantan VS Cendrawasih Jingga berwujud badak itu disiarkan live streaming salah satu platform kompetitor YouTube saat ini. Hasilnya sudah bisa Anda tebak.

Sebagai pengidola sekaligus pendukung PSM sejak dini, dari zaman bung Bosco siaran langsung di radio idola kakek, Radio Republik Indonesia, Tris Irawan, Ricky Jo, generasi yang lebih revolutif macam Rendra Soedjono, Adi Yani, Bung Hadi Ahhay Gunawan, Valen jebrettt hingga bung-bungan yang nongol di via streaming saat ini, saya jarang melewatkannya.

Di sela-sela tontonan, platform itu tiba-tiba rewel dan menjengkelkan alias buffering, mengganggu stabilitas kenyamanan kolektif dan keabsahan kami fokus pada bola dan aksi-aksi Pluim CS. Di kolom live chat, lebih rewel lagi dan kukira Anda bisa dengan mudah menebaknya. Sajian apa adanya gerangan. Saya tidak perlu mengulik pembicaraan kawan-kawan itu di luar sana, pokoknya lebih rewel dan menyenangkan.

Umpatan, sudah seperti kebanyakan orang, menganggapnya sebagai media sosial yang tak memerlukan kuota. Sistem operasinya bersumber dari alat ujar dan satuan bunyi, lebih nikmat lagi jika dilakukan dengan cara spontan dan kasar. Dan positifnya, semua itu gratis. Menarik bahwa umpatan di era sekarang sudah bermacam-macam, baik secara rasa, maksud, dan motif. Jangan tanya fungsi dan tujuannya, di berbagai tempat, alamat, ruang, dan waktu atau kolom live chat tadi, umpatan-umpatan tadi itu abadi sekaligus berkembang, sebagai frasa, klausa, ataupun teks dengan konteksnya yang beragam. Zaman berganti, umpatan ada lagi.

Laptop tuanya masih dioprek, saya meliriknya cuek. Sebagian dari kami mengecek network speed provider yang masing-masing kami gunakan, “Aih lambat sekali,” timpanya. Ia lalu beralih ke YouTube, “siapa tahu ada di sini,” kursornya mengklik salah satu video secara acak, saya menduga tanpa bermaksud memproteksi, maksud yang jelas, mengecek kecepatan operasional jaringannya. Saya terdiam sejenak saat mendengar opening dan suara narator dalam video itu dan langsung menimpalinya, Pendapatan Bencong Panaikang – Teras Kost TV, begitulah kira-kira judulnya. Songkolo’ betul ini channel! Apakah saya barusan mengumpat?

Video yang berdurasi 11 menit 13 detik itu menyajikan konten yang cukup unik dan referensial. Sajiannya dibuka oleh dua pemuda dengan setelan jas, di tengah minim cahaya, mereka menuruni mobil berwarna jersey utama PSM, menyambangi salah satu tempat monumental di kota Makassar, kuburan Panaikang, yang tepat berada di jalan Urip Sumihardjo, tak jauh dari tempat Nurdin Abdullah berkantor. Untuk yang baru mendengar istilah kuburan Panaikang dengan adagium, simbol, dan dinamika sosial budayanya, selamat! Fix Anda masih amatiran, alias newbie.

Mereka membuka narasi bombastisnya dengan dialek yang kental, sesekali encer, dan cukup mengkhawatirkan, utamanya bagi penonton yang berasal dari etnis lain. Beberapa penyebutan untuk diksi tertentu kadangkala kelebihan huruf ‘G’ untuk pada kata ‘jalan’ dan kekurangan huruf ‘G’ untuk pada kata ‘bencong’. Dilengkapi dengan pengucapan ‘E’ untuk epepet dan etalin kadangkala tertukar. Hm apakah mereka mengumpat?     

Berbekal minuman panter dalam kemasan gelas dan sebatang rokok surya, dua pemuda tadi melangsungkan aksi interview on field ala Aiman Widjaksono, seperti dalam program Aiman di kompas TV, mewawancarai narasumbernya tepat di lapangan dengan pertanyaan yang super eksklusif, ekstra klise, dan sedikit rasial disertai jokes yang gabut.

Mba’ Novi, begitulah nama lapangannya. Ia memulai impresinya dengan memperkenalkan diri seperti orang-orang pada umumnya. Meskipun saya meyakini belio bukan imigran dari tanah jawa, baginya, sebutan ‘Mba’ di depan sapaan akrabnya di tempat kerja, jadi indikasi bahwa motif keberadaannya di jalan Panaikang dan sekitarnya sebagai identitas mencari uang, hidup, sama seperti Mba’-mba’ lain di jalan yang lain. Yang membedakan hanya cara, jalan, dan jalanannya. Baginya, kuburan Panaikang dan sekitarnya bukan saja penanda taman makam pahlawan semata, yang diziarahi pendoa di hari-hari tertentu, atau pasar yang menjajakan berbagai tanaman hias, kuburan panaikang sudah seperti aset, investasi, atau ladang baginya meraup rupiah, meraih hidup.

Berdasarkan pengakuannya, waria bernama asli Adi itu telah bekerja di kuburan Panaikang selama 4 tahun, sejak umurnya masih menginjak 21 tahun. Tiga tahun bukan waktu yang singkat, kalau Anda punya seorang kenalan kelas satu SMP, saya yakin kini ia sudah bersuami, kalau benar sudah menikah di tahun-tahun berikutnya.

Respect ka’ saya, salah satu kawan saya berujar kata itu. Rokok surya di tangannya ia hisap dalam-dalam, “humanis ko memang kau, sodara”, apakah itu umpatan? Tentu saja bukan, semacam ketidaksanggupan atau kesedihan, barangkali, terlebih lebih lanjut mendengar pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban pengakuan Adi berikutnya. “Ini kerja sampingan ta’? ato ada kerja utama ta’, dosengkah..”

“Sampingan!” jawab Mba’ Novi, singkat.

“Kalau pagi? Dosen?”

“Salon”

Sudah diprediksi. Saya kira modal usaha menjadi canti’ saja tidak cukup, jiwa wirausaha juga harus terpantik, membara. Ia melanjutkan ceritanya, kini sedih nadanya. Sebagian dari pengalaman-pengalamannya saat bekerja, “biasa pelanggan saya kalau sudah main, langsung lari.” Ia menjeda. Betul-betul, sudah menang langsung lari. Saya langsung teringat masa lalu. Mungkin juga masa bermain Anda, yang tidak jauh beda dengan masa kecil saya. Seperti salah satu rangkaian peristiwa masa kecil, alkisah suatu sore jelang magrib, teman saya menang telak dan menggondol setengah botol kelereng saya, dengan sepihak, ia mengakhiri permainan kami dengan alasan yang masuk akal, namun sulit diterima,

“maumi malam.”

Napas ia tarik, rokok dihisapnya lamat-lamat, “tidak bayar.” Mba’ Novi melanjutkan jedanya. Hm pabalu’ ternyata. Sikap marah tentu saja jadi opsi tunggal. Sikap mutlak yang spontan. Siapa yang tidak marah, jengkel, atau emosi dengan sikap dan mental kadal seperti itu. Mental lari setelah menang. Pergi setelah mendapatkan. Menindas setelah berkuasa. Menjerit ketika ditindas. Jaman sekarang, mental itu masih hilir mudik, melekat di sendi-sendi relasi yang tampak etis tapi sebenarnya kian politis.

Lebih lanjut ia buka-bukaan dengan omset atau pendapatan yang biasa didapat. “Semalam bisa dapat sampai 200 ribu”. Wui, dikali 30 hari, artinya 3 juta/bulan. Gaji PNS golongan II dan III lewat, tenaga honorer sudahmi. Tapi jangan salah kira dan tanya pengorbanannya.

Om Adi, atau mba’ Novi adalah satu dari sekian banyak subjek rasional yang terasingkan oleh realitas internal dan eksternal. Keberadaan atau eksistensinya merupakan bagian dari fenomena transgender, istilah umum untuk mengurai aktivitas peran sosial gender yang berkebalikan dengan nilai konvensional. Kemunculannya tidak tiba-tiba, seperti Anda bertemu seseorang dengan melempar botol dalam aplikasi Mi Chat, ia bisa dihubungkan dengan beragam peristiwa historis.

Bissu misalnya, di Sulawesi selatan, sosok manusia yang dipercaya punya kekuatan mistis, dihormati, dan jadi entitas penting dalam relasi sosial dan tradisional, ritual atau adat masyarakat. Sosok yang berperilaku feminin, kontras dengan fisiknya yang laki-laki. Para bissu pernah mengalami periode sulit seperti dianggap murtad, dicemooh, dan tak sedikit dibantai. Kita mungkin bertanya-tanya, mengapa ia mengerjakan pekerjaan sampingan itu. Apakah pekerjaan nyalon tidak cukup?

Mereka dipandang anomali, tabu, aib sosial, dan melanggar norma-normal dan moral-moral. Imbasnya banyak yang akhirnya diusir dari keluarga dan terputus dari akses pendidikan. Karena tak punya keterampilan yang memadai, disertai ada desakan kebutuhan finansial, maka tak sedikit yang menempuh jalan memutar nan terjal, dunia prostitusi alias jual diri atau nyebong. Unit kerja atau sektor formal seperti kerja kantoran mana mau menerima mereka!?

Lebah tidak mungkin hinggap di atas bunga tanpa nektar, pelacur waria tidak mungkin menjadi pelacur tanpa pelanggan. Faktanya hampir semua konsumen Mba’ Novi adalah lelaki, tua dan muda, bekerja ataupun nganggur—soal harga, asal cocok dan sepakat, gaspol!.

Dalam kamus psikologi yang disusun Raymond J. Corsini (2002) terdapat istilah “gynemimetophilia” yang merujuk seseorang secara seksual memiliki ketertarikan atau keterangsangan terhadap figur transvestit atau waria atau transseksual yang belum melakukan penyesuaian kelamin sebagai seksual partner.

Tapi kita bisa bayangkan betapa %$dw@# mba’ Novi kalau diantara pelanggannya, ternyata ada perempuan tulen, menyamar jadi laki-laki pula, motifnya mulia, menunjukkan Om Adi jalan yang lurus. Wallahualam.

Kami hanya tertawa, menghakimi, dan mendosakan orang-orang di jagat maya dengan umpatan di kolom komentar video itu. Kiranya apa yang bisa saya petik dari tiga pohon di atas; meski memetik belum tentu yang dimaksud adalah menuai, karena tak semua pohon memiliki buah—, dari kolom live chat, konten Teras Kost TV, dan fenomena transgender, dalam relasinya terhadap transformasi makna dan aspek-aspek kebahasaan lainnya, saya berhenti mengumpat ketika membaca umpatan nitizen yang budiman. Kini saya harus berlaku bijak, umpatan tidak selamanya digunakan hanya untuk mengumpat. Atau mengumpat tidak selalu dengan umpatan.

Kita bisa menggabar atau melukis dengan maksud mengumpat. Mendirikan bangunan dengan maksud yang sama. Hingga membuat platform digital untuk mengarsip gagasan dari sebuah diskursus. Kita bisa mengumpat dengan maksud menaikkan taraf perkawanan. Kita dapat mengumpat lisan maupun tulisan. Dan yang paling penting, mengumpat tidak dinilai dari kuantitas umpatan, tapi selapang apa dirimu menerima meski tak pernah memintanya.

Facebook Comments
No more articles