“Allah bersama kalian, berjihadlah saudaraku”

Pernyataan itu sebagai pembuka film Hotel Mumbai berdurasi 123 menit, tatkala sekelompok teroris sedang dalam perjalanan menuju Mumbai. Mereka mendapat instruksi dari seorang sosok yang misterius. Seketika saya teringat cerpen yang terbit di salah satu media digital. Cerpen itu ditutup dengan pertanyaan yang dapat menampar para jihadis. “Emak mau tanya satu hal, apakah ustad yang mengajarimu tentang jihad akan berangkat bersamamu?”. Para jihadis, silakan direnungkan sendiri pertanyaan itu.

Hotel Mumbai berhasil mengobrak-abrik emosi para penonton, termasuk saya. Membawa pada keharuan dan ketegangan yang luar biasa, sampai-sampai tak ada waktu melakukan hal lain. Popcorn dan cola yang tadinya saya pesan baru bisa dinikmati setelah film itu berakhir. Sejarah kelam itu digarap dengan padat, berisi, dan apik ditangan sutradara Anthony Maras.

Anthony Maras mulai merangkai plot dengan adegan brutal untuk mencuri perhatian penonton pada lima menit pertama. Pengeboman dan penembakan oleh sekelompok teroris di stasiun kereta, kafe, dan penyusupan ke dalam hotel Taj yang ikut bersama warga untuk mencari perlindungan akibat kepanikan dari serangan tersebut. Di dalam hotel itulah kisah kejahatan, kemanusiaan, cinta, dan toleransi mulai dipertontonkan ke publik.

Betapa mengaharukan, seorang pelayan hotel mengajari banyak hal tentang arti kemanusiaan, ialah Arjun. Sosok Arjun yang juga seorang kepala keluarga dengan hidup yang sederhana. Ia juga sedang menanti dan berjuang mencari uang untuk mempersiapkan kelahiran anaknya. Saat perjalanan ke hotel, Arjun sama sekali tak menyadari sepatunya jatuh di tengah jalan dan nyaris membuat ia tak bisa bekerja lagi. Berkat Tuhan, Obrei mengizinkan Arjun tetap bekerja dengan memakai sepatunya.

Obrei seorang kepala koki hotel Taj yang hampir memecat Arjun karena sepatu, juga turut andil dalam film ini. Selain mereka berdua, sosok Zahra dan David juga menjadi tokoh penting dalam film ini, mereka merupakan pasutri dan tamu kehormatan yang baru saja dikaruniai bayi mungil.

Penyusupan kelompok teroris itu, langsung melancarkan serangannya terhadap tamu dan staf hotel. Target yang paling dicari adalah tamu-tamu penting dari Inggris dan Amerika. Ini politik atau jihad? Sepertinya saya mengendus aroma-aroma politik permusuhan. Saat penyerangan, resepsionis hotel dengan gesit menelepon seluruh tamu untuk tidak keluar dari kamar di tengah-tengah penyerangan berlangsung tanpa memikirkan keselamatannya.

Satu perbuatan yang tak mungkin kita lakukan. Di sisi lain, Arjun sedang memimpin keselamatan tamu yang sedang menikmati santap malam di restoran hotel, termasuk David dan Zahra. Sayangnya bayi mungilnya tidak berada di tengah-tengah mereka. Akhrirnya David terpaksa harus meninggalkan Zahra untuk sementara waktu dan pergi menyelamatkan bayinya yang terjebak di dalam kamar bersama Sally, keluarga David.

David harus berani melawan ketakutan hanya untuk menyelamatkan buah hatinya dan berhasil menyusul bayinya kemudian terjebak di dalam kamar. Sementara Obrei, memimpin dan melindungi para tamu yang terjebak di dapur. Prinsip tamu adalah dewa yang selalu disampaikan kepada para koki tetap dijalankan disituasi seperti itu. Mahadahsyat!

Setelah sempat terjebak beberapa saat, David dan Sally dengan menggendong bayi keluar dari kamar untuk menyusul Zahra. Saat hendak menyusul Zahra, David berhasil ditangkap oleh teroris itu, untungnya Sally dan bayi David berhasil lolos dan sembunyi di dalam lemari.

David tak langsung ditembak, David disandera di salah satu kamar hotel karena arahan dari bosnya untuk menangkap hidup-hidup orang Inggris dan Amerika. Zahra gelisah karena memikirkan keadaan suami dan anaknya. Akhirnya Zahra memutuskan untuk pergi mencari David tetapi malah menuai masalah.

Zahra tertangkap bersama pengusaha Russia dan ikut disandera. Di sanalah Zahra bertemu dengan David dan para sandera yang lain. Kemudian teroris itu mendapat instuksi telepon untuk segera membunuh seluruh sandera itu. Target terakhir adalah Zahra. Karena ketakutan yang luar biasa, Zahra melantunkan kalimat syahadat.

Teroris itu tersentak dan ragu membantai Zahra karena mengucapkan syahadat, tetapi sosok misterius itu tetap memaksa agar Zahra dibunuh. Jihad macam apa ini! Konflik batinpun dialami teroris itu. Karena Zahra ternyata seorang muslim teroris itu tak jadi membunuhnya. Saya lantas berpikir bahwa teroris itu orang baik yang telah dicuci otaknya dengan iming-iming surga oleh orang yang tak bertanggung jawab.

Selama penyerangan itu, ada banyak sisi kemanusiaan yang bisa kita petik dan saya yakin tak banyak orang yang mampu bersikap seperti itu ketika dirinya ditimpa keadaan dan situasi yang sama. Yang mungkin banyak orang lakukan adalah mengurus diri masing-masing agar bisa selamat tanpa memikirkan keselamatan orang lain. Bahkan saya juga tak yakin dengan diri saya akan melakukan hal yang sama seperti para tokoh dalam film itu.

“Yes, yes, there are indeed good Chatolics—and good Muslims—all over the world,” kata tokoh Ateisme Baru, Richard Dawkins. Mereka adalah, kata Dawkins, “ones who don’t take their religion seriously.” Orang-orang beragama yang baik, menurut Dawkins, adalah orang-orang Katolik dan Muslim—dan pemeluk agama pada umumnya—yang tidak serius dalam beragama.

Pernyataan Dawkins secara tegas mengatakan umat yang serius beragama akan menjadi orang yang jahat. Hal yang terlalu berlebihan memang tak baik, termasuk dalam hal beragama. Fanatisme terhadap agama akan membuat kita buta, jahat, dan selalu menebarkan kebencian. Merasa diri kita paling benar dan tak mau menerima pendapat orang lain. Dengan begitu orang yang bersebarangan dengan kita akan dianggap musuh.

Facebook Comments
No more articles