Saya mengira keberadaan teori dapat menjadi marker untuk menelusuri sebuah karya. Kesadaran manusia terhadap suatu nilai mendorongnya untuk menakar objek tersebut. Masing-masing memiliki alat ukurnya. Proses seperti itu adalah kerja-kerja menyumblim. Hasil sublim itu lalu menjadi subjek baru dalam kepala.

Sebuah karya benar-benar menyentuh gerak kesadaran. Munculnya ‘apresiasi’ menjadi ruang gerak yang begitu bebas seperti anak-anak yang berkeliaran di taman bermain. Begitu ramainya. Belakangan fenomena ini seperti pertunjukan sirkus.

Apresiasi karya, terkhusus sastra, mesti memiliki pupuk yang baik untuk menumbuhkan pemahaman dan penghargaan—tidak lagi dalam sebatas pemujaan kosong. Saya sepakat apresiasi duduk di kursi diskusi.

Kerap kali hipogram karya, khususnya puisi juga sajak, berangkat dari potret peristiwa, mencomot kisah, dan menjadikannya sebuah fragmen. Itu terlihat di sajak Jembatan Karel, Praha; Marco Polo; Perisai Akhiles; Mishima; dan Pertanyaan-pertanyaan untuk Don Quixote dalam buku Fragmen karya Goenawan Mohamad.

Kecendrungan sajak-sajak di buku ini ialah naratif. Saya tidak dapat memungkiri bahwa Goenawan Mohamad juga menulis sajak ballada seperti ‘Dengan Sepatu Kecil Anak-anak Menyeberang’. Pola-pola berkisah nampak pada sajak-sajak yang berada dalam buku ini.

Seberapa jauh kisah bekerja untuk buku ini?

Pertanyaan ini muncul dalam proses saya membaca ‘Fragmen’. Pengisah dan penyair—dua benda unik yang memiliki pekerjaannya masing-masing. Kisah dituturkan oleh pengisah secara berulang-ulang. Sedikit istimewa, penyair memiliki kuasa masuk dalam pikiran orang untuk menyampaikan pikiran orang itu. Mungkin ini sebab mengapa Saut Situmorang menganggap si tua adalah penyair yang sok tahu.

Layaknya sebuah pondasi, latar sajak cukup mengonstruksi akan seperti apa penafsiran yang terbangun, sebab latar sajak memberikan suasana.

Bila ‘Fragmen’ ialah rumah—maka gambaran rumah itu adalah minimalis. Melihatnya secara bentuk sajak-sajak ini tersususn sebagai suatu bangunan yang ramping. Tentu penglihatan saya tidak dapat menentukan isi rumah seperti apa, bila hanya melihatnya dari luar saja. Saya perlu memasukinya.

Pola pengisahan sajak-sajak pada buku ‘Fragmen’ tidak membatasi diri sebagai ornamen yang melangkahi setiap ruang. Namun, melepas diri dari asumsi yang demikian—lalu menetapkan diri sebagai bagian dari susunan. Saya pikir, format itulah hingga Goenawan Mohammad menamai bukunya sebagai ‘Sajak-sajak Baru’.

Judul sajak ‘Jembatan Karel, Praha’ tampaknya menjadi warna buku ini. Kedalaman warna biru laut bagi saya cukup sebagai representasi. Dimensi sajak ini melukiskan sebuah tempat dengan citraan visual. Sebagai dorongan, sajak ini memiliki emosi yang cukup kuat.

Ke seseorang yang mungkin

menanti. Tapi siapa ia kenali? Lampu gas,

terang yang terbatas, paras

yang tak kembali—selalu singgah di lorong ini

Diksi benda-benda termaktub pada sajak ini menjadi medium yang mengantarkan bunyi sunyi ke tiap-tiap telinga. Benda-benda itu menghayati perannya sesuai motif mereka yaitu menciptakan suasana sunyi.

Pada dasarnya puisi adalah bunyi. Sehingga tidak mengherankan bila puisi berpindah tubuh ke dalam lagu. Kira-kira seperti itu penjelasan Sapardi Djoko Damono ketika saya menyaksikannya di Rumata’ Art Space pada pertengahan 2017. Saya lama terhenti di halaman 12 buku ini. Saya membaca berulang ‘Soneta Dua Dentang’ guna mendengar bunyi di sana.

Dua dentang pukul

pada tiang listrik

adalah dua keluh

dalam kekal

Begitu ekspresif tiruan bunyi itu dihasilkan oleh ‘Soneta Dua Dentang’. Unsur bunyi terkait pada soneta ini dapat membuat kita memain-mainkan tekanan bunyinya, sebab irama dan matra cukup tertib dari sekadar berbaris.

Sampai di sini, saya melihat Goenawan Mohamad bermain-main dengan peristiwa. Ia memperlakukan peristiwa bukan sebagai konklusi tapi bagaimana mendaur ulang sebuah peristiwa. Dengan emosi pada sajak-sajak di buku ini memang kuat. Bahwa kisah secara terus-menerus menampilkan dirinya sebagai simbol.

Tidak hanya terbatas sampai pada persoalan itu—suatu citra juga merupakan perwujudan yang mewakili sesuatu. Dua hal tersebut, simbol dan citra, akan membangkitkan metafor. Saya pikir, dengan permainan demikian Goenawan Mohamad sedang menunjukkan kisah untuk berkeliaran di seputar kita.

Saya teringat pada sebuah pertemuan di kelas ISM (Institut Sastra Makassar), saat itu Aslan Abidin menyampaikan, “Menurut ustad kita, Ernst Cassiser, manusia adalah animal symbolicum”. Berangkat dari The Allegory of The Cave mengantarkan saya pada sebuah perhentian: rupanya fragmen ialah Goenawan Mohamad memanipulasi dirinya dan juga kita.

Penulis: Alghifahri Jasin, mahasiswa sastra Indonesia Universitas Hasanuddin. Aktif dan bergiat di Institut Sastra Makassar dan Malam Sureq Makassar  

Facebook Comments
No more articles