Menjelang hari raya Idul Fitri biasanya intensitas komunikasi dengan kawan-kawan lama menjadi meningkat. Kadang ada saja kawan yang sudah menahun tak bertemu dan putus komunikasi, tiba-tiba menghubungi kita. Intensitas komunikasi itu seringkali berupa pembahasan mengenai pertemuan-pertemuan di hari raya nanti, atau paling tidak agenda bukber alias buka bersama, atau bahkan sesuatu yang lebih serius dan melibatkan banyak orang, yaitu reuni dengan kawan-kawan semasa sekolah. Hal semacam ini jamak dialami pada bulan puasa, terutama lagi oleh orang yang merantau atau mukim di tempat yang jauh dari tempat asalnya.

Alasannya tentu mudah ditebak, hari raya adalah momentum paling bagus untuk mengadakan pertemuan atau kumpul-kumpul. Selain hampir semua orang yang bekerja sedang liburan panjang, orang-orang yang pergi merantau atau bekerja di luar kota kembali ke kampung halamannya lagi untuk barang seminggu atau dua minggu. Tentu di hari-hari biasa akan sulit menemukan kesempatan seperti ini. Selain masing-masing orang sibuk bekerja juga tidak mungkin memanggil kawan-kawan yang sudah ‘bercerai-berai’, berbeda geografis, saling berjauhan, untuk dipanggilnya hanya demi kumpul-kumpul bersama teman.

Kalau yang mengajak kumpul-kumpul adalah kawan-kawan semasa sekolah, biasanya yang paling getol atau menjadi koordinator adalah dia yang dulu sewaktu masih sekolah selalu menjadi orang yang ‘berdiri di atas semua golongan’. Umumnya adalah orang yang punya pengaruh terhadap teman-temannya, misal ketua kelas, ketua geng atau juru damai yang disegani pada masanya.

Ketika memasuki bulan puasa, dialah yang membentuk kelompok kecil—di WhatsApp grup misalnya—yang melibatkan orang inti, yang dinilai mampu melaksanakan misinya. Dari kelompok inti inilah kemudian orang-orang bergerilya, mencari kawan-kawan lainnya yang selama ini tidak ada kabar atau lost contact. Dari kelompok inti ini pula akhirnya kawan demi kawan terhubung antara satu dengan yang lain hingga akhirnya tercapai kesepakatan untuk mengadakan pertemuan dan terbentuklah tim atau panitia demi terlaksananya apa yang kita kenal reuni.

Kata reuni, menurut KBBI pengertiannya adalah, “pertemuan kembali (bekas teman sekolah, kawan seperjuangan, dsb) setelah berpisah cukup lama.” Dari pengertian ini, kita tahu tak ada jumlah tertentu disebut sehingga pertemuannya bisa diklasifikasikan sebagai reuni, tetapi penekanannya lebih ke “pertemuan kembali setelah berpisah cukup lama”. Dan tentu saja orang yang berpisah tidak dalam waktu cukup lama dan bertemu kembali tidak akan digolongkan sebagai reuni. Mungkin tepatnya kangen-kangenan semata.

Dari pengertian itu pula pertemuan per individu atau kelompok kecil (dua atau tiga orang misalnya) bisa juga disebut reuni, dengan cacatan asal sudah lama tak berjumpa. Meski kini dalam praktiknya reuni lebih identik dengan pertemuan dalam jumlah besar terutama pertemuan dengan kawan-kawan semasa sekolah, yang biasanya tidak hanya melibatkan satu angkatan kelulusan tetapi bisa sampai lima-sepuluh angkatan. Dan kemudian menjadi paradoks dari pengertian reuni itu sendiri.

Bagaimana tidak, kalau satu angkatan yang tentu saja tidak saling mengenal dengan angkatan yang jauh ada di atas atau di bawahnya apakah masih disebut reuni? Tentu itu jika ditinjau secara keseluruhan, meski secara komponen kecil kata reuni masih tetap relevan. Misalnya orang yang satu angkatan lulus sekolah yang tak lain kawan-kawan sendiri.

Pada tahun-tahun lalu, terutama di era pra media sosial, reuni mungkin menjadi sebuah ajang yang sangat menyenangkan dan berkesan. Orang yang sudah tak saling bertemu antara satu dengan yang lain selama bertahun-tahun atau bahkan sampai puluhan tahun, dan masing-masing sudah tak saling mendapatkan kabar, tapi secara tak langsung masih diikat oleh masa lalu (oleh kenangan manis, pahit, maupun hambar) kemudian bertemu kembali dengan masing-masing dirinya membawa sesuatu yang berbeda. Membawa dunia baru. Bahkan secara fisikal masing-masing sudah banyak berubah. Yang dulu masih sama-sama muda belia, kini satu sama lain saling menyaksikan masing-masing sudah digempur oleh waktu sedemikian rupa sehingga sudah tampak perubahan secara radikal.

Di era media sosial, pertemuan kembali semacam ini mungkin sudah tak terlalu bermakna lagi. Meski kita sudah bertahun-tahun atau belasan tahun sudah tak bertema dengan kawan lama, terutama kawan-kawan sewaktu masih sekolah, melalui Facebook, Twitter, Instagram, dsb, kita menjadi terhubung dengan mereka. Dan mau tak mau kita mengikuti atau mengamati jejak hidupnya melalui media itu meski mungkin secara samar-samar.

Maka, meski kemudian terjadi pertemuan fisik, atau reuni, tentu tak akan ada kesan mendalam lagi atau nilai pertemuan itu sendiri sudah tak sebegitu megah sebagaimana sebuah pertemuan setelah perpihasan yang cukup lama. Memang mungkin masih ada semacam romantisme atau tepatnya meromantisasi masa lalu, tapi hal itu tak lebih sebagai ikatan semu semata antar personal yang pernah hidup dalam waktu dan tempat yang sama.

Kita ambil contoh, si A, misalnya, yang sudah lima belas tahun tak bertemu dengan si B. Tapi sekali waktu di kemudian hari keduanya terhubung oleh media sosial. Otomatis keduanya saling mengikuti kehidupannya yang lebih kini meski tidak langsung. Kegiatannya, perubahan fisikal yang bisa dilihat dari fotonya, kemajuan-kemajuan hidupnya, maupun sikap dan prinsipnya yang entah melalui interaksi langsung atau lewat celoteh postingannya.

Begitu setiap hari melalui media sosial. Maka ketika pertemuan fisik berlangsung, yang seharusnya menjadi momentum istimewa maupun menggetarkan dada akan menjadi biasa-biasa saja, mungkin datar saja, seperti halnya bertemu dengan teman yang tiap hari bertemu.

Tetapi terlepas dari persoalan itu, ada satu hal yang cukup penting untuk tidak dilewatkan dari celoteh tentang “pertemuan kembali”. Yaitu ketika kita bertemu kembali dengan kawan yang sudah lama berpisah, nyatanya kita tidak sedang bertemu dengan kawan lama kita itu sendiri, melainkan bertemu dengan orang baru. Baik berupa baru yang agak baru, maupun baru yang benar-benar baru.

Kita berpisah selama sepuluh tahun, lima belas tahun,  atau malah sampai dua puluh tahun. Tentu waktu sepanjang itu adalah waktu yang cukup membuat setiap orang mengalami beragam pengalaman, peristiwa, dan pelajaran, yang kemudian turut membentuk  kehidupannya, pribadinya, karakternya, posisinya saat ini, prinsipnya bahkan pandangannya pada hidup ini.

Tentu jangan heran ketika di masa lalu kita akrab dengan seseorang, ketika kini berjumpa kembali setelah puluhan tahun berpisah, keadaan menjadi sama sekali berbeda. Ada jarak, ada rongga, ada tembok samar-samar yang jadi penengah dan kemudian kita merasakan suatu hubungan menjadi tidak seperti seharusnya.

Ya! Kita sebenarnya bertemu dengan orang baru. Dan kita mesti harus saling ‘kenalan’ kembali. Satu-satunya hal yang mengikat mungkin hanya kenangan, hanya masa lalu. Selebinya tak ada. Itu pun kalau apa yang kita namakan kenangan atau masa lalu itu masih hidup di masing-masing kepala kita dan menjadi terhubung antara satu dengan yang lain. Kalau tidak?

Ya, kita sebagai sesama orang asing yang bertemu secara sengaja. Maka ada kalanya memang kita menganggap bahwa reuni itu tidak penting, sama sekali tidak penting. (Apa bedanya bertemu dengan orang baru lalu kenalan dan berteman.) Kecuali sebagai media untuk meromantisasi waktu yang sudah sedemikian lewat, atau sebagai ajang pamer pada kawan lama (yang sebenarnya orang baru) atas pencapaian-pencapaian mewah antara satu dengan yang lainnya. Dan yang tak mampu mencapai kemewahan-kemewahan dalam hidupnya tentu hanya akan mematung di pojok ruang pertemuan, menjadi penonton sebuah pameran yang sedang berlangsung.

Penulis: Kim Al Ghozali AM, tinggal di Denpasar dan bergiat di Jatijagat Kampung Puisi. Menulis puisi dan prosa.

Facebook Comments
No more articles