Suatu ketika, di kampus tempat saya menempa diri sebagai juru cerita. Kabar miring terdengar, sebuah komunitas di kampus melakukan pemukulan di sebuah acara yang ia helat sendiri. Persoalannya sepele, ia kalah dalam gelanggang pemilihan pucuk pimpinan. Massa yang mendukungnya merasa telah dicurangi. Lampu dipadamkan, kericuhan terjadi dengan cepat, saya mendengar penuturan dari teman saya, bahwa “kekalahan ternyata mampu membuat kursi terbang dan toilet menjadi tempat aman untuk bersembunyi”. Kalimat yang sungguh sempurna.

Kekalahan menjadi begitu menakutkan jika dihadapi oleh orang-orang yang tak memahami sedikitpun pentingnya belajar dari kekalahan. Mario Vargas Llosa, lelaki kelahiran Arequipa, Peru, dialah salah satu orang yang paling mengerti menghadapi sebuah kekalahan. Dulu, ketika ia berpikir harus memperbaiki negaranya dengan terjun langsung dalam pemilihan presiden. Ia mendaftarkan diri dua kali berturut-turut dan dikalahkan oleh lawannya yang kemudian pada saat memerintah negara Peru terkesan sangat otoriter, masyarakat Peru mengenalnya dengan nama Alberto Fujimori.

Mario Vargas Llosa pintar menggunakan akalnya untuk berpikir, dari kekalahannya, ia akhirnya menarik diri dari dunia politik dan memilih jalan penulis untuk menyampaikan kritiknya atas segala bentuk penindasan yang dilakukan pihak pemerintah waktu itu. Karya-karyanya kemudian yang membuatnya diganjar Nobel Prize pada tahun 2010. Andai Mario Vargas Llosa tak kalah dalam pemilihan presiden itu, mungkin namanya tak akan pernah disebut di penerimaan Nobel 2010 lalu.

Sementara Gur Dur, sewaktu diturunkan dari tampuk kekuasaannya. Ia tak diam di tempat, ia berkeliling mengunjungi para pendukungnya hanya untuk menyampaikan pesan agar darah tak perlu mengalir hanya karena persoalan membela dirinya. Gus Dur sepertinya sangat paham efek yang akan ditimbulkan dari suatu peristiwa kekerasan, dendam selalu ingin menemukan darah, dan itu menimbulkan sikap benci yang tidak akan pernah berhenti.

Alih-alih menghadapinya dengan kekerasan, Gus Dur meninggalkan sebuah pelajaran berarti untuk kita semua, menghadapi kekalahan dengan kekerasan hanya menunjukkan bahwa kita benar-benar kalah. Kemudian, mungkin kita akan teringat bagaimana para pendukung Ahok serentak menyalakan lilin tanpa mampu sedikitpun membendung tangisannya sendiri. Tiba-tiba kota menjadi begitu hening, Ahok dipenjara dan kita semua merasa kalah.

Jakarta, kota yang terus-menerus mendambakan suara riuh. Ia menjadi tempat yang begitu mendambakan suara jerit mayat. Dari Tragedi 65, ke peristiwa 98, sampai pada kejadian rusuh kemarin. Ia kemudian muncul di layar TV, berita-berita koran, dan memenuhi portal medsos kita. Ia masuk ke dalam rumah kita, sampai ke telinga, mata, pikiran, dan menimbulkan rasa cemas yang berlebihan. Seakan-akan dunia ini tak lagi memiliki stok kebahagiaan. Lalu kita bertanya, warna apakah Jakarta? Kau mungkin menjawabnya merah. Tapi merah seperti apa, merah hati atau merah darah?

Kita semua adalah makhluk yang kalah, Adam harus meninggalkan segala kenikmatan surga sebab ia kalah dengan janjinya sendiri untuk tak menyentuh buah terlarang. Nuh menerima kekalahannya tanpa bisa membendung air bah yang sempat menenggelamkan seluruh isi bumi. Ontosoroh di Bumi Manusia juga kalah, begitu pun dengan Pak Tua dalam novel Lelaki Tua dan Laut Hemingway. Ursula Iguaran dalam Seratus Tahun Kesunyian juga tak henti menerima kekalahan seluruh keluarganya, Dantes dan Henri juga mengikutinya di Monte Cristo dan Pappilon. Lalu, Chairil Anwar yang pesakitan merangkumnya dengan satu larik sajaknya yang pendek, tanpa sedikit pun belas kasih: hidup hanya menunda kekalahan. Dan dia melengkapi daftar orang-orang yang kalah itu.

Namun yang paling membingunkan adalah apa yang ada dalam pikiran orang-orang yang kalah di Jakarta, mereka bahkan tak segan memunculkan sikap utama batu, keras dan berbahaya—benda mati yang digunakan Qabil untuk membunuh Habil, peristiwa pembunuhan pertama yang kita ketahui, batu yang hanya terus berdiam diri ternyata bisa menumpahkan darah pertama di dunia jika dipegang oleh mereka yang menginginkan kekerasan.

Mengapa kekalahan selalu lebih sering berdampingan dengan kekerasan? Mengapa tubuh kita yang berasal dari lempung ini tak mau juga belajar dari air, menerima segala yang hanyut dan menenggelamkan semua benda berat yang selalu kita bawa: kebencian. Mengapa kita begitu tega menghabisi nyawa orang lain dengan beramai-ramai, sementara saat keluarga kita meninggal atau tertimpa musibah, tak pernah bisa kita menerima atau merelakannya.

Mengapa kita terlalu meninggikan diri sebagai manusia, padahal kitalah satu-satunya makhluk hidup yang ketika lahir langsung menangis. Binatang dan tumbuhan tak sedikit pun menangis saat menghadapi masa kelahirannya. Tapi manusia satu-satunya mahkluk yang diberi otak untuk berpikir agar mampu menghadapi hatinya yang keras seperti batu. Hasil berpikirlah yang membuat kita paham, bahwa tangan digunakan untuk bekerja dan kaki digunakan untuk berpijak. Tapi mengapa kita lebih sering menggunakannya untuk mengikuti kehausan kita dengan kekerasan. Pembelajaran apa yang sebenarnya kita dapat dari rutinitas menjalankan puasa?

Orang-orang yang kalah dan seluruh pendukungnya, barangkali kita bisa belajar arti kekalahan dari dunia sepakbola. Kemarin di Anfield Stadium, Liverpool harus menerima nasib buruk yang sepertinya tidak ingin meninggalkannya. Mereka selama dua puluh sembilan tahun berturut-turut puasa gelar Liga Inggris (1990-2019) dan barangkali akan melanjutkan ke-30 kali kegagalannya musim depan, liga yang membuat Steve Gerrard terpleset dan seluruh gol-gol trio Firmansa (Firminho, Mane, dan Salah) yang bejibun hanya membuat mereka membayangkan diri sebagai juara liga Inggris tanpa sedikit pun mampu memegang pialanya.

Tapi apa yang dilakukan para penggemar yang juga merasa kalah di stadium. Alih-alih turun ke jalan dan saling melempar batu, mereka malah membentangkan spanduk panjang untuk menyemangati tim kesayangan mereka yang telah berjuang mati-matian, dan bersabdalah mereka “you’ll never walk alone”. Belajarlah dari mereka yang telah khattam dengan kekalahan, sepuluh tahun kalah hanyalah waktu yang singkat, Liverpool mengalaminya dua puluh sembilan tahun berturut-turut (waktu lama yang bisa digunakan untuk mencicil dua rumah BTN), dan mereka masih bisa berkata “you’ll never walk alone”. Yah kau tak sendiri, Pruno!

Facebook Comments
No more articles