“Sundala’ko memang!” ucap lelaki itu berulang kali pada kekasihnya melalui telepon seluler. Ia marah karena perempuan yang katanya ia cintai itu tak kunjung menepati keinginannya untuk membelikan barang melalui online shop.

Si perempuan hanya diam sambil sesekali mengatakan, “Yah, saya yang salah”. Tetapi ia menjadi manusia paling sial di dunia, tak kuasa menolak permintaan lelaki yang ia sayangi, diwaktu yang sama juga punya kuasa untuk menuruti keinginan Si lelaki. Bagaimana tidak, ia masih bergantung pada orangtuanya dan belum memiliki penghasilan sendiri. Tetapi, lelaki keparat itu memperdayanya atas nama cinta.

Perempuan itu terus terjebak pada hubungan yang timpang dan penuh ketidakdilan. Saya bahkan membayangkan, bahwa kelak mereka berumah tangga ketimpangan itu terus berlanjut. Bagaimana tidak, saat masih menjadi sepasang kekasih saja, lelaki itu berbuat seenaknya. Parahnya, perempuan itu tak pernah melawan. Hal ini membuat membuat lelaki tersebut merasa punya legitimasi untuk melakukan kekerasan terhadap perempuan.

Mengapa kita mesti melawan? Pertanyaan tersebut sudah dijawab sejak ratusan tahun yang lalu. Akan tetapi, salah satu jawaban yang paling menakjubkan hadir melalui “social experiment” yang dilakukan oleh Marina Abramovic, seorang seniman asal Yugoslavia yang banyak membuat orang-orang tercengang.

Pada tahun 1974, tepatnya di Studio Morra, Naples, Italia, Marina membuat sebuah pertunjukan yang ia beri nama “Rhythm 0”. Sebuah pertunjukan yang membuat banyak orang menyadari tentang bagaimana hubungan kekerasan dan perlawanan.

Dalam pertunjukan tersebut, Marina berdiri diam selama 6 jam. Orang-orang yang datang pada pertunjukan tersebut boleh melakukan apapun kepada Marina. Kata kuncinya adalah “apapun” orang-orang itu lakukan terhadap dirinya, Marina tidak akan melawan selama masih berada di interval waktu 6 jam tersebut.

Di atas meja, tepat di dekat Marin berdiri, terdapat 72 jenis benda. Benda tersebut bermacam-macam, mulai dari benda yang menyenangkan seperti bunga hingga benda yang paling berbahaya seperti pisau dan senjata api.

Awalnya, hanya fotografer yang mendekat sembari mengabadikan diamnya Marina. Tetapi semakin waktu berjalan, saat orang-orang benar-benar mengamati bahwa Marin tidak melakukan perlawanan sama sekali, bahkan menerima semua yang terjadi pada dirinya.

Thomas McEvelley, seorang kritikus seni menyebutkan bahwa, “pas awal-awal biasa-biasa saja, membalikan badannya, mengangkat tangannya. Lama kelamaan semakin berani. Ada yang menyentuh bagian pribadinya”.

Lebih lanjut, Thomas mengatakan bahwa apa yang terjadi di jam-jam berikutnya sungguh mengejutkan. “Memasuki jam ketiga, seluruh pakaiannya telah robek karena pisau. Jam keempat, pisau tersebut diarahkan ke tubuhnya. Berbagai macam pelecehan seksual, meski tak parah juga dilakukan kepadanya. Atas dasar karena komitmen terhadap karyanya, ia tidak merespons perlakuan dalam bentuk apapun yang diterimanya.

Dalam keadaan tidak melawan, Marina mengalami kekerasan seksual, pelecehan, hingga hal-hal yang dapat mengancam nyawahnya. Hal ini tentu menjawab pertanyaan di atas, bahwa mengapa ada banyak terjadi kekerasan, karena mereka tidak melawan. Melawan pun bukan menjadi jaminan seseorang berhenti melakukan kekerasan, apalagi jika tidak ada perlawanan sama sekali.

Di dalam suatu relasi, pada dasarnya adalah relasi kekuasaan. Seseorang yang merasa memiliki dominasi yang lebih kuat, bahkan di dalam hubungan “pacaran” sekalipun, akan cenderung untuk melakukan kontrol terhadap pasangannya. Sialnya, ketiadaan perlawanan kadang berujung pada ketimpangan yang tak dapat ditolerir. Kekerasan seksual, kekerasan fisik, atau kekerasan psikis merupakan efek dari sebuah hubungan yang timpang.

Relasi sepasang kekasih di atas hanya menjadi catatan kecil. Di dalam lingkup sosial yang lebih besar, persoalan kekerasan ini pada dasarnya banyak dilatari oleh hal yang sama, yaitu tidak adanya perlawanan. Kekerasan akademik, kekerasan senior ke junior, pelecehan dosen ke mahasiswa, kebijakan yang tidak adil, bahkan di dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang yang tidak melawan cenderung akan menjadi korban kekerasan dan ketidakadilan.

Maka dari itu, sangat wajar jika terjadi konflik dalam suatu hubungan sosial, sebab kadangkala ada pihak atau oknum-oknum tertentu yang merasa punya kuasa lebih sehingga seenaknya saja memperlakukan orang-orang kecil. Maka dari itu, “melawan” adalah salah satu kata kunci untuk menghadapi kekerasan dan ketidakadilan.

Tidak hanya berakhir pada aspek melawan, dari social experiment yang dilakukan Marina juga mengungkap satu fakta lain tentang manusia. Usai pertunjukan (6 jam berdiri diam) Marina berjalan di sekitar orang-orang yang melecehkannya.

Ditemukan fakta bahwa orang-orang tersebut enggan menatap Marina secara  langsung. Orang-orang tersebut seolah tidak ingin terjadi kontak langsung dengannya. Apa makna dari semua itu bahwa orang-orang tersebut tidak ingin dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah mereka lakukan. Mereka sepertinya ingin melupakan bagaiamana mereka melakukan itu, atau menikmati apa yang telah mereka perbuat.

Sebagaimana yang dikemukakan Marina di dalam elitdaily bahwa “Karya ini mengunggkapkan kenyataan pahit tentang manusia. Karya ini menunjukkan betapa cepatnya seseorang bisa melukai orang lain saat situasi memberinya keuntungan. Betapa mudahnya melakukan hal yang tidak manusiawi kepada seseorang yang tidak melawan, kepada orang yang tidak melindungi dirinya sendiri. Ketika diberi kesempatan, ternyata orang biasa juga bisa berubah menjadi bengis.”

“Sundala’” kupikir itu kata yang tepat bagi siapapun bahkan termasuk diri saya sendiri jika menjadikan kasih sayang, cinta, perhatian, sebagai alibi untuk melakukan kekerasan dan ketidakadilan terhadap seseorang.

Seharusnya tak ada cinta yang aktualisasinya adalah kekerasan, ketimpangan, dan ketidakadilan. Logika sederhananya, bagaimana mungkin dia melukai orang yang dia sayangi, kenyataan yang sebenarnya adalah hanya kau yang menyanginya, dia tidak.

Belajarlah untuk melawan, sekecil apapun ketidakadilan itu. Kupikir inilah yang menjadi alasan Pramoedya Ananta Toer menutup novel Bumi Manusia-nya, “kita sudah melawan, nak, nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” Ya melawan!

Facebook Comments
No more articles