Seorang kawan, sebutlah namanya Cebong memiliki seorang kekasih bernama Kampret. Cebong adalah seorang lelaki yang kharismatik, memiliki seorang kekasih yang setia. Kesetiaan dalam diri Kampret kemudian disalahartikan oleh Cebong. Baginya, kesetiaan membuatnya berpikir untuk bisa melakukan apapun, termasuk melukai hatinya.

Berkali-kali, dan berulangkali Cebong membuat luka pada hati Kampret. Tetapi cinta yang dimiliki Kampret membuatnya tetap bertahan. Hal itu terus terjadi berulangkali sebab Cebong berpikir bahwa Kampret tidak akan meninggalkannya. Tak akan pernah, sebab sudah pasti ia dicintai oleh Si Kampret.

Semua kemudian berubah. Ternyata, setelah berulangkali disakiti, Kampret memilih pergi dan tak pernah berpikir untuk berpaling kembali kepada Si Cebong.

Kesimpulan dari kisah Cebong dan Kampret pada dasarnya cukup sederhana. Seseorang yang paling tidak pernah kita duga akan meninggalkan kita, pada dasarnya adalah orang yang paling rentang untuk meninggalkan kita. Terkadang kita memperlakukan seseorang dengan cara yang tidak sungguh-sungguh sebab kita merasa bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan kita. Akan tetapi, justru hal itu yang menjadi pangkal masalah yang menyebabkan seseorang akan pergi.

Di kampung halaman saya, seorang calon legislatif (Caleg) gagal melenggang ke kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Tentu saja penyebabnya adalah kurangnya suara yang didapatnya di Pemilu serentak ini. Hal menarik dari kisah caleg gagal ini adalah adanya peristiwa tak terduga persis seperti pada kisah cinta Cebong dan Kampret.

Sebutlah namaya Caleg A, ia sibuk berkampanye ke basis lawan, sampai lupa dengan basisnya sendiri, terutama di kalangan keluarga-keluarga terdekatnya. Apa yang kemudian terjadi, keluarga dekat caleg tersebut justru berpaling kepada caleg lain sebab merasa lebih diperhatikan.

Si Caleg A yang kehilangan suara di daerah basisnya sendiri tentu awalnya merasa bahwa dirinya tidak akan ditinggalkan oleh keluarganya apalagi berpaling untuk mendukung caleg lain. Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya, ketiadaan kepedulian karena merasa sudah pasti didukung menyebabkan Caleg A ini mengabaikan keluarganya sendiri.

Persis seperti kisah cinta Cebong dan Kampret, kisah Si Caleg A ditinggalkan keluarganya untuk mendukung caleg lain karena alasan yang sama, bahwa Caleg A tidak pernah menduga akan ditinggalkan sehingga tidak mempedulikannya dengan serius.

Satu kisah lagi, jika pembaca lebih jelih membaca hasil-hasil survei, maka kecenderungan Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2019 ini cenderung memilih pasangan calon Prabowo-Sandi. Dari kacamata hukum konstitusional, seorang ASN meski bersikap netral, dan pada dasarnya mereka lebih dekat dengan pasangan calon (paslon) 01 yang jelas-jelas masih menjadi Presiden saat ini.

Penyebab dominannya mengapa kebanyakan ASN mendukung paslon 02 karena Jokowi sebagai presiden selama menjabat kurang lebih 4 tahun, sedikit kurang peduli terhadap ASN jika dibandingkan dengan periode SBY sebelumnya. Sebutlah misalnya hal yang paling sederhana, SBY menaikkan gaji ASN hingga empat kali dan bahkan besarannya hingga 15%. Sementara Jokowi, menaikkan gaji selama kurang lebih empat tahun hanya sekali dan pada saat menjelang Pilpres, itupun besarannya cuman 5%. Belum lagi kebijakan-kebijakan lain yang cenderung mempersulit kenaikan pangkat ASN.

Hal ini tentu dapat disimpulkan dengan sederhana, bahwa ASN sebagai bagian yang paling dekat dengan Presiden justru merasa terabaikan. Mungkin saja, Jokowi merasa bahwa ASN sebagaimana lelucon yang digaungkan Rudiantara “kalian digaji siapa? Pemerintah.” Maka dia meyakini bahwa ASN takkan berpaling pada Jokowi. Tetapi, kenyataan justru berbicara lain.

Ketiga fenomena di atas sangat kontekstual dengan apa yang pernah dituliskan oleh Luky Djani di Kompas pada awal tahun 2018 lalu, mengutip Justin Gest (2018) dalam bukunya The New Minority pada dasarnya secara kuantitas bukanlah orang minoritas. Tetapi mereka adalah orang yang merasa terpinggirkan di dalam satu kebijakan.

Minoritas baru ini merasa bahwa dirinya tidak lagi memiliki akses untuk berpartisipasi atau dengan kata lain merasa terabaikan. Seperti sepasang kekasih yang kemudian merasa asing dengan kekasihnya, seorang keluarga Caleg yang tiba-tiba merasa berjarak dengan Caleg dari kalangan keluarganya karena tidak diperhatikan, serta kebijakan Jokowi yang juga membuat sebagian besar ASN merasa menjadi orang yang termarginalisasi melalui kebijakan yang ada. Orang-orang minoritas baru inilah yang kemudian biasanya memiliki andil besar dalam mengubah situasi sosial politik.

Maka dari itu, sejak dini, saya menyarankkan kepada siapa pun yang berpikir untuk bertarung pada pemilu legislatif lima tahun mendatang, salah satu kuncinya adalah merangkum minoritas baru di dalam peta politik serta menjadikannya berperan di dalam kebijakan-kebijakan yang akan diterapkan. Menariknya bahwa minoritas baru ini bisa berasal dari kalangan mana pun, selama ia merasa terasingkan dan diperlakuan dengan tidak adil.

Tak ada yang lebih baik dari seluruh bentuk sikap kecuali kepedulian, entah kepada kekasih maupun kepada rakyat semesta jagad raya.

Facebook Comments
No more articles